Angkatan Laut Inggris (Royal Navy) tengah bersiap melakukan revolusi dalam sistem pertahanan maritimnya melalui percepatan penggelaran senjata laser energi tinggi yang dijuluki DragonFire. Melalui pernyataan resmi Menteri Negara Pertahanan, Vernon Coaker, pada 18 Maret 2026, London mengonfirmasi bahwa jadwal integrasi sistem senjata energi terarah (Directed Energy Weapon – DEW) ini dimajukan ke tahun 2027. (more…)
Inggris telah memulai langkah untuk memperkuat keamanan pangkalan militernya di Mediterania Timur dengan mengerahkan helikopter multi-peran canggih, AW159 Wildcat. Pengerahan ini bukan sekadar unjuk kekuatan, melainkan respons langsung terhadap meningkatnya ancaman drone yang mulai mengintai wilayah strategis tersebut. (more…)
Komitmen Indonesia untuk menjadi kekuatan maritim yang disegani di kawasan Indo-Pasifik kembali ditegaskan. Berdasarkan laporan dari Navy Lookout (21/1/2026), Kementerian Pertahanan RI berencana memperluas proyek Fregat Merah Putih dengan menambah pesanan dua unit lagi kapal perang berbasis desain Arrowhead 140 (AH140) dari Babcock International. (more…)
Setelah viral digunakan Angkatan Laut Filipina dalam uji peluncuran rudal Spike NLoS, helikopter spesialis naval, Leonardo AW159 Wildcat HMA.2 milik Angkatan Laut Inggris (Royal Navy) belum lama ini telah mencapai tahapan Initial Operating Capability (IOC) atau Kemampuan Operasional Awal untuk pengoperasian rudal Sea Venom. (more…)
Saat rencana pengadaan kapal induk eks ITS Giuseppe Garibaldi menguat, maka netizen dengan rasa bangga yang menggelora menyerukan agar kapal induk tersebut kelak dapat menjadi basis operasi jet tempur vertical or short takeoff and landing (V/STOL) AV-8B Harrier II, pasalnya saat masih dioperasikan Angkatan Laut Italia, 18 unit Harrier dapat bersarang di ITS Giuseppe Garibaldi. (more…)
Di luar kelaziman, Inggris sebagai negara dengan kekuatan maritim besar, dikabarkan akan menerima hibah kapal perang. Persisnya, Inggris akan menerima hibah kapal perang dari Pakistan. Namun, berbeda dengan Indonesia yang pernah menerima hibah kapal perang, yang diterima Inggris adalah kapal perang dalam kondisi sudah pensiun alias purna tugas. (more…)
Sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar di belahan selatan, Angkatan Laut Indonesia di masa lalu pernah mengoperasikan pesawat udara yang mampu melakukan misi intai dan penindakan di lautan, menjalankan peran anti kapal selam (AKS) – anti submarine warfare (ASW) hingga tahap eliminasi dengan penghancuran kapal selam lewat torpedo dan bom laut. Momen keemasan tersebut diwarnai dengan beroperasinya Fairey Gannet produksi Fairey Aviation Company. (more…)
Setelah penjualan HMS Albion dan HMS Bulwark ke Brasil, praktis Angkatan Laut Inggris kehilangan unsur kekuatan serbu amfibi, yang mana tidak ada lagi Landing Platform Dock (LPD) yang dioperasikan Royal Navy. Lantaran konsep serbuan amfibi tak dihilangkan, maka ada peluang bagi biro desain (perancang) kapal untuk menawarkan desain LPD masa depan untuk Angkatan Laut Inggris, namun yang ditawarkan adalah LPD plus. (more…)
Kapal perang docking dalam waktu sangat lama, rupanya bukan hanya terjadi di negara berkembang, yang umumnya menghadapi kasus kesulitan anggaran atau macetnya pembiayaan. Di Inggris, yang dikenal sebagai negara maju dengan angkatan laut kelas imperium, nyatanya ada kapal perang yang mengalami waktu docking sangat panjang, bahkan mencapai 3.000 hari. (more…)
Beroperasi seperti drone intai/tempur yang dapat dikendalikan dari belahan dunia lain, maka hal yang sama juga dapat berlaku pada operasional kapal selam tanpa awak – Unmanned Underwater Vehicle (UUV), yang sama-sama mengandalkan keunggulan hub koneksi via satelit. Seperti belum lama dibuktikan oleh Australia yang mampu mengendalikan UUV milik Angkatan Laut Inggris (Royal Navy), yang notabene berjarak 10.000 mil (sekitar 16.093 km). (more…)