BTR-50PK Korps Marinir: Masih ‘Orisinil’ dengan Performa Maksimal

Foto: Resimen Kavaleri 2 Marinir

Meski postur Kavaleri Korps Marinir saat ini telah dilengkapi ranpur amfibi modern seperti BMP-3F dan LVTP-7A1, namun identitas ranpur amfibi generasi PT-76 dan BTR-50 masih punya tempat tersendiri. Usia pengadian boleh tua, pun sudah beberapa yang dijadikan koleksi monumen dan koleksi museum, tapi hingga kini pasukan Kavaleri Korps Baret Ungu terbukti masih mampu menjaga kesiapan tempur tank PT-76M dan BTR-50 yang dikenal masyarakat sebagai elemen alutsista yang didatangkan jelang kampanye Operasi Trikora di awal dekade 60-an.

Baca juga: PT-76 dan BTR-50 – Duet Maut Ranpur Amfibi di Timor Timur

Terkhusus bicara tentang BTR (Bronetransporter)-50 yang kondang disebut sebagai pansam (panser amfibi), kebanyakan netizen mengenal ranpur APC (armoured personnel carrier) ini sudah sepuh, tak salah karena sudah dioperasikan Korps Marinir (d/h – KKO AL) sejak tahun 1962. Meski begitu tak semua BTR-50 Korps Marinir usianya sama, ada jenis BTR-50 Korps Marinir yang usianya ‘relatif’ lebih muda dari yang lainnya.

Yang dimaksud lebih muda adalah BTR-50PK, jenis BTR-50 yang satu ini asal pengadaannya bukan dari Rusia, melainkan diakuisisi dari Ukraina. Dikutip dari database Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), disebutkan pada periode 1997 – 1999 BTR-50PK didatangkan dengan jumlah 34 unit, proses pengadaannya bersamaan dengan kedatangan ranpur BVP-2 yang dibeli dari Slovakia (1998), tapi dikapalkan ke Indonesia via Ukraina.

Meski secara tampilan tak terlalu beda dengan BTR-50P dan BTR-50P/PM yang didatangkan di era 60-an, tapi berdasarkan penuturan seorang perwira menengah di Resimen Kavaleri 2 Marinir, dikatakan BTR-50PK punya performa yang lebih baik dibandingkan jenis BTR-50 lainnya. Sumber Indomiliter.com menyebut BTR-50PK juga punya suara deru mesin yang khas, “pak.. pak.. pak.”

Walau didatangkan dari Ukraina, sejatinya BTR-50PK yang digunakan Korps Marinir adalah buatan Rusia dengan tahun pembuatan 1961. Bila data SIPRI menyebut BTR-50PK yang diterima Indonesia berstatus bekas pakai, namun sumber dari Resimen Kavaleri 2 menjelaskan sebenarnya BTR-50PK diterima dalam kondisi baru dan belum pernah dioperasikan, hanya lama di gudang penyimpanan di Ukraina.

Di tangan Ukraina, BTR-50PK sudah mendapat serangakaian modifikasi. Maka jika dibandingkan dengan BTR-50P/PM, akan terlihat perbedaan seperti pada penempatan 6 pelontar granat asap (disisi kiri dan kanan 3 – 3), pintu palka personel yang dibuka ke dalam, jenis senjata dan di BTR-50PK ada sepasang tangki bahan bakar eksternal di bagian belakang kendaraan.

Untuk senjata, BTR-50PK mengandalkan sepucuk senapan mesin sedang PKT kaliber 7,62 mm. Berbeda dengan BTR-50P/PM senjatanya adalah FN MAG GPMG 7,62 mm dan senapan mesin berat (SMB) M2HB 12,7 mm.

Pelontar granat asap.

Sebagai jenis BTR-50 yang paling perkasa, nyatanya BTR-50PK di tangan Korps Marinir masih orisinil, artinya ranpur belum mengalami upgrade dan repowering sejak diterima, berbeda seperti halnya BTR-50P/PM. Dapur pacu BTR-50PK mengandalkan mesin diesel Type W-6 dengan RPM 3000. Kapasitas bahan bakar internal 250 liter dan tersedia dua jerigen bahan bakar eksternal yang masing-masing kapasitasnya 50 liter.

Jerigen bahan bakar di bagian belakang ranpur.

Spesikasi teknis lain yakni kapasitas oli mesin 45 liter dan oli tranmisi 11 liter. Sebagai perbadingan singkat, BTR-50PM sudah di repowering menggunakan mesin diesel buatan barat – Detroit 6 V90T. Guna menunjang operasi amfibi, BTR-50PK disokong dua pompa mekanik dan 1 pompa hull.

Baca juga: Adopsi RCWS 7,62mm di Pansam BTR-50 Marinir TNI AL

Dari dimensi BTR-50PK punya panjang 7,7 meter, lebar 3,14 meter dan tinggi 2,15 meter. Dengan bobot 14 ton, tebal lapisan baja ranpur era Perang Dingin ini mencapai 1,1 centimeter. BTR-50PK diawaki oleh 3 orang personel dan dapat membawa 16 pasukan infanteri bersenjata lengkap. (Haryo Adjie)

8 Comments