Norinco PHL-16 “Chinese HIMARS” – Jawaban Cina pada Sistem Senjata Artileri Roket dan Rudal Balistik Taktis

Kemunculan M142 HIMARS (High Mobility Artillery Rocket System) pada tahun 1993, dilanjutkan dengan dioperasikan Angkatan Darat AS (US Army) sejak Juni 2005, telah memicu perhatian Cina akan kemampuan sistem artileri roket MLRS yang modern, yang belakangan telah terbukti battle proven di palagan Irak dan Ukraina. Dan sebagai tandingan, Cina kemudian menghadirkan “Chinese HIMARS” PHL-16.
Baca juga: Rheinmetall dan Lockheed Martin Kembangkan GMARS – ‘Sentuhan’ HIMARS untuk Pasar Eropa
Ada indikasi bahwa pengembangan PHL-16 dipengaruhi oleh kehadiran sistem artileri roket sejenis, termasuk HIMARS milik AS.
Meskipun PHL-16 (juga dikenal sebagai PCL-191) atau AR3 (varian ekspor) – dikembangkan dari platform yang sudah ada sebelumnya, banyak analisis militer menganggapnya sebagai “jawaban” Beijing terhadap kesuksesan dan kemampuan HIMARS. Cina tidak terikat oleh Perjanjian Angkatan Nuklir Jarak Menengah (INF) seperti AS, yang memungkinkan mereka untuk mengembangkan rudal balistik dan roket darat dengan jangkauan lebih dari 500 km.
Uni Emirat Arab Borong Sistem Senjata Armed dari Cina, Norinco AR3 Launchers
Fokus pengembangan PHL-16 adalah untuk melampaui kemampuan HIMARS, terutama dalam hal jangkauan, dengan roket yang mampu mencapai target hingga 500 km, jauh melebihi jangkauan maksimum HIMARS saat ini. Ini merupakan bagian dari strategi Cina untuk menyaingi kekuatan militer AS, khususnya di kawasan Indo-Pasifik.
PHL-16 sering disebut sebagai “Chinese HIMARS” karena keduanya memiliki filosofi desain dan peran operasional yang sangat mirip. Keduanya mewakili evolusi sistem artileri roket modern.

Baik PHL-16 maupun HIMARS dipasang pada sasis truk beroda (wheeled chassis), bukan pada sasis tank berantai (tracked chassis) seperti pendahulunya (contoh: M270 MLRS). Desain ini membuat keduanya sangat lincah, dapat bergerak cepat di jalan raya, dan lebih mudah dipindahkan antar lokasi penembakan. Mobilitas tinggi ini sangat krusial dalam pertempuran modern.
Keduanya menggunakan sistem peluncuran berbasis “pod” atau kontainer. Ini berarti kru dapat dengan cepat mengganti pod yang kosong dengan yang baru, secara signifikan mengurangi waktu pengisian ulang amunisi. Modul ini juga dapat menampung berbagai jenis amunisi, mulai dari roket berkaliber kecil hingga rudal balistik taktis.
1/3 The 🇨🇳PLAGF long-range PCL-191 / PHL-16 MLRS Battalion of the 73rd Artillery Brigade (73rd Group Army, Eastern Theater Command) organized a long-range maneuver drill (strategic railway projection) & a long-range live-fire shooting drill… pic.twitter.com/YNSIX4hymp
— Jesus Roman (@jesusfroman) October 11, 2024
Keduanya juga dirancang untuk menembakkan amunisi berpemandu presisi (precision-guided munitions/PGMs). HIMARS terkenal karena akurasi roket GMLRS-nya, dan PHL-16 juga memiliki roket berpemandu presisi yang serupa. Kemampuan ini memungkinkan kedua sistem untuk menyerang target bernilai tinggi dengan akurat, mengurangi kerusakan jaminan, dan memaksimalkan efektivitasnya.
Kedua sistem digunakan untuk peran serupa, yaitu serangan artileri jarak jauh terhadap target musuh yang berada di luar jangkauan artileri konvensional, seperti pusat komando, pangkalan logistik, atau konsentrasi pasukan.
Namun, perlu dicatat bahwa PHL-16 memiliki beberapa perbedaan signifikan, termasuk jangkauan yang lebih jauh dengan roket yang lebih besar dan kapasitas peluncuran yang lebih beragam.
Chinese PCL-191 (PHL-16) MLRS firing 370mm air-burst guided missiles and 750mm tactical missiles with a range of up to 500 km.
It offers modularity, allowing for rapid reconfiguration to carry either 8x 370mm rockets or 2 x 750mm Fire Dragon 480 tactical ballistic missiles. pic.twitter.com/a4iteOphVX
— Clash Report (@clashreport) October 20, 2024
PHL-16
PHL-16 diproduksi oleh China North Industries Group Corporation (Norinco), yang merupakan salah satu produsen pertahanan terbesar di China. Norinco bertanggung jawab atas pengembangan dan produksi berbagai macam sistem darat, termasuk kendaraan tempur, artileri, amunisi, dan rudal.
PHL-16 mulai dioperasikan oleh militer Cina sekitar tahun 2019. Debut publiknya yang paling signifikan adalah saat parade militer Hari Nasional Cina pada 1 Oktober 2019, di mana beberapa kendaraan peluncur PHL-16 dipamerkan. Penampilannya dalam parade tersebut menandai pengakuan resmi bahwa sistem ini telah aktif digunakan oleh militer Cina.
🇨🇳PLAGF PCH-191/PHL-16 MLRS
370mm vs 300mm pic.twitter.com/aSXGwK5BZ7
— David Wang (@Nickatgreat1220) May 8, 2023
Tandingi M142 HIMARS
Meskipun PHL-16 dan HIMARS memiliki konsep dasar yang serupa, ada beberapa faktor utama yang menjadikan PHL-16 dianggap dapat menandingi, bahkan dalam beberapa aspek melampaui kemampuan HIMARS.
PHL-16 mampu menembakkan berbagai jenis roket dari berbagai kaliber, termasuk 300 mm dan 370 mm. Jangkauan maksimumnya bisa mencapai sekitar 300 hingga 500 km dengan roket berpemandu. Ini jauh melampaui jangkauan HIMARS.

HIMARS memiliki jangkauan efektif sekitar 70-85 km dengan roket GMLRS (Guided Multiple Launch Rocket System) dan jangkauan sekitar 300 km dengan rudal ATACMS.
PHL-16 merupakan sistem “multi-kaliber” sejati. Ia dapat memuat dan menembakkan berbagai jenis pod peluncur, memungkinkan penggunaan roket yang berbeda ukurannya (122 mm, 300 mm, 370 mm), serta rudal balistik taktis yang lebih besar, hanya dengan mengganti modul. Sementara, HIMARS meskipun sangat fleksibel, umumnya terbatas pada peluncuran roket kaliber 227 mm (GMLRS) dan rudal ATACMS, yang keduanya dimuat dalam satu jenis pod.
Taiwan ‘Diam-diam’ Aktifkan M142 HIMARS dengan Rudal ATACMS, Mampu Jangkau Pesisir Cina Daratan
PHL-16 karena sasis truknya yang lebih besar – Wanshan WS2400 (juga digunakan oleh Korps Marinir) dengan konfigurasi 8×8. maka PHL-16 dapat membawa dua pod peluncur yang masing-masing berisi 4-5 roket besar atau satu rudal balistik taktis. Sebaliknya, HIMARS: hanya dapat membawa satu pod peluncur (berisi 6 roket GMLRS atau 1 rudal ATACMS) per kendaraan.
Laporan dan analisis dari berbagai sumber militer dan media pertahanan menunjukkan bahwa Cina telah menempatkan sistem roket PHL-16 di sepanjang pesisir yang berhadapan langsung dengan Selat Taiwan, terutama di Provinsi Fujian. Keberadaan PHL-16 di wilayah tersebut telah didokumentasikan dalam laporan intelijen dan analisis, terutama setelah latihan militer skala besar yang dilakukan di sekitar Taiwan.

Keunggulan jangkauan PHL-16 yang jauh (mampu mencapai 300-500 km) menjadikannya senjata yang sangat efektif untuk mendukung operasi pendaratan amfibi, menghancurkan target di Taiwan dari jarak aman di daratan Cina, serta mengintimidasi Taiwan dengan menampilkan kemampuan serangan jarak jauh yang presisi.
Namun, di seberang lautan, Taiwan juga telah siap untuk melakukan serangan balasan ke pesisir Cina, khususnya dengan status Taiwan yang tercatat sebagai pengguna M142 HIMARS. (Gilang Perdana)
Taiwan Order Lagi M142 HIMARS Berikut Rudal MGM-140 ATACMS, Plus Sistem Hanud NASAMS



boleh nih, indo beli ini, atau ya sistem turki yang mirip sepertinya ada (dan lebih aman)
Bukannya Rusia dan Amerika udh sama2 menarik diri dari Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty ya min? Klo ga salah 2019 apa 2018, atau pas invasi Ukraina.