Dalam lawatannya ke Tanah Air, Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, profesor ahli radar dari Universitas Chiba di Jepang, telah mengumumkan akan melangsungkan uji coba Hinotori (Firebird)-C1 mission, yakni penempatan perdana CP-SAR (Circularly Polarized-Synthetic Aperture Radar) pada pesawat jenis Cessna 182. Tak itu saja, Josaphat ternyata telah berhasil melangsungkan flight test radar CP-SAR dalam misi Hinotori-X1, dimana radar canggih tersebut dipasang pada pesawat intai maritim Boeing 737-200 Surveillance Skadron Udara 5 TNI AU. (more…)
Dari segi kelengkapan alutsista, Indonesia punya drone berkemampuan MALE (Medium Altitude Long Endurance) untuk misi intelijen, pengintaian udara, dan akuisisi target. Berdasarkan spesifikasi, drone paling mutakhir dioperasikan Skadron Udara 51 TNI AU yang menggunakan TUAV (Tactitcal Unmanned Aerial Vehicle) Aerostar buatan Aeronautics Defense Systems, Israel. Namun karena jumlah yang belum mencukupi dan ‘mungkin’ kapabilitasnya masih tertinggal dari drone intai negara tetangga, menjadikan peluang pengadaan drone TNI masih terbuka. Sebagai bukti, Thales UK dari Inggris belum lama ini dikabarkan telah mengajukan proposal penawaran drone MALE, Watchkeeper WK450 kepada pihak TNI AU. (more…)
Apa yang menarik dari keberadaan pesawat intai maritim? Sebagaian besar orang mungkin akan merujuk pada sosok radarnya, khususnya pada radar intai maritim yang menjadi pananda asasi dari sang pesawat. Umumnya radar intai maritim dibungkus dome (kubah) yang mencolok perhatian. Dan bicara tentang update radar intai maritim, platform CN-235 220 MPA (Maritime Patrol Aircraft) produksi PT Dirgantara Indonesia (PT DI) menjadi yang paling dominan di Tanah Air, setelah TNI AU dan TNI AL menjadi operatornya. Dan menapaki jejak radar intai maritim pada CN-235 220 MPA, setidaknya sudah ada tiga tipe radar intai yang digunakan. (more…)
Usianya tergolong sepuh untuk kelas alutsista strategis, pengadaannya boleh dikata seumuran F-5 E/F Tiger II yang kini sudah di grounded oleh TNI AU. Meski sudah hadir sejak awal tahun 80-an, pesawat Intai Maritim Boeing 737-200 (2X9) Camar Emas Skadron Udara 5 TNI AU faktanya masih terus dioperasikan, kesaktian pesawat yang terkenal dengan teknologi SLAMMR (Side Looking Airborne Modular Multi Mission Radar) justru mendapat peningkatan kemampuan yang signifikan, bahkan sensor terbaru yang dipasang membuatnya punya kehandalan setara pesawat intai maritim tercanggih, Boeing P-8 Poseidon. (more…)
Airbus Defence and Space (ADS) bisa dibilang manufaktur pesawat dan satelit yang cukup ‘terbuka’ berbagi info terkait produk yang dijajakannya. Tengok saja website airbusdefenceandspace.com, begitu menjelaskan tentang spesifikasi pesawat angkut, jet tempur, drone, sampai satelit. Terkhusus ke pesawat angkut sedang C-295, semua varian pesawat angkut yang juga digunakan Skadron Udara 2 TNI AU ini dijelaskan secara panjang lebar, kecuali C-295 varian SIGINT. (more…)
Otoritas Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) di Blang Bintang, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Jumat (24/3/2017) kemarin, mendapat tamu istimewa, meski datang tak diundang, namun yang tiba adalah pesawat “intai” strategis milik AU Amerika Serikat (USAF). Dari tampak luar, pesawat ini tak beda dengan pesawat sipil (komersial), maklum platform-nya adalah pesawat jarak jauh Boeing 707, tapi dengan registrasi AF62-3582, faktanya pesawat itu adalah WC-135 Constant Phoenix. Bila ditelusuri, pesawat dengan empat mesin ini punya predikat nuclear sniffer, alias pesawat untuk mendeteksi paparan radiasi nuklir. (more…)
Jelang berakhirnya periode MEF (Minimum Essential Force) II di tahun 2019, hingga kini Kementerian Pertahanan (Kemhan) belum juga diputuskan jenis pesawat AEW&C (Airborne Early Warning & Control) yang bakal diakuisisi, padahal waktu yang dibutuhkan untuk membangun platform pesawat baru AEW&C tidak bisa singkat. Dan belum lama berselang, muncul kabar bahwa Indonesia menyatakan minat pada salah satu pesawat AEW&C. Di luar prediksi, ternyata yang diminati Indonesia justru pesawat AEW&C DRDO Netra buatan India.
Dengan alokasi dana US$162 juta, di MEF (Minimum Essential Force) II periode 2015 – 2019, TNI AL mendapat kesempatan dari Kementerian Pertahanan (Kemhan) untuk menambah armada pesawat intai maritim (MPA – Maritime Patrol Aircraft). Dan merespon kesempatan tersebut, kini pihak TNI AL dikabarkan tengah melakukan pembicaraan dengan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) untuk kemungkinan pengadaan dua unit NC-212-200 MPA. Jenis pesawat intai ringan twin engine propeller yang sebelumnya telah dimiliki Puspenerbal TNI AL sejak tahun 2007. (more…)
Lama tak terdengar kabar tentang Boeing 737-200 Surveillance TNI AU, mengingat usia operasionalnya yang tahun depan bakal menginjak 35 tahun, beberapa orang ada yang bertanya, apakah pesawat intai twin jet andalan Skadron Udara 5 ini masih dioperasikan saat ini? (more…)
Sejak tahun lalu kebutuhan hadirnya pesawat angkut amfibi terus dikumandangkan, terlebih saat pesawat ini melakoni aksi water bombing mengatasi kebakaran hutan. Citranya tambah meroket saat pesawat amfibi digunakan dalam mendukung misi SAR di lautan lepas. Dari dua jenis pesawat yang berkompetisi, yakni Beriev Be-200 dari Rusia dan ShinMaywa US-2 dari Jepang, masing-masing punya keunggulan spesifikasi. Bahkan lebih jauh manufaktur pesawat yang didukung pemerintahnya juga mengaku sudah mendapat respon ketertarikan dari pemangku kebijakan di Indonesia. (more…)