LPD Albion Class Dijual ke Brasil, BMT Tawarkan Desain MRSS “Ellida Strike” ke Angkatan Laut Inggris

Setelah penjualan HMS Albion dan HMS Bulwark ke Brasil, praktis Angkatan Laut Inggris kehilangan unsur kekuatan serbu amfibi, yang mana tidak ada lagi Landing Platform Dock (LPD) yang dioperasikan Royal Navy. Lantaran konsep serbuan amfibi tak dihilangkan, maka ada peluang bagi biro desain (perancang) kapal untuk menawarkan desain LPD masa depan untuk Angkatan Laut Inggris, namun yang ditawarkan adalah LPD plus.

Baca juga: Inggris Jual Dua Unit LPD Albion Class ke Brasil, Kemampuan Serbu Amfibi Royal Marines Dipertaruhkan

Di pameran pertahanan DSEI 2025 yang akan dihelat di London (9 – 12 September 2025), BMT (British Maritime Technology), yang merupakan biro desain dan konsultan teknik terkemuka dari Inggris.telah meluncurkan konsep Ellida Strike, yang diklaim sebagai evolusi paling berani dalam keluarga desain kapal amfibi BMT.

Ellida Strike dikembangkan sebagai opsi untuk menginformasikan rekapitalisasi armada amfibi Angkatan Laut Inggris, konsep ini menyajikan visi tentang apa yang dapat dihadirkan oleh Multi-role Support Ship dan Multi-role Strike Ship di masa depan, yang dapat berperan signifikan dalam operasi tempur maupun kemanusiaan.

Seperti dikutip Navy Lookout, landasan desain Ellida Strike telah ada sejak beberapa tahun yang lalu, berkembang seiring dengan perubahan bahasa seputar program Multi-role Support/Strike Ship (MRSS). Apa yang awalnya merupakan keluarga konsep kapal pendukung yang fleksibel telah berkembang menjadi Ellida Strike, sebuah kapal yang secara eksplisit dirancang untuk mengirimkan pasukan marinir dari laut ke pantai.

Konsep ini bukanlah solusi yang sepenuhnya matang untuk persyaratan yang belum dipublikasikan secara rinci, Ellida Strike menerapkan standar angkatan laut secara menyeluruh untuk menciptakan kapal perang yang tangguh, dioptimalkan untuk operasi amfibi, dan adaptif di seluruh spektrum misi.

Dari spesifikasi, Ellida Strike punya panjang 213 meter, lebar 35 meter dan bobot benaman sekitar 29.500 ton. Ellida Strike secara signifikan lebih besar daripada LPD Albion class yang dijual ke Brasil. Skala ini mencerminkan persyaratan kerangka kompleks dari Royal Navy beserta margin bobot, ruang, dan daya untuk mendukung peningkatan agar kapal tetap beroperasi hingga tahun 2060-an.

Tema utama desain Ellida Strike adalah bahwa kapal ini dirancang sebagai kapal perang, alih-alih sebagai kapal bantu. Kapal ini dirancang untuk beroperasi di medan konflik tingkat tinggi maupun di lingkungan yang aman, dengan ketahanan dan kemampuan bertahan hidup yang diharapkan dari kapal kombatan utama.

PT PAL Tampilkan Desain Multi Role Support Ship (MRSS) – LPD dengan Panjang 163 Meter dan Bobot 14.000 Ton

 

Meski tak segarang LPD Taiwan yang dilengkapi rudal anti kapal (Yu Shan class), namun Ellida Strike direncanakan akan dilengkapi dengan senjata pertahanan diri berupa dua unit meriam Bofors 40mm Mk4, dua dudukan senjata laser DragonFire, dan dua peluncur umpan (decoy) udara Ancilia.

Lebih dari sekedar kapal serbu amfibi, Ellida Strike juga akan memiliki tiang terintegrasi dengan radar canggih dan combat management system (CMS). Ellida Strike juga dapat berfungsi sebagai efektor terdistribusi dalam arsitektur Future Air Dominance System (FADS) Angkatan Laut Inggris. Kapal ini mampu meluncurkan rudalnya yang diarahkan dari platform eksternal atau beroperasi secara independen, menyediakan pertahanan udara untuk kelompok tugas yang lebih kecil.

Meskipun biaya dan keinginan pelanggan akan menentukan kesesuaian senjata dan jumlah sel, desain Ellida Strike memiliki kapasitas untuk beberapa VLS (vertical launch system) Mk 41.

Inti dari Ellida Strike adalah dek multiperannya di bagian tengah kapal, yang dirancang untuk muatan modular dan dalam kontainer. Dek kendaraan dibagi sehingga terdapat dek mezzanine untuk kendaraan yang lebih kecil di satu sisi dan kendaraan berukuran penuh di sisi lainnya.

Dek ini dapat menampung kendaraan, sistem tanpa awak, modul perang ranjau, gudang logistik kemanusiaan, atau fasilitas medis dalam pod, yang memungkinkan kapal beradaptasi dengan misi tertentu dalam waktu singkat. Ruang komando dan kontrol dalam kontainer tambahan juga dapat ditambahkan untuk melengkapi ruang kendali dan komando tetap yang dirancang untuk komandan dan staf bintang dua penuh. Hingga 8 kontainer ukuran 20 kaki juga dapat diangkut di dek atas.

MRSS ini memiliki hanggar yang dapat menampung hingga 4 helikopter seukuran Merlin atau campuran UAV. Dek penerbangannya cukup besar untuk mendaratkan dua helikopter CH-47 Chinook – sebuah peningkatan kemampuan penerbangan yang sangat substansial dibandingkan LPD Albion class.

Di bawah dek, terdapat dua well dock yang berdampingan, yang membedakan desainnya. Pengaturan ini menghindari kerentanan dok depan-belakang, di mana satu kapal pendarat yang tidak berfungsi dapat menghalangi seluruh ruang. Desain ini membayangkan dapat menampung dua Commando Utility Craft (CUC), empat Commando Insertion Craft (CIC), dan USV tambahan untuk tugas-tugas seperti ISR ​​atau penanggulangan ranjau.

HMS Albion: Merapat di Jakarta, Landing Platform Dock Ini Jadi Andalan AL Inggris

Otomatisasi dan efisiensi awak merupakan prioritas, BMT telah mengembangkan alat simulasi yang dapat memetakan pergerakan individu di sekitar kapal untuk mengoptimalkan tata letak guna mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas. Jika LPD Albion class membutuhkan lebih dari 300 personel, maka Ellida Strike dapat beroperasi dengan awak inti sekitar 100 orang, memanfaatkan sistem manajemen platform canggih, pemadam kebakaran otomatis, dan teknologi pemantauan terhubung.

Sebagai MRSS, Ellida Strike dapat mengakomodasi penuh tempat tidur susun untuk 700 orang, yang mana kapal ini disiapkan untuk membawa hingga satu batalyon pasukan marinir. (Gilang Perdana)

ST Engineering Marine Lakukan Peletakan Lunas Unit Perdana Multi-Role Combat Vessel (MRCV), Kapal Kombatan Terbesar di Asia Tenggara