Tantang Starlink di Medan Tempur, Rusia Uji Drone Stratosfer Argus Maret Ini

Rusia tidak tinggal diam menghadapi upaya pelumpuhan akses Starlink yang selama ini krusial dalam operasi tempur di Ukraina. Sebagai jawaban strategis atas keterbatasan satelit dan dependensi terhadap teknologi Barat, pengembang Rusia kini memperkenalkan drone stratosfer “Argus” sebagai alternatif penyedia layanan internet berkecepatan tinggi bagi pasukannya.
Drone ini dirancang khusus untuk mengisi kekosongan transmisi data real-time dalam volume besar, mengingat konstelasi satelit Rusia saat ini belum cukup memadai untuk kebutuhan perang modern yang sangat bergantung pada konektivitas tanpa putus.
Kemampuan utama drone Argus terletak pada fungsinya sebagai operator telekomunikasi udara yang mampu mentransmisikan video definisi tinggi, menyediakan jalur komunikasi garis depan, hingga mengendalikan unit drone lainnya secara simultan.
Beroperasi pada ketinggian stratosfer antara 15 hingga 24 kilometer, Argus memiliki keunggulan taktis karena sulit dijangkau oleh sistem pertahanan udara standar. Untuk melumpuhkannya, pihak lawan dipaksa menggunakan sistem rudal permukaan-ke-udara kelas berat seperti Patriot atau S-300. Hal ini memberikan keuntungan ekonomi bagi Rusia, karena biaya operasional satu unit drone jauh lebih murah dibandingkan dengan harga satu rudal pencegat yang harus dikeluarkan oleh musuh.
Rusia Kembangkan ‘Predator’: Drone Intai Mulltirole yang Mampu Terbang di Stratosfer
Daya tahan terbang drone ini menjadi salah satu fitur paling revolusioner karena Argus memanfaatkan energi matahari sebagai sumber tenaga utama. Penggunaan sel surya ini memungkinkan Argus memiliki waktu terbang yang nyaris tidak terbatas, sehingga dapat terus mengudara selama ada sinar matahari untuk mengisi daya baterainya.
Berbeda dengan satelit yang bergerak dalam orbit tetap, Argus memiliki fleksibilitas untuk terbang ke area spesifik sesuai kebutuhan operasional dan melakukan prosedur hovering atau melayang diam di atas koordinat tertentu guna memastikan stabilitas sinyal internet bagi unit-unit di bawahnya. Pengendalian sistem ini pun dapat dilakukan secara otomatis melalui kecerdasan buatan maupun secara manual oleh operator dari jarak jauh.
HAPS Masuk dalam Rencana Strategis Kemenko Polhukam, Inilah Tanggapan dari Kohanudnas
Selain sebagai penyedia internet, Argus juga dibekali kemampuan peperangan elektronik yang mematikan, yakni sebagai pengganggu atau jammer bagi navigasi satelit dan sistem komunikasi lawan. Dengan beroperasi di stratosfer, drone ini mampu mematikan fungsi senjata modern Barat yang sangat bergantung pada sinyal GPS dan satelit, sehingga rendering pertahanan musuh menjadi tidak efektif.
Di luar fungsi militer, Argus diproyeksikan untuk mendukung pemantauan kondisi es di sepanjang Jalur Laut Utara serta mentransmisikan data untuk kebutuhan sektor pertanian Rusia. Rangkaian uji coba penerbangan Argus dijadwalkan akan dimulai pada Maret 2026, yang menandai langkah besar Rusia dalam menciptakan ekosistem komunikasi mandiri yang lepas dari pengaruh Starlink milik SpaceX. (Gilang Perdana)
Perancis Kembangkan Konsep HAPS Stratobus untuk Kepentingan Militer



Sangat baik untuk ditiru Indonesia.