Shahed Drone SeriesKlik di Atas

Ajukan Permintaan ke Perancis, Turki Disebut Ingin Integrasikan Sistem Rudal Hanud SAMP/T ke dalam “Steel Dome”

Kabar yang satu ini boleh jadi akan membuat banyak orang bingung, pasalnya dengan pencapaian dan kemajuan sistem pertahanan udara (hanud) yang diraih oleh industri pertahanan Turki, bahkan dengan tawaran ekspor ke Indonesia, namun Turki rupanya masih menantikan persetujuan dari Perancis untuk bisa mendapatkan sistem rudal hanud jarak menengah SAMP/T.

Baca juga: Indo Defence 2024 – Aselsan Tawarkan Indonesia “Steel Dome” – Sistem Pertahanan Udara Berlapis dan Terintegrasi

Seperti yang dilaporkan Bloomberg pada 25 Juni 2025, pada pertemuan puncak NATO di Den Haag, Belanda, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan meminta Presiden Perancis Emmanuel Macron untuk mencabut hambatan politik yang terus menghalangi penjualan dan produksi bersama sistem rudal permukaan ke udara Eurosam SAMP/T.

Masalah tersebut mengemuka selama diskusi bilateral antara kedua pemimpin, di mana Erdoğan menekankan bahwa Turki, sebagai pasukan darat terbesar kedua NATO dan salah satu dari lima kontributor teratas bagi operasi aliansi, harus diizinkan untuk berpartisipasi dalam inisiatif pertahanan Eropa.

Eurosam SAMP/T adalah sistem pertahanan udara yang dipasang di truk yang dikembangkan bersama oleh Perancis dan Italia, yang menggunakan keluarga rudal Aster 30 untuk mencegat rudal balistik taktis, rudal jelajah, dan pesawat terbang.

Pejabat Turki menyatakan bahwa keputusan yang menguntungkan oleh Macron akan membuka kemajuan lebih lanjut dalam upaya Turki untuk mengoperasionalkan perisai pertahanan udara berlapis nasionalnya, yang dikenal sebagai Steel Dome, dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Erdoğan juga menggunakan kesempatan itu untuk mendesak para pemimpin NATO agar memberi anggota NATO non-UE (Uni Eropa), seperti Turki, peran dalam membentuk masa depan kerangka pertahanan Eropa. Dorongan Turki untuk menyelesaikan kesepakatan SAMP/T telah mendapatkan momentum dalam konteks meningkatnya ancaman regional. Setelah konflik 12 hari antara Israel dan Iran awal tahun ini, Ankara memperluas produksi sistem rudal jarak menengah dan jauh yang dikembangkan di dalam negeri.

Turki Luncurkan Sistem Pertahanan Udara Berlapis “Steel Dome”, Nasib S-400 Belum Pasti

Pihak berwenang Turki memandang akuisisi dan produksi bersama SAMP/T sebagai langkah yang diperlukan untuk melengkapi pengembangan pertahanan rudal nasional dan memastikan integrasi penuh dengan struktur pertahanan udara dan rudal NATO. Pejabat pertahanan Turki telah menyatakan kekhawatiran bahwa ketidakhadiran sistem Eropa yang berkelanjutan melemahkan interoperabilitas NATO di wilayah udara Turki, dan berpendapat bahwa penolakan Macron terhadap proyek SAMP/T terutama bersifat politis.

Sementara itu, Perancis belum mengomentari permintaan terbaru Erdoğan, pihak berwenang Italia mempertahankan dukungan mereka untuk kerja sama trilateral dengan Turki dan terus mendukung kelompok kerja bersama yang bertugas mempersiapkan produksi bersama.

Perancis Kirim Sistem Hanud Aster 30 SAMP/T ke Ukraina, Serupa yang Dioperasikan Singapura

Proyek bersama SAMP/T telah dibahas sejak Turki menandatangani perjanjian dengan Eurosam pada Januari 2018 untuk studi kelayakan awal selama 18 bulan. Tujuan dari perjanjian tersebut adalah untuk menilai persyaratan teknis dan mempersiapkan pengembangan bersama sistem pertahanan udara dan rudal jarak jauh yang disesuaikan dengan kebutuhan operasional Turki.

Perjanjian tersebut melibatkan perusahaan pertahanan Turki, Aselsan dan Roketsan, bersama dengan Thales dari Perancis, Leonardo dari Italia, dan konsorsium rudal Eropa MBDA. Namun, setelah Operasi “Mata Air Perdamaian” Turki tahun 2019 di Suriah utara, konteks politik memburuk, khususnya dengan Perancis.

Pada saat yang sama, akuisisi sistem S-400 buatan Rusia sebelumnya oleh Turki pada tahun 2017 terus memperumit hubungannya dengan sekutu NATO. Kontrak senilai $2,5 miliar dengan Rusia menyebabkan Turki dikeluarkan dari program jet tempur F-35 yang dipimpin AS dan sanksi AS berdasarkan Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA).

‘Standar Ganda’, AS Tawarkan F-35 ke India, Sementara Jegal Turki Karena Isu Sistem Hanud S-400

Pejabat NATO dan AS berpendapat bahwa sistem S-400, jika diaktifkan, dapat membahayakan data operasional sensitif dari pesawat sekutu, khususnya F-35. Turki belum mengaktifkan sistem tersebut dan menyatakan bahwa mereka terpaksa beralih ke Rusia setelah gagal mencapai persyaratan yang dapat diterima terkait sistem Patriot buatan AS. Pejabat Turki telah berulang kali mengatakan bahwa S-400 tidak akan diintegrasikan ke dalam infrastruktur NATO.

Menurut sumber-sumber Turki yang dikutip Armyrecognition.com, Erdogan mengatakan kepada Presiden AS Donald Trump selama pertemuan di KTT Juni 2025 bahwa Turki akan menggunakan S-400 secara terbatas dan hanya untuk kasus-kasus tertentu, dengan harapan dapat membuka kembali dialog untuk melanjutkan kerja sama dalam bidang pesawat tempur dan mencabut sanksi terkait pertahanan.

[the_ad id=”77299″]

Steel Dome, program pertahanan udara dan rudal nasional Turki, merupakan pusat strategi modernisasi pertahanan Ankara saat ini. Sistem ini dirancang untuk mengintegrasikan berbagai sensor, pencegat, dan aset komando dan kendali ke dalam jaringan berlapis yang komprehensif yang mampu menghadapi ancaman udara pada berbagai jarak dan ketinggian. Sistem ini mencakup elemen jarak pendek seperti senjata antipesawat gerak sendiri Korkut dan rudal portabel Sungur, serta rudal jarak menengah.

SAMP/T (Sol-Air Moyenne Portée Terrestre) yang ingin diintegrasikan ke dalam Steel Dome, adalah sistem pertahanan udara berbasis darat yang canggih, yang dikembangkan bersama oleh Perancis dan Italia. Rudal ini dirancang untuk melindungi terhadap berbagai ancaman udara termasuk pesawat terbang, helikopter, rudal jelajah, dan rudal balistik taktis.

Sistem yang merupakan singkatan dari “Surface-to-Air Missile Platform/Terrain” ini sangat mobile dan dapat dengan cepat dikerahkan ke berbagai lokasi. Rudal ini beroperasi bersama dengan keluarga rudal Aster, yang dirancang khusus untuk kemampuan intersepsi jarak menengah hingga jarak jauh. SAMP/T terkenal karena fleksibilitasnya dan merupakan bagian integral dari strategi pertahanan udara angkatan bersenjata Perancis dan Italia.

Rudal Aster 30, komponen utama sistem SAMP/T, adalah rudal permukaan-ke-udara next generation yang dikembangkan oleh Eurosam, sebuah konsorsium yang dibentuk oleh MBDA Missile Systems (perusahaan patungan Airbus, BAE Systems, dan Leonardo) dan Thales Group. Aster 30 adalah rudal jarak menengah yang mampu mencegat beragam ancaman pada jarak hingga 120 km dan ketinggian hingga 20 km.

Dalam satu baterai Aster 30 SAMP/T terdiri dari command and control vehicle, radar Arabel, dan enam unit peluncur alias Transporter Erector Launcher (TEL) vehicles dengan truk MAN TG 8×8. Setiap unit TEL terdiri dari delapan rudal Aster 30 yang dapat di-reload.

Setiap unit peluncur (TEL) ke radar Arabel dapat di setting hingga jarak koneksi 10 km. Arabel merupakan jenis radar 3D phased array untuk peran surveillance, tracking and missile guidance. Radar Arabel beroperasi di 8 sampai 13 Ghz X band (I/J band) dengan kemampuan mendeteksi 100 sasaran secara simultan dari jarak 100 km. (Gilang Perdana)

Tandingi Radar Hanud Patriot, Perancis Adopsi Radar 4D AESA Ground Fire 300 untuk Sistem hanud SAMP/T NG