Aeris-10: Radar Anti Drone Open-Source Jangkauan 20 Km yang 95 Persen Lebih Murah dari Produk Pabrikan

Dunia teknologi pertahanan kembali diguncang oleh inovasi berbasis komunitas pembuat (maker) dan filosofi open-source. Setelah maraknya penggunaan drone DIY (Do It Yourself) di berbagai medan konflik, kini muncul terobosan baru di sektor pengindraan jauh melalui proyek bertajuk Aeris-10.
Baca juga: Rudal ‘MANPADS’ Rakitan Hasil Printer 3D Viral, Biaya di Bawah Rp1,5 Juta!
Dikembangkan oleh seorang insinyur asal Maroko bernama El-Ghazi, sistem radar ini diklaim mampu memangkas biaya produksi hingga 95 persen dibandingkan radar komersial sejenis yang ada di pasar global. Jika radar pemantau konvensional dengan kemampuan serupa biasanya dibanderol sekitar US$250.000 atau setara Rp4 miliar, Aeris-10 dapat dibangun dengan biaya jauh lebih terjangkau karena memanfaatkan komponen off-the-shelf yang tersedia bebas di pasar sipil.
Secara teknis, Aeris-10 dirancang sebagai sistem radar pulsa yang memiliki kemampuan deteksi mumpuni dalam radius hingga 20 kilometer. Radar ini beroperasi pada frekuensi yang fleksibel dan didukung oleh algoritma pemrosesan sinyal digital canggih yang kodenya diunggah secara terbuka di platform GitHub.
Pendekatan open-source ini memungkinkan siapa saja dengan keahlian teknis memadai untuk merakit, memodifikasi, dan meningkatkan kemampuan radar secara mandiri tanpa tergantung pada vendor tertentu. Bagi militer, fleksibilitas ini sangat berharga karena memungkinkan pembaruan perangkat lunak secara cepat di lapangan guna beradaptasi dengan taktik lawan yang terus berubah.
Thales Ground Observer 20 Multi-Mission – Radar 3D Man Portable untuk Operasi Taktis
Potensi peran Aeris-10 dalam kepentingan militer taktis sangatlah luas, terutama sebagai sistem deteksi dini anti-drone (Anti-UAV). Dengan ukuran yang portabel dan biaya rendah, unit-unit radar ini dapat disebar dalam jumlah besar untuk membentuk jejaring sensor murah (low-cost sensor net). Jaringan ini berfungsi untuk mendeteksi pergerakan drone intai atau drone kamikaze lawan yang terbang rendah, yang sering kali lolos dari pantauan instalasi radar utama yang lebih besar dan mahal.
Selain itu, radar ini dapat menjadi solusi efektif bagi surveilans pesisir dan perbatasan darat, memberikan “mata tambahan” bagi satuan teritorial untuk memantau penyusupan di area terpencil yang sulit dijangkau infrastruktur permanen.
BEL Battle Field Surveillance Man Portable Radar – Diberitakan Telah Digunakan oleh Indonesia
Lahirnya Aeris-10 mempertegas tren disrupsi di mana teknologi militer tingkat tinggi kini tidak lagi menjadi monopoli perusahaan pertahanan raksasa. Penggunaan komponen sipil membuat sistem ini sulit dilacak melalui skema sanksi pengadaan alutsista internasional, menjadikannya senjata strategis bagi negara yang mengutamakan kemandirian pertahanan.
Bagi Indonesia, fenomena radar DIY ini sangat menarik untuk dicermati oleh lembaga litbang pertahanan sebagai basis pengembangan sensor murah namun efektif untuk memperkuat doktrin pertahanan rakyat semesta. Keberadaan Aeris-10 membuktikan bahwa di era digital, inovasi dari bengkel rumahan pun mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap kesadaran situasional di medan tempur modern. (Bayu Pamungkas)
Balitbang Kemhan Supervisi Prototipe Man Portable Surveillance Radar (MPSR) Tahap II


