Hancurkan Swarm Drone Kamikaze di Ketinggian Rendah, Iran Luncuran Ranjau Udara “Jaljaleh”

Sebagai negara yang berkonflik dan merasakan benar ancaman sabotase dari drone kamikaze (loitering munition) yang diluncurkan agen intelijen Israel di dalam negeri, maka Iran harus mempersiapkan skenario jitu untuk secara efektif menetralisir serangan drone kamikaze di ketinggian rendah yang menyerang dalam pola kawanan (swarming).
Baca juga: Kontrak Perdana di Timur Tengah: MBDA Amankan Penjualan Sistem Anti Drone Sky Warden
Dalam hal ini Iran terus mengembangkan solusi non-konvensional untuk mengatasi ancaman utama di medan perang modern, yaitu drone kecil, murah dengan mode FPV (First-Person View) yang sulit dideteksi oleh radar konvensional, maka konsep ‘ranjau udara’ mulai diadaptasi dengan sistem yang disebut “Jaljaleh”, yaitu mekanisme pertahanan udara yang unik, beroperasi di ketinggian sangat rendah dan berfungsi sebagai benteng pertahanan pasif atau semi-aktif.
Sistem ini didasarkan pada kebutuhan untuk menetralisir drone yang terbang rendah dan lambat, terutama drone FPV yang digunakan untuk serangan kamikaze.Sistem ini dapat diluncurkan secara cepat dari darat atau atap gedung.
Jaljaleh akan mendeteksi drone yang mendekat (melalui sensor inframerah atau radar mini) dan meledak ketika target berada dalam jarak tertentu, menciptakan pecahan peluru untuk menghancurkan drone.
🇮🇷A new Iranian anti-drone weapon:
The “Jaljaleh” air-defense mine can be launched up to 350 meters, with a blast radius of 5 meters and shrapnel spread up to 15 meters.
A pretty impressive system in action. pic.twitter.com/GodulGBgs4
— SilencedSirs◼️ (@SilentlySirs) November 27, 2025
Unit ranjau udara dapat diluncurkan dan mempertahankan posisinya hingga ketinggian 350 meter dari permukaan tanah, menjangkau zona kritis yang sering digunakan oleh drone kecil. Unit ini dilengkapi muatan peledak yang didesain untuk memaksimalkan efek fragmentasi. Setelah mendeteksi drone target, ledakan akan menciptakan radius blast (ledakan) efektif sekitar 5 meter dan menyebarkan fragmentasi (shrapnel) yang mematikan hingga 15 meter.
Jangkauan shrapnel 15 meter sangat efektif untuk memastikan kehancuran total drone yang terbang rendah di sekitar infrastruktur, bahkan jika drone tersebut tidak langsung berada di pusat ledakan.
Mirip Operasi “Jaring Laba-laba”, Israel Lakukan Serangan Drone Kamikaze dari Dalam Wilayah Iran
Karena beroperasi secara statis atau semi-statis, sistem ini tidak memerlukan kontrol real-time yang intensif, sehingga relatif kebal terhadap gangguan elektronik (jamming).
Pengembangan ranjau udara seperti Jaljaleh menunjukkan pergeseran fokus pertahanan Iran menuju perang asimetris.Sistem ini adalah solusi yang ideal dan hemat biaya untuk menghadapi serangan gerombolan drone) di mana sistem rudal hanud besar menjadi terlalu mahal dan tidak efektif.
Ranjau udara ini dapat ditempatkan di sekitar pangkalan militer, fasilitas nuklir, atau kilang minyak sebagai lapisan pertahanan terakhir yang pasif terhadap drone kamikaze yang terbang rendah dan menghindari deteksi radar besar. (Gilang Perdana)
Gunakan Drone Quadcopter, Israel Lancarkan Serangan ke Pabrik Militer Iran



“Sistem ini didasarkan pada kebutuhan untuk menetralisir drone yang terbang rendah dan lambat, terutama drone FPV yang digunakan untuk serangan kamikaze. Sistem ini dapat diluncurkan secara cepat dari darat atau atap gedung.”
Atap gedung? Mengingat secara keseluruhan saat ini (Mei 2025) di Jakarta ada lebih dari 3.600 gedung dan 149 gedung diantaranya dengan ketinggian di atas 150 meter, sejalan dengan proyeksi penambahan kekuatan TNI untuk keamanan berlapis, sistem anti-drone tersebut sepertinya cocok untuk diterapkan di sini 👍