“Bohai Sea Monster” – Ekranoplan Misterius dengan Empat Mesin Jet, Usaha Cina Bangkitkan Sensasi Perang Dingin

Seandainya konsetrasi Rusia tak terpecah akibat perang di Ukraina, boleh jadi beragam inovasi alutsista era Perang Dingin akan dibangkitkan kembali dengan beragam penyempurnaan. Seperti pada pengembangan ekranoplan, yakni wahana yang beroperasi dengan memanfaatkan fenomena ground effect.
Baca juga: WiSE – Konvergensi Kemampuan Kapal Cepat dengan Pesawat Udara Untuk Misi Militer
Fenomena ground effect yaitu bantalan dinamik yang timbul ketika wahana terbang sangat rendah di atas permukaan, sehingga meningkatkan rasio daya angkat dan daya hambat yang menghasilkan efisiensi bahan bakar yang lebih baik daripada pesawat konvensional.
Setelah kemunculan A-90 Orlyonok dan Lun Class yang bisa meluncurkan rudal anti kapal P-270 Moskit, seolah membangkitkan kejaayaan militer di era Uni Soviet, Angkatan Laut Rusia pada forum di St. Petersburg di tahun 2019 mengungkapkan minat untuk membangun kembali ekranoplan, khususnya pada rancangan ekranoplan yang diperlihatkan saat Pameran Dirgantara MAKS 2019.
Yang dimaksud pihak Angkatan Laut Rusia adalah desain Chaika-2 A-050-742D. Berbeda dengan ekranoplan rancangan sebelumnya, maka Chaika-2 punya kemampuan amfibi. Rancangan Chaika-2 digawangi oleh Alexeyev Design Bureau of hydrofoil ships dan Radar MMS Company. Sayangnya setelah itu, kabar tentang pengembangan ekranoplan redup.
Setelah ‘Tertidur’ Lama, Rusia Canangkan Pembangunan Ekranoplane Chaika-2
Hingga belum lama ada kabar dari Cina, sebuah ekranoplan bertenaga jet berukuran besar menarik perhatian, yang sepintas mengingatkan pada pencapauan Soviet di era Perang Dingin.
Secara informal dijuluki “Bohai Sea Monster,” pesawat itu muncul dalam foto yang beredar di media sosial Cina, yang memicu spekulasi di antara analis pertahanan tentang asal-usul dan peran yang dimaksudkan.
⚡️Bohai Beast: Ekranoplan Returns
China may have just revived a Cold War legend. A newly spotted, massive 4-engine ekranoplan—nicknamed the Bohai Sea Monster—has surfaced on Chinese social media, echoing the Soviet Union’s iconic Caspian Sea Monster.
Ekranoplans, or… pic.twitter.com/bDmmlva6wl
— The Global Monitor (@theglobal4u) June 30, 2025
Menurut Naval News, pesawat itu merupakan desain yang sebelumnya tidak dilaporkan dan mungkin merupakan ekranoplan paling ambisius yang dibangun di mana pun dalam beberapa dekade.
Ekranoplan yang juga dikenal sebagai Wing-in-Ground Effect (WIG) dirancang untuk terbang hanya beberapa meter di atas permukaan air dengan memanfaatkan daya angkat aerodinamis yang dihasilkan dalam efek darat. Hal ini memungkinkan mereka untuk melaju dengan kecepatan tinggi sambil tetap berada di bawah ambang batas deteksi radar, menjadikannya ideal untuk operasi pesisir yang tersembunyi.
Airfish 8: WiSE Terbaru dari Singapura, Jadi Wahana Angkutan Sipil Yes, Untuk Misi Militer Pun Ideal
Model ekranoplan yang baru saja diamati di Cina memiliki lambung katamaran, ekor berbentuk T yang dipasang tinggi, dan empat mesin jet yang diposisikan di atas sayapnya dengan nosel bersudut ke bawah, konfigurasi yang konsisten dengan pesawat efek darat klasik. Skema cat abu-abu yang tidak terlalu terlihat dan fitur gaya militernya menunjukkan bahwa pesawat ini ditujukan untuk peran seperti penyerangan amfibi, transportasi pasukan, atau logistik pesisir, khususnya di zona yang diperebutkan.
Cina saat ini tengah memproduksi AVIC AG-600 Kunlong, pesawat amfibi terbesar di dunia, yang dirancang terutama untuk peran sipil seperti pemadam kebakaran dan pencarian dan penyelamatan, sementara Bohai Sea Monster tampaknya dioptimalkan untuk kecepatan, kemampuan siluman, dan mobilitas taktis dalam operasi militer.
Meskipun Uni Soviet pernah memimpin bidang ini dengan ekranoplan besar seperti Lun class, platform tersebut tidak pernah digunakan secara luas. Munculnya ekranoplan baru ini dapat menandakan kebangkitan konsep tersebut, yang kini berpotensi lebih layak karena teknologi modern dan kebutuhan strategis. (Gilang Perdana)
AVIC AG-600 Flying Boat: “Tiruan” ShinMaywa US-2 dengan Payload Lebih Besar


