Tragedi ‘Friendly Fire’ di Kuwait: Investigasi Mengarah pada Satu Hornet yang Jatuhkan Tiga F-15E Strike Eagle

Investigasi mendalam mengenai jatuhnya tiga jet tempur F-15E Strike Eagle milik Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) di wilayah udara Kuwait memasuki babak baru yang mengejutkan. Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis oleh Wall Street Journal dan diperkuat oleh sumber internal militer, dugaan kini mengarah kuat pada satu unit jet tempur F/A-18 Hornet milik Angkatan Udara Kuwait sebagai pelaku penembakan salah sasaran tersebut.
Insiden fatal ini terjadi pada dini hari tanggal 2 Maret 2026, di tengah situasi ruang udara yang sangat padat saat pasukan koalisi melakukan pencegahan terhadap gelombang serangan udara dalam operasi Epic Fury. Satu jet tempur Hornet Kuwait dilaporkan secara tidak sengaja mengunci dan menembak jatuh tiga jet F-15E AS dalam rangkaian peristiwa yang berlangsung sangat cepat.
Meskipun ketiga pesawat canggih tersebut hancur, seluruh enam awak pesawat (dua per pesawat) dikonfirmasi berhasil melontarkan diri dengan selamat dan telah dievakuasi.
Angkatan Udara Kuwait saat ini mengoperasikan sekitar 31 hingga 32 unit jet tempur tipe F/A-18C/D Legacy Hornet. Pesawat ini terdiri dari varian kursi tunggal (C) dan kursi ganda (D). Meskipun tergolong pesawat “tua” karena sudah bertugas sejak era pasca-Perang Teluk 1991, Hornet milik Kuwait bukanlah pesawat yang bisa diremehkan.
Radar AESA untuk F/A-18 Hornet “Classic” Uji Terbang Perdana, Bikin Siap Tempur Hingga 2030
Secara teknis, F/A-18C/D Hornet milik Kuwait telah menerima berbagai program pemutakhiran selama masa pakainya. Hal ini menjawab pertanyaan mengenai kemampuan persenjataannya, yakni Hornet Kuwait mampu meluncurkan rudal AIM-120 AMRAAM (Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile).
Berkat integrasi radar AN/APG-73 dan bus data yang modern, Hornet ini dapat melakukan serangan Beyond Visual Range (BVR) atau di luar jangkauan pandangan mata. Kemampuan inilah yang diduga menjadi faktor kunci dalam insiden tersebut, di mana rudal AMRAAM mampu mengunci target secara mandiri setelah dilepaskan, yang dalam kondisi kekacauan IFF (Identification Friend or Foe), justru mengarah pada pesawat kawan.
Kuwait Berat’ Melepas, Malaysia Lanjutkan Negosiasi Pembelian F/A-18C/D Hornet yang Sempat Tertunda
Menariknya, insiden ini terjadi di saat armada Hornet Kuwait tengah menjadi sorotan internasional karena rencana penjualannya. Pemerintah Malaysia telah lama menyatakan minat serius untuk memboyong seluruh armada F/A-18C/D Kuwait guna memperkuat Angkatan Udara Diraja Malaysia (TUDM). Malaysia mengincar pesawat-pesawat ini karena kondisi jam terbangnya yang relatif rendah dan pemeliharaannya yang sangat baik oleh pihak Kuwait dengan dukungan teknis AS.
Jika kesepakatan ini terealisasi, Hornet Kuwait akan menjadi tambahan kekuatan yang signifikan bagi Malaysia, mengingat kesamaan tipe dengan armada Hornet yang sudah dimiliki TUDM sebelumnya. Namun, insiden friendly fire yang baru saja terjadi diprediksi akan menjadi bahan evaluasi mendalam, baik bagi Kuwait maupun calon pembeli seperti Malaysia, terkait sistem koordinasi dan integrasi teknologi pengenal kawan-lawan pada platform tersebut.
Jet Tempur F/A-18D Hornet Angkatan Udara Malaysia Jatuh Dalam Latihan Terbang Malam
Saat ini, investigasi gabungan antara Pentagon dan Kementerian Pertahanan Kuwait masih berlangsung untuk menentukan apakah tragedi ini murni disebabkan oleh kesalahan manusia (human error) akibat tekanan tempur yang ekstrem, atau adanya kegagalan teknis pada sistem radar dan IFF yang gagal membedakan tanda tangan elektronik F-15E USAF dari ancaman musuh. (Bayu Pamungkas)



Boeing v Boeing. Lumayan menambah track record F/A 18, yang sering tersamarkan oleh digdayanya F 16 dan F 15. Boleh disematkan logo F 15E nya dibody gak ya?
Beneran human error, kesalahan teknis dan/atau adanya “penghianat” investigasi bakal lebih luas soal itu
” di mana rudal AMRAAM mampu mengunci target secara mandiri setelah dilepaskan, yang dalam kondisi kekacauan IFF (Identification Friend or Foe), justru mengarah pada pesawat kawan”
sudah banyak insiden fliendly fire sesama teman baik oleh as, rusia, ukraina selama ini.
adanya teknologi iff gak akan bisa menghilangkan friendly fire min
Sistem IFF (Identification Friend or Foe) bekerja seperti sistem “kata sandi digital” otomatis antara radar dan kendaraan tempur.
Bayangkan radar sebagai penanya dan pesawat kawan sebagai penjawab. Berikut prosesnya secara sederhana:
Interogasi (Tanya): Radar mengirimkan sinyal radio khusus ke arah objek yang terdeteksi di layar. Sinyal ini berisi pesan terenkripsi seperti: “Siapa kamu? Berikan kode keamanan hari ini!”.
Transponsi (Jawab): Jika objek tersebut adalah kawan, alat bernama transponder di dalamnya akan menangkap sinyal tadi secara otomatis. Alat ini langsung mengirim balik jawaban berupa kode rahasia yang benar.
Identifikasi (Hasil): Radar menerima jawaban tersebut dan mencocokkannya. Jika kodenya pas, objek di layar radar akan berubah warna (biasanya hijau atau biru) dengan label “FRIEND”.
Tanpa Jawaban (Musuh/Netral): Jika objek tidak menjawab atau kodenya salah (karena tidak punya alat IFF kawan), radar akan menandainya sebagai “UNKNOWN” atau “FOE” (musuh)
Intinya, di wilayah sekutu sekalipun, jika tekanan mental tinggi bertemu dengan kekacauan data di layar radar, teknologi secanggih IFF pun bisa gagal melindungi kawan dari peluru kawan sendiri
Bukannya upaya akusisinya sudah dibatalkan sama pihak Malaysia ya, karena masalah logistik dan software?
Admin,
Ada berita baru nih.
https://www.linkedin.com/feed/update/urn:li:activity:7434134297831399424/?
Bisakah diupload?
Plot twist dalam imajinasi saya :
Pilot kuwait ternyata punya orang yang disayangi yang tewas di Iran. Jadi balas dendam.
Hihihi. Jangan dianggap serius karena ini hanya imajinasi saya. Hihihi.