AS Terima Kapal Selam Nuklir Virginia Class ke-26, Bagaimana Nasib Pesanan Australia?

Kapal selam bertenaga nuklir Virginia class kini berada di pusaran perhatian geopolitik. Selain perannya sebagai tulang punggung kekuatan bawah laut Amerika Serikat, kapal selam ini menjadi topik hangat terkait kemitraan strategis AUKUS antara AS, Inggris, dan Australia.

Baca juga: Proyek Kapal Selam Nuklir Australia – Selain Borong Virginia Class, Disepakati Pembagunan AUKUS Class

Momentum itu semakin diperkuat dengan kabar terbaru bahwa General Dynamics Electric Boat (GDEB) telah berhasil menyerahkan unit ke-26 kelas ini – USS Idaho SSN 799 kepada Angkatan Laut AS pada pertengahan Desember 2025. Penyerahan ini menjadi sinyal penting di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Indo-Pasifik, sekaligus membawa awan ketidakpastian bagi pesanan Australia di masa depan.

Sebagai catatan, jadwal komisioning USS Idaho 799 dicanangkan Angkatan Laut AS pada 25 April 2026 di  Naval Submarine Base New London, Groton Connecticut

Pengembangan Virginia class bermula pada akhir era 1990-an sebagai jawaban atas kebutuhan kapal selam yang lebih fleksibel dan ekonomis dibandingkan Seawolf class yang terlalu mahal pasca Perang Dingin. Dirancang untuk menggantikan Los Angeles c;ass yang melegenda, Virginia Class menjadi kapal selam pertama AS yang dikembangkan menggunakan visualisasi digital sepenuhnya.

Senat AS Beri Lampu Hijau ‘Penjualan’ Tiga Unit Kapal Selam Nuklir Virginia Class Block IV dan VII ke Australia

Hingga saat ini, Angkatan Laut AS secara keseluruhan telah memesan sekitar 38 hingga 41 unit (tergantung pada otorisasi anggaran tahunan) yang dibagi dalam beberapa fase pembangunan yang disebut “Blocks”. Dengan penyerahan unit ke-26, berarti masih ada sekitar 15 hingga 20 unit lagi dalam berbagai tahap pembangunan dan pesanan untuk memenuhi target armada awal AS.

Virginia class dikenal sebagai kapal selam multi-misi yang tidak hanya unggul di laut dalam, tetapi juga sangat lincah di perairan dangkal (littoral). Memiliki panjang sekitar 115 meter dan bobot mati mencapai 7.800 ton, kapal ini ditenagai oleh reaktor nuklir S9G yang tidak perlu diisi ulang bahan bakarnya selama masa pakai kapal (sekitar 33 tahun).

Terancam Delay Tiga Tahun, Program Akuisisi Kapal Selam Nuklir Virginia Class untuk Australia

Keunggulan utama Virginia class dibanding kapal selam sejenis, seperti Astute class milik Inggris atau Yasen class milik Rusia, terletak pada teknologi sensor dan fleksibilitas persenjataannya. Kapal ini menggunakan tiang fotonik sebagai pengganti periskop tradisional, yang memberikan visibilitas kamera resolusi tinggi dan inframerah tanpa harus menembus struktur lambung kapal.

Dari sisi ofensif, sistem Virginia Payload Module (VPM) pada varian terbaru memungkinkan kapal ini membawa hingga 40 rudal jelajah Tomahawk, memberikan daya pukul setara dengan kapal penjelajah permukaan.

Namun, di balik kecanggihannya, muncul tantangan besar pada kapasitas produksi General Dynamics dan mitranya, Huntington Ingalls Industries. Saat ini, industri pertahanan AS tengah berjuang untuk mencapai target produksi dua unit per tahun. Realitanya, laju produksi masih tertahan di angka rata-rata 1,2 hingga 1,3 unit per tahun akibat kendala rantai pasokan dan keterbatasan tenaga kerja ahli.

Nasib di Ujung Tanduk: Masa Depan Kapal Selam Nuklir Australia Kian Tidak Pasti di Era Trump

Kapasitas yang belum optimal ini memicu keraguan besar terhadap kesepakatan AUKUS, di mana Australia dijadwalkan membeli tiga hingga lima kapal selam Virginia class bekas maupun baru mulai awal 2030-an. Para kritikus di Washington mulai menyuarakan kekhawatiran bahwa AS tidak akan mampu memenuhi pesanan Australia tanpa mengorbankan jumlah minimum kapal selam yang dibutuhkan oleh militer AS sendiri untuk membendung kekuatan Cina.

Ketidakpastian ini semakin dipertebal oleh dinamika politik di era Donald Trump. Dengan kebijakan “America First”, terdapat kekhawatiran bahwa administrasi Trump mungkin akan meninjau ulang komitmen penjualan kapal selam kepada Australia jika dianggap mengganggu kesiapan tempur Angkatan Laut AS. (Gilang Perdana)

Australia Ketar-ketir, Dari Enam Kapal Selam Collins Class, Hanya Satu Unit yang Siap Beroperasi

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *