Monster Laut Baru: Mengupas MIDLAS VLS 64 Cell di Fregat KRI Balaputradewa 322

Dunia pertahanan laut Indonesia baru saja membuat kejutan besar dengan mengadopsi sistem peluncur rudal vertikal (VLS) terbaru asal Turki, MIDLAS (Milli Dikey Atım Lançer Sistemi), untuk memperkuat Fregat Merah Putih (FMP) unit pertama, KRI Balaputradewa 322.
Dikembangkan oleh Roketsan, MIDLAS merupakan sistem Vertical Launching System (VLS) pertama yang dikembangkan secara mandiri oleh Turki, yang kini menjadi jawaban atas kebutuhan Indonesia akan sistem pemukul yang andal dan mandiri.
Meski kemungkinan baru berupa dummy penutup yang dipasang saat peluncuran kapal, namun, keputusan untuk memasang 64 cell MIDLAS pada KRI Balaputradewa 322 adalah langkah yang sangat berani. Dengan jumlah 64 lubang peluncur, fregat ini akan memiliki daya gempur yang setara dengan kapal penjelajah atau fregat berat kelas dunia.
Pemilihan MIDLAS didorong oleh fleksibilitas yang ditawarkan oleh Turki dalam hal integrasi senjata dan transfer teknologi, yang sejalan dengan semangat kemandirian industri pertahanan yang dicanangkan oleh PT PAL dan Kementerian Pertahanan Indonesia.
64-cell MIDLAS VLS onboard the KRI Balaputradewa-322
such vls will contain SIPER, HISAR SAM, and ATMACA AShM. pic.twitter.com/6ZyocftTNi
— AlphaNovember (@_alphanovember) December 18, 2025
MIDLAS dirancang dengan konsep struktur modular, di mana setiap modul biasanya terdiri dari 8 cell. Dengan total 64 cell pada KRI Balaputradewa 322, maka fregat ini memiliki ruang simpan rudal yang sangat masif. Salah satu keunggulan utama MIDLAS adalah kemampuannya untuk menembakkan rudal dengan metode hot launch (mesin rudal menyala di dalam peluncur).
Sistem ini didesain untuk tahan terhadap korosi air laut yang ekstrem dan memiliki sistem pembuangan gas buang yang sangat efisien, sehingga tidak merusak struktur kapal saat rudal diluncurkan. Secara dimensi, MIDLAS dirancang untuk menampung rudal dengan berbagai panjang, memberikan fleksibilitas bagi TNI AL untuk mengisi cell tersebut dengan berbagai jenis senjata sesuai kebutuhan misi.
PT PAL dan Roketsan Garap Sistem Senjata Fregat Merah Putih dan Refurbishment Kapal Perang TNI AL
MIDLAS bukan sekadar peluncur satu jenis rudal. Sistem ini dirancang sebagai peluncur multi-fungsi yang dapat menembakkan berbagai kategori rudal buatan Turki yang telah teruji, antara lain:
HISAR-D RF: Rudal pertahanan udara jarak menengah yang menjadi pagar pelindung utama kapal dari serangan pesawat jet atau rudal lawan.
SIPER Block 1: Rudal pertahanan udara jarak jauh yang mampu menjangkau target di ketinggian tinggi, memberikan payung udara bagi armada kapal di sekitarnya.
ATMACA: Rudal anti-kapal permukaan (surface-to-surface) yang sangat mematikan. Meskipun biasanya diluncurkan dari tabung miring, versi peluncuran vertikal tengah dikembangkan untuk dapat keluar dari sel MIDLAS.
Rudal Anti-Kapal Selam: Kedepannya, MIDLAS juga diproyeksikan mampu meluncurkan rudal yang membawa torpedo untuk memburu kapal selam lawan.
Sebelum dipasang pada Fregat Merah Putih, MIDLAS telah menjadi standar baru bagi Angkatan Laut Turki. Kapal perang pertama yang sukses melakukan uji coba penembakan rudal HISAR-D menggunakan MIDLAS adalah fregat Istanbul class (TCG Istanbul).
Suksesnya integrasi pada kapal kelas Istanbul ini menjadi bukti kuat bagi Indonesia bahwa sistem ini sudah siap tempur (combat proven) dan stabil untuk digunakan pada kapal dengan bobot besar seperti kelas Arrowhead 140. Selain Istanbul class, Turki juga berencana memasang sistem ini pada kapal perusak kelas TF-2000 mereka yang lebih besar.
Pilah pilih Kapal Perang ‘Made in Turki’ untuk TNI AL, Istanbul Class atau Ada Class?
Sebagai catatan, pada TCG Istanbul (F-515) jumlah sel peluncur MIDLAS VLS yang diadopsi adalah 16 cell. TCG Istanbul didesain sebagai fregat multiguna dengan bobot sekitar 3.100 ton. Dengan ukuran tersebut, ruang di dek depan terbatas karena harus berbagi tempat dengan meriam utama dan sistem lainnya.
Sementara itu, Fregat Merah Putih (Arrowhead 140) memiliki bobot jauh lebih besar (mencapai 6.625 ton), sehingga memiliki “ruang kosong” (deck space) yang jauh lebih luas untuk menampung modul VLS dalam jumlah masif.

Berdasarkan foto-foto yang beredar saat acara peluncuran tersebut, posisi MIDLAS VLS pada KRI Balaputradewa 322 terletak di bagian midship (tengah kapal). Penempatan di tengah ini memberikan keuntungan pada distribusi bobot kapal agar tidak terlalu berat di depan (nose-heavy), mengingat 64 cell adalah beban yang sangat masif.
Menaruh VLS di tengah meminimalisir guncangan saat kapal menerjang gelombang tinggi, sehingga proses peluncuran rudal bisa tetap stabil dalam kondisi laut yang buruk (high sea state).
Foto yang beredar mengonfirmasi bahwa PT PAL dan Babcock melakukan modifikasi desain internal yang signifikan untuk mengakomodasi kebutuhan TNI AL. Menempatkan 64 cell MIDLAS di posisi midship menjadikan siluet KRI Balaputradewa 322 terlihat sangat perkasa dan penuh dengan persenjataan dari depan hingga tengah.
Dengan menyematkan 64 cell MIDLAS, KRI Balaputradewa 322 bukan lagi kapal perang biasa, melainkan menjadi benteng terapung yang ditakuti. Integrasi teknologi Turki ini memberikan keuntungan strategis bagi Indonesia: akses terhadap teknologi rudal mutakhir tanpa batasan politik yang ketat, serta kemampuan untuk memperkuat armada laut dengan jumlah sel peluncur yang sangat besar, menjadikan TNI AL salah satu kekuatan laut paling disegani di kawasan Asia Tenggara. (Gilang Perdana)



Baru banget saya komen ini kapal berotot, semoga sensornya juga mumpuni sehingga bisa lock on target dengan baik, model2an begini positif sih nambah 4 lagi, lebih berotot daripada kelas Istif.
Next FMP Gen 2 dengan spek lebih gahar lagi
Semoga saja next FMP min 4 unit dengan tonase sedikit diatas FMP gen 1
Apa sudah ada kontrak efektif vls nya ato FFBNW
FFBNW 🙂
Buset. Ini mah udh Destroyer.
@pemantauan: mungkin bukan diremote karena setahu saya belum ada sistem begitu antar kapal perang permukaan berawak tetapi koordinasinya dengan komunikasi gugus tugas serta pertukaran data link, ini kita asumsikan dalam skenario terburuknya saat gelar pertempuran laut modern, sudah pasti kapal perang permukaan bahkan aset udara yang ada akan diarahkan ke titik koordinat musuh untuk kontra serangannya dan membalas apa yang telah musuh lakukan
@Widya Satria Budhi, coba kalau terapkan teknologi remote VLS dari kapal perang lain. kalau kapal perang berVLS udah mau karam, langsung diremote untuk menembak sisa rudal ada di kapal perang yang karam.. semacam jaringan datalink dalam akses.. ini bisa diupgrade. kalau kapal segede nya itu sebelum karam, memang ada dimanfaatkan usaha terakhir untuk membalas..
@pemantauan: jika dilihat dari performanya di atas kertas, sulit untuk musuh menembus pertahanan kapal apalagi nekat menembak tepat ke tengah (sudut 90 derajat secara vertikal) tanpa halangan, paling banter ya dari arah samping atau sudut 180 derajat horizontal untuk AShM dari kapal permukaan, kapal selam, helikopter maupun pesawat intai maritim serta pesawat tempur dan/atau arah atas miring dengan sudut 45-50 derajat untuk tembakan meriam kapal atau pesisir dan serangan drone bersenjata maupun loitering munition (drone kamikaze).
Jika skenarionya tetap menembak dari tengah secara vertikal walau asumsinya juga menempatkan VLS di posisi berbeda dalam sebuah pertempuran laut modern tetap saja tidak berarti apa-apa atau sudah tak berguna lagi akibat di ‘hit’ oleh musuh jika kapal sudah rusak berat bahkan lebih ekstrim lagi sampai hancur atau tenggalam 😓
“MIDLAS merupakan sistem Vertical Launching System (VLS) pertama yang dikembangkan secara mandiri oleh Turki, yang kini menjadi jawaban atas kebutuhan Indonesia akan sistem pemukul yang andal dan mandiri.”
Dikatakan mandiri bagi Turkiye sebagai pengembang sekaligus pengguna, tetapi tidak sepenuhnya mandiri bagi kita karena cenderung ketergantungan dengan satu negara pemasok saja.
“Dengan jumlah 64 lubang peluncur, fregat ini akan memiliki daya gempur yang setara dengan kapal penjelajah atau fregat berat kelas dunia.”
Kalo begitu tak perlu kapal destroyer lagi kan sudah terjawab oleh FMP, demi efisiensi anggaran pengadaan alutsista matra laut di masa mendatang cukup tambah lagi unitnya paling banyak hingga 18-20 unit dengan spek dan performa yang sama 👍
“MIDLAS bukan sekadar peluncur satu jenis rudal. Sistem ini dirancang sebagai peluncur multi-fungsi yang dapat menembakkan berbagai kategori rudal buatan Turki yang telah teruji.”
Peluncur rudal vertikal multiperan, bisa diisi rudal hanud atau SAM dan rudal anti kapal permukaan-permukaan atau AShM pada satu ‘wadah’, operator di ruang perang harus jeli jangan sampai keliru saat mereload rudal di VLS-nya pada saat menjalankan sebuah gelar pertempuran laut yang kompleks 😁 karena MIDLAS untuk rudal buatan dari negara yang sama apakah seluruh atau sebagian jenis rudal di atas akan ada di FMP? 🤔
“Menaruh VLS di tengah meminimalisir guncangan saat kapal menerjang gelombang tinggi, sehingga proses peluncuran rudal bisa tetap stabil dalam kondisi laut yang buruk (high sea state).”
Secara hidrodinamika sudah diperhitungkan dengan sangat matang berdasarkan design kapalnya sejak tahap perancangan awal untuk memastikan bahwa penambahan bobot senjata tidak mengorbankan kemampuan hidrodinamika kapal dalam bermanuver di laut lepas 👍
keren kl VLS 64 cell di tengah. tp itu harus diantisipasi. kl musuh nembak ke tengah tanpa halangan. tengah hancur. saya kira idealnya 32 depan dan 32 tengah. jadi yang salah satu utuh masih stabil.