BAP Pisco: LPD Makassar Class Made In Peru

Ada sepenggal rasa bangga datang dari Amerika Selatan, ini bukan tentang pencapaian kerjasama atau prestasi di bidang olah raga, melainkan pada 6 Juni 2018, AL Peru (Peruvian Navy) telah meresmikan pengoperasian BAP Pisco (AMP-156), yang tak lain adalah kapal perang jenis LPD (Landing Platform Dock). Lantas apa yang menarik dari BAP Pisco yang dirilis ribuan mil dari Indonesia ini?

Baca juga: Landing Platform Dock TNI AL – Peran dari Kapal Markas Hingga Rumah Sakit

Walau tak ada ikatan kerjasama langsung antara TNI AL dan AL Peru, namun faktanya BAP Pisco adalah LPD yang termasuk dalam Makassar Class. Dan identitas Makassar Class secara langsung merujuk pada entitas ke-Indonesiaan. Walau menyandang nama Makassar, namun desain LPD ini sepenuhnya dirancang oleh Daesun Shipbuilding & Engineering, BusanKorea Selatan. Label Makassar Class dinobatkan karena kapal perdana di kelas ini adalah KRI Makassar 590. Dan hingga saat ini, jumlah Makassar Class yang telah dioperasikan TNI AL ada empat unit, yaitu KRI Makassar 590, KRI Surabaya 591, KRI Banjarmasin 592 dan KRI Banda Aceh 593.

KRI Makassar 590 dan KRI Surabaya 591 masih asli dibuat di Korea Selatan, lalu sebagai wujud ToT (Transfer of Technology), kapal ketiga dan keempat sudah dibuat di galangan PT PAL, Surabaya. Saat ini PT PAL tengah merampungkan pembangunan pesanan kelima LPD Makassar untuk TNI AL. Kerjasama PT PAL dan Daesun Shipbuilding rupanya membawa berkah tersendiri, lantaran basis Makassar Class yang diproduksi PT PAL telah sukses menuai order dari Filipina dengan dibuatnya dua unit LPD Tarlac Class.

Kembali ke Peru, rupanya jejak Indonesia ingin diikuti Negeri Machu Picchu ini. Sebagai buktinya LPD Makassar Class untuk Peru tak dibuat di Korea Selatan, melainkan langsung dibuat oleh galangan SIMA (Servicios Industriales de la Marina S.A) di kota Callao. Dalam kontrak kerjasama yang diteken tahun 2012, disepakati proyek pembagunan dua unit LPD Makassar Class, yakni BAP Pisco dan BAP Paita dalam periode 2013 – 2017.

Kocek untuk kontrak pembangunan BAP Pisco adalah US$60 juta. Peletakan lunas pertama kapal ini dilakukan pada 12 Juli 2013, dan diluncurkan pada 25 April 2017, kemudian tak berapa lama pada 6 Juni lalu, BAP Pisco dengan segala kelengkapan dan persenjataannya telah resmi dioperasikan pihak angkatan laut. Sementara kapal kedua, BAP Paita baru dilakukan peletakan lunas pertama pada Desember 2017.

Dari desain, ukuran dan dimensi antara BAP Pisco dan KRI Makassar 590 boleh dibilang identik. Begitu pun dengan kapasitas angkut helikopter, kargo, kapasitas dock sampai jenis mesin, keduanya bak pinang dibelah dua. Namun tak semuanya sama, BAP Pisco pada bagian haluan dilengkapi satu pucuk kanon AE Systems 40Mk4 kaliber 40 mm, dua pucuk Rafael Typhoon RCWS kaliber 30 mm, dan empat pucuk senapan mesin berat Rafael Mini Typhoon kaliber 12,7 mm yang juga dioperasikan secara remote.

Baca juga: LPD Type 071 – Kapal Angkut Amfibi Untuk Mimpi Ekspansi Militer Cina

BAP Pisco dalam dock-nya dimuati oleh dua LCU (Landing Craft Utility) ukuran 23 meter. Deck kargonya mampu menampung 18 tank amfibi dan 3 unit truk berat. Awaknya berjumlah 157, terdiri dari 14 perwiran dan personel tim udara. Untuk operasi lintas laut, 400 Marinir dapat dibawa oleh LPD Makassar Class ini. (Gilang Perdana)

Spesifikasi BAP Pisco (Makassar Class)
– Tonnage: 8.400 ton
– Displacement: 7.300 ton (standard)/ 11.394 tons (full load)
– Length: 122 meter
– Beam: 22 meter
– Height: 56 meter
– Draft: 4.9 meter
– Propulsion: CODAD, 2 shafts/ 2 × MAN B&W 8L28/32A diesel rated at 2666 BHP/1960 [email protected] 775 RPM
– Speed: Maximum 16 knots/ Cruising 14 knots/ Economy 12 knots
– Range: 30 days, up to 18.520 km
– Endurance: +45 days

8 Comments