Korea Selatan Ikut Cemas Atas Reputasi Jet Tempur Chengdu J-10C, Ini Sebabnya!

Pemberitaan bombastis atas keunggulan Chengdu J-10C dalam duel udara dengan jet tempur India, bukan hanya membawa dampak negatif bisnis Dassault Aviation selaku manufaktur Rafale, rupanya Korea Aerospace Industries (KAI) selaku manufaktur jet tempur ringan multirole FA-50 Fighting Eagle, kini tengah dilanda kecemasan atas reputasi Chengdu J-10C.
Meski Chengdu J-10C dan FA-50 Fighting Eagle berbeda kelas, namun kedua jet tempur sama-sama bertarung untuk mendapatkan kontrak efektif untuk memasok armada pesawat tempur bagi Angkatan Udara Mesir.
Chengdu J-10C pamornya naik daun setelah Pakistan mengklaim telah menggunakan jet tempur generasi 4,5 produksi Chengdu Aircraft Corporation untuk menembak jatuh pesawat tempur India, termasuk beberapa jet tempur Dassault Rafale. Dan sejauh ini, Pemerintah India belum membuat konfirmasi atau bantahan resmi,
Buntut dari kebungkaman India telah menambah polemik yang merugikan pamor jet tempur Rafale, dengan beberapa laporan barat, termasuk CNN, Reuters, Washington Post yang mengklaim penembakan jatuh dua hingga tiga jet tempur India

Dan kekhawatiran Korea Selatan tertutuju langsung pada program pengadaan yang kini sedang dinegosiasikan bersama Angkatan Udara Mesir. Selain reputasi Chengdu J-10C yang memukau dalam perang di Kashmir, jet tempur J-10C Angkatan Udara Cina belum lama telah berpartisipasi dalam latihan udara gabungan Eagles of Civilization 2025 di Mesir, yang oleh banyak pihak dianggap sebagai ajang promosi J-10C secara langsung.
Meski Mesir menyatakan tertarik untuk mengakuisisi 100 unit FA-50, ditambah dengan bumbu transfer teknologi dari Korea Selatan, akan tetapi reputasi Chengdu J-10C yang mendadak meroket menjadi sesuatu yang dikhawatirkan oleh media lokal di Negeri Ginseng.
Sebelumnya Duta besar Mesir untuk Korea Selatan menyebut diskusi antara kedua belah pihak telah mengalami kemajuan positif setelah berbulan-bulan negosiasi. “Kami berharap diskusi teknis dan terperinci antara lembaga kami dan perusahaan Korea akan menghasilkan hasil yang sukses,” kata Abdelrahman. Menurut laporan, Mesir dapat memesan 36 dari 100 pesawat tersebut, yang sisanya dapat dibangun secara lokal di Helwan, Mesir.
Media lokal Korea Selatan menyatakan kecemasan bila keputusan Mesir berubah, khususnya setelah mendengar reputasi Chengdu J-10C, yang artinya akan berdampak buruk pada negosiasi ekspor untuk FA-50. Jika Mesir memilih J-10C daripada FA-50, potensi ekspor jet tempur Korea Selatan dapat terpengaruh secara negatif. Khususnya, FA-50 yang telah memenangkan pesanan ekspor yang signifikan dari Polandia, Filipina, dan Malaysia.
Punya Kesamaan 70% Suku Cadang dengan F-16, Mesir Tengah Godok Serius Akuisisi FA-50 Fighting Eagle
Chengdu J-10C dan KAI FA-50 keduanya merupakan jet tempur multiperan generasi 4,5 yang canggih, tetapi keduanya memiliki peran yang berbeda dan memenuhi kebutuhan operasional yang berbeda.
Chengdu J-10C adalah jet tempur berkinerja tinggi untuk superioritas udara dan misi multiperan di lingkungan yang diperebutkan dan secara teknis mengungguli FA-50 dalam hal kecepatan, jangkauan, avionik, dan persenjataan. Namun, keterjangkauan FA-50, kemudahan perawatan, dan kompatibilitas dengan sistem Barat membuatnya lebih sesuai dengan kebutuhan Mesir saat ini, khususnya untuk mengganti jet latih tempur dan mendukung misi serangan ringan.
Potensi tempur J-10C diimbangi oleh biaya yang lebih tinggi dan masalah geopolitik, sementara keberhasilan ekspor FA-50 menggarisbawahi daya tariknya bagi angkatan udara yang sadar anggaran. Pilihan Mesir terhadap FA-50 kemungkinan mencerminkan pertimbangan praktis, tetapi J-10C tetap menjadi pesaing kuat jika Mesir mencari alternatif pengganti F-16 yang lebih mumpuni. (Gilang Perdana)
Padahal Sudah Punya Rafale, Ini Alasan Mesir ‘Masih Harus’ Akuisisi Jet Tempur Chengdu J-10C



@aa
Tdak ada bukti J-17 & J-10 ditembak jatuh
Ini pesawat baik J-10C dan J17 dah pernah ditawarkan ke Indo dengan iming-iming ToT yg maksimal dan harga yg separuh dari Rafale yg sebelum dibeli Indo…akhirnya malah jatuh tertembak Rafale di Pakistan…
Kenapa sih harus cemas, ratusan unit laku keras ke Polandia, Filipina dan Malaysia nyusul Mesir, belajar dari negara sahabat Indonesia…tenang, polisi baku tembak dengan teroris ditonton dari dekat, amunisi expired dimusnahkan malah buat rebutan, Indonesia pesan Rafale yg dirontokkan pun santai…no komen, pesanan tetap lanjut toh tak ada yg salah dengan Rafale atau pespur yg tertembak jatuh, pastilah dievaluasi dianalisa oleh pihak militer Indonesia. Kesimpulannya sederhana mungkin Pakistan lebih siap semua sistem manajemen tempur terpadunya ada awacs, radar aesa, rudal cepat jarak jauh, rudal hanud dan satelit sebagai koordinatornya sehingga J10C mampu fire and forget dari kejauhan yg tak terdeteksi oleh pihak India yang mungkin merasa lebih super dan meremehkan Pakistan. Pastilah tak lama lagi kita beli awacs, rudal supersonic, radar aesa buat pespur, rudal hanud dan satelit plus combat manajemen sistem buat koordinasikan semuanya, niru Pakistan lah dah terbukti koq semoga tidak bebal para pemangku kepentingan yang merasa jadi orang penting.