Angkatan Laut Rusia Operasikan Kembali Beriev Be-12 untuk Misi Penghancuran USV di Perairan Laut Hitam

Dinamika pertempuran di Laut Hitam kembali memunculkan kejutan taktis dengan kembalinya aset-aset era Perang Dingin ke garis depan. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa Angkatan Laut Rusia kini mulai mengandalkan pesawat amfibi legendaris, Beriev Be-12 “Chayka”, untuk menghadapi ancaman modern berupa drone kapal permukaan (Unmanned Surface Vessels/USV) milik Ukraina.
Baca juga: Pertama Kali, Ukraina Gunakan USV Kamikaze Bersenjata Rudal R-73 “FrankenSAM”
Dalam sebuah misi yang jarang terjadi, Be-12 dilaporkan berhasil menetralisir pergerakan drone laut tersebut dengan melepaskan bom anti-kapal selam tanpa pemandu jenis PLAB 250-120 langsung dari ruang bom internalnya, menandai babak baru penggunaan platform udara klasik dalam perang asimetris modern.
Penggunaan Be-12 dalam peran ini merupakan langkah pragmatis sekaligus menarik untuk diulas. Pesawat yang memiliki nama panggilan NATO “Mail” ini lahir dari dapur rancang biro desain Beriev pada akhir 1950-an sebagai pengganti pesawat amfibi Be-6 yang bertenaga piston.
Sejarah pengembangannya bermula dari kebutuhan Uni Soviet akan pesawat patroli maritim jarak jauh yang mampu mendarat di air untuk melakukan misi pencarian dan penghancuran kapal selam musuh. Be-12 melakukan penerbangan perdana pada Oktober 1960 dan secara resmi memasuki layanan operasional pada pertengahan 1960-an, menjadi andalan utama armada udara maritim Soviet di berbagai samudera.
A Russian anti-submarine amphibious aircraft Be-12 using unguided anti-submarine bombs PLAB-250-120 to counter Ukrainian unmanned boats in the Black Sea.
Judging by the video, the Be-12 is simply finishing off a drifting BEC, which has already broken down for some reason. pic.twitter.com/9mosSpllao
— Chay Bowes (@BowesChay) January 16, 2026
Secara visual, Be-12 sangat mudah dikenali dengan desain sayap camar (gull wing) yang ikonik dan badan pesawat yang menyerupai lunas kapal untuk stabilitas saat mengapung di air. Pesawat ini ditenagai oleh dua mesin turboprop Ivchenko AI-20D yang dipasang tinggi di atas sayap untuk mencegah percikan air masuk ke dalam mesin saat lepas landas atau mendarat di laut.
Dengan bentang sayap yang lebar dan ekor ganda yang kokoh, Be-12 mampu terbang dengan kecepatan maksimum sekitar 530 kilometer per jam dan memiliki jangkauan operasional mencapai 3.300 kilometer, sebuah spesifikasi yang sangat mumpuni untuk melakukan patroli pengawasan durasi lama di atas perairan luas.

Kemampuan utama Be-12 terletak pada fleksibilitas ruang senjatanya yang terintegrasi di dalam perut pesawat. Dalam misi penghancuran drone laut baru-baru ini, senjata yang menjadi bintang utama adalah PLAB 250-120. Bom ini sebenarnya dirancang sebagai bom anti-kapal selam seberat 250 kilogram yang bekerja dengan prinsip tekanan hidrostatis atau sensor kedalaman.
Namun, dalam menghadapi drone kapal permukaan yang melaju di atas air, Rusia mengadaptasi taktik pelepasan bom ini secara visual untuk menciptakan gelombang kejut dahsyat yang mampu menjungkirbalikkan atau menghancurkan struktur ringan drone USV tanpa perlu presisi setajam rudal berpemandu yang mahal.

Meskipun masa operasionalnya sudah melewati enam dekade dan sempat direncanakan untuk dipensiunkan total pada awal 2010-an, Be-12 terbukti masih memiliki “taring” di medan tempur modern. Kemampuannya untuk terbang rendah dan lambat di atas permukaan laut justru menjadi keunggulan saat memburu drone laut kecil yang sering kali sulit dideteksi oleh radar jet tempur supersonik.
Selain dipersenjatai bom, Be-12 juga dilengkapi dengan radar pencari di bagian hidung dan sensor detektor anomali magnetik (MAD) di bagian ekor yang panjang, memberikan kesadaran situasional yang lengkap bagi krunya saat memantau pergerakan di bawah maupun di atas permukaan air.
Tantangan terbesar dalam pengoperasian kembali Be-12 di Laut Hitam adalah ketersediaan suku cadang dan kerentanan terhadap sistem pertahanan udara modern. Namun, dengan modifikasi taktis dan integrasi senjata seperti PLAB 250-120, pesawat amfibi tua ini menunjukkan bahwa dalam perang, efektivitas tidak selalu datang dari teknologi terbaru, melainkan dari penggunaan aset yang tepat untuk ancaman yang tepat. Kehadiran kembali “Sang Camar” di langit Sevastopol menegaskan bahwa warisan rekayasa penerbangan Soviet masih mampu memberikan kontribusi nyata dalam menjaga kepentingan maritim Rusia di tengah tekanan konflik yang kian intens. (Gilang Perdana)
AL Rusia Terima Unit Perdana Pesawat Jet Amfibi Beriev Be-200ES



CL 415 batal di beli yah?? NEGARA KEPULAUAAN nggak ada amphibious aircraft yang ” BOAT DESIGN FUSELAGE ” ……GILAAAAA.
Wong ada banyak BANGKENYA ALBARTOS…..tinggal di upgrade…susah amat ni negara….
Mira …..mira Sea King S-61 de la Armada Argentina soltando una ” DEPTH CHARGER ” bomba
https://youtube.com/shorts/WhTHO4o0V0E?si=m8OTLis4bePUoIh9Argentina soltando una carga de profundidad.”
Kapan yah PUMA se TIDAKNYA bisa gini, ORA USAH MULUK2 tuku AKS ning MLETOOO…
Sang “veteran” perang dingin terpaksa turun gunung untuk menghadapi mesin perang otonom yang lagi tren di abad 21 ini yang dulu saat masa tugasnya bisa dipastikan tidak atau belum ada 😁