Norinco VN3 4×4 – Punya Desain Mirip Panhard VBL, Inilah Rantis Lapis Baja Terbaru Pasukan Lintas Udara Cina

Yang satu ini bukan alutsista dengan efek deterens, namun yang satu ini adalah rantis lapis baja 4×4 yang notabene profilnya tak jauh beda dengan rantis-rantis lapis baja milik TNI pada umumnya. Tapi yang menarik, media Cina menyebut rantis di capture adalah batch pertama dari rantis lapis baja amfibi pesanan pasukan lintas udara (airborne troops) AU Cina. Disebutkan pula, rantis ini punya kemampuan untuk diterjunkan dari udara (air droppable).
Dikutip dari Janes.com (11/5/2020) yang melansir dari tayangan China Central Television 13 (CCTV 13) pada 8 Mei lalu, deretan 14 unit rantis lapis baja yang identik dengan Norinco VN3 telah diserahkan kepada brigade senjata gabungan dari Korps Lintas Udara AU Cina di Provinsi Hubei, Cina Tengah. Sosok yang diperlihatkan dalam tayangan TV merupakan rantis dengan lima pintu, yang oleh beberapa sumber menyebut, rantis itu sudah pernah diperlihatkan saat China AirShow 2018 di Zhuhai.
Di China AirShow 2018, rantis tersebut dipamerkan dalam varian armoured fighting vehicle (AFV) yang dilengkapi kubah tanpa awak yang dilengkapi kanon kaliber 30 mm, senapan mesin ringan 7,62 mm coacial, dan enam peluncur granat asap. Varian lain dari rantis ini adalah sebagai platform peluncur roket 122 mm dan peluncur mortir 120 mm. Namun, pada tayangan di CCTV 13, yang terlihat nampaknya adalah varian standar dengan senjata utama senapan mesin berat 12,7 mm konvensional.

Sekilas tentang Norinco VN3, rantis ini termasuk golongan light armoured vehicle (LAV). Beberapa analis global menyebut bahwa VN3 meurpakan tiruan dari rantis Panhard VBL buatan Perancis, jenis rantis yang juga digunakan Kompi Kavaleri (Kikav) TNI AD. Dugaan tersebut tentu ada alasannya, yang paling mudah dilihat, bahwa desain bagian depan kendaraan, termasuk desain pintu, mirip dengan Panhard VBL.
[the_ad id=”12235″]
Meski ada yang menyebut ‘jiplakan’ Panhard VBL, namun Norinco tak lantas meniru mentah-mentah. Pasalnya dimensi VN3 lebih panjang dengan bobot yang jauh lebih besar, yaitu 5,3 ton, sedangkan Panhard VBL berat tempurnya 3,59 ton. Volume internal yang lebih besar pada VN3, memungkinkannya untuk melakukan berbagai peran di medan perang yang lebih luas.

Struktur bodi VN3 dirancang mampu menahan terjangan proyektil kaliber sedang, dan bagian bawah kendaraan dapat menahan efe ledakan dari ranjau. Peralatan standar pada VN3 meliputi sistem pengereman anti selip, sistem perlindungan nuklir, biologi dan kimia (NBC) dan sistem deteksi kebakaran. Peralatan opsional dikatakan mencakup kemampuan amfibi, perangkat mengemudi dengan level cahaya rendah dan Global Positioning System (GPS).
Baca juga: Terjun Bebas dari Ketinggian 1.500 Meter, Begini Penampakan Ranpur BMD-1 Rusia
Dari spesifikasi, Norinco VN3 dengan mesin diesel dapat melesat hingga kecepatan 110 km per jam di jalan mulus dengan jarak jelajah sampai 600 km. Norinco VN3 punya panjang 4,6 meter da lebar 2,2 meter. Rantis ini diawaki dua personel dan dapat membawa tiga pasukan infanteri. (Gilang Perdana)



Kok cepet ya kalo berita dari Cina coba produk alutsista kita yg cepet beritanya nyampe sini, sdh saya ikuti ini
PANHARD VBL keren dan bs BERENANG . Perusahaan swasta kita bikin mirip kyk VBL tapi sayangnya belon bs berenang. Apa namannya yah??
Harusnya bikin disain yg bs berenang juga jadi nggak harus nunggu ZIPUR bikin jembatan dulu.
Aduh rantis kaleng2 gini di tabrak apc turangga juga uda terguling
Kaleng2? Asumsi atau Fakta?
Apakah Turangga air droppable? Yakin ga Turangga jadi kaleng beneran jika air droppable?
Ada “kemungkinan” benar seandainya versi expor tapi versi orisinalnya sih gue yakin Cina serius dalam menggarap alutsistanya karena mereka berkompetisi dgn AS bukan negara yg orang2nya suka sinis menyebut kaleng2.
Fakta:
Ada yg berani tabrak Kapal “Kaleng2” Type 054A Jiangkai Class pas di Laut Natuna waktu lalu?
Aku tengah soal copy paste.
Di dalam engineering tidak di kenal istilah copy paste. Kalau meniru produk lain, baik contoh produk ada atau tidak, yg harus dilakukan adalah memahami secara teknis. Proses ini yg di sebut reengineering.
Setidaknya mengeluarkan blue print – gambar teknis baru. Tidak mungkin sebuah produk langsung di buat tanpa membuat blue print, meski itu tiruan.
Blue print sendiri, yg tiruan ataupun tidak, jika tidak ada proses alih teknologi, mau tidak mau harus menguasai teknis/teknologynya.
Jika tidak menguasai, maka hasil tiruannya akan rendah kualitasnya. Yg paling mudah ya beli lisensinya dan minta alih teknologi.
China, yg dituduh mencuri teknologi dengan mengkopi, tentu tidak semudah “copy paste” . Berapa barang yg di copy memang kualitasnya di bawah yg asli, tp tidak semua.
Apakah mengkopi menjadi lbh murah? Belum tentu jg, bisa jd lbh mahal. Atau murah tapi hasilnya low kualitas.
Murah mahal tergantung proses engineering dan faktor lain seperti mahal murahnya SDM dst.
Jadi tidak ada istilah copy paste di dalam mengkopi suatu produk… Kecuali memang beli lisensi dan transfer teknologi 100%.
ATM (Amati Tiru Modifikasi) adalah hal yang wajar dalam dunia desain. Indonesia juga melakukan itu.
Saya adalah salah satu pelakunya.
Jauh lebih good looking buatan PT. DI dan PT. SSE yang telah digunakan oleh TNI AU walau dalam jumlah yang masih sangat terbatas dan sedikit itu. Ayooo ,, TNI, pergunakan produk-produk dalam negeri.
Mirip banget rantis buatan PT. DI.. Rantis P2… Tp lbh rapih buatan PT. DI. Klo ngga salah sdh di pakai Paskhas.
” Beberapa analis global menyebut bahwa VN3 meurpakan tiruan dari rantis Panhard VBL buatan Perancis,
————————————————————-
Waah…bakal seru lg nih. Kaum aliran reverse engineerin = Copy paste pasti bilang bahwa ini hasil reverse engineering aka copy paste…..xicixicixicixi
Bner bung disini kok bangga ya dgn copy paste..re egenering apalah itu… Tinggal beli barangnya copot²in satu2 di lebelin trs bikin yg sama persis trs pasang2 lagi…itu mah copy paste alias nyontek bkn dr hasil pemikiran sndiri alias licik,males buat inovasi baru.. cuma dibedaain dikit panjng dan volumenya doang xixixixi….