Thailand Akuisisi Sistem Rudal Hanud Modular Barak MX dari Israel Senilai US$107 Juta

Setelah mengalami ‘pembatalan’ pesanan dari Denmark, sistem pertahanan udara (hanud) berbasis rudal Barak MX buatan Israel Aerospace Industries (IAI) akhirnya menemukan rumah barunya di Asia Tenggara. Thailand, melalui Angkatan Udara Kerajaan Thailand (Royal Air Thai Force – RTAF), dilaporkan telah mengakuisisi sistem canggih ini dengan nilai kesepakatan yang signifikan.
Kabar mengenai akuisisi ini mulai mendapatkan perhatian publik setelah RTAF memasukkan alokasi anggaran spesifik untuk pembelian sistem hanud baru.
Nilai kontrak yang disepakati senilai 3,44 miliar Baht Thailand, yang setara dengan sekitar US$107 juta, meski begitu detail spesifik mengenai jumlah baterai atau unit peluncur yang dibeli tidak diungkapkan kepada publik, namun nilai kontrak tersebut menunjukkan adanya komitmen untuk mengintegrasikan setidaknya satu baterai penuh sistem Barak MX beserta rudal dan peralatan pendukungnya.
Penggunaan Barak MX oleh RTAF akan berfokus pada pertahanan titik (point defense) yang kritis, yaitu melindungi pangkalan udara utama, pusat komando, dan instalasi penting lainnya dari serangan rudal jelajah dan pesawat tempur musuh.

Keputusan RTAF memilih Barak MX sangat strategis karena sistem ini dirancang dengan arsitektur modular yang unik. Artinya, RTAF dapat menggunakan satu sistem radar dan command post yang sama untuk mengendalikan tiga jenis rudal yang berbeda berdasarkan jangkauan, yaitu Barak MRAD (jarak menengah) dengan jarak jangkau 35 km dan ketinggian intersepsi 20 km; Barak LRAD (jarak jauh) dengan jarak jangkau 70 km dan ketinggian intersepsi 20 km; dan Barak ER (jarak jauh diperluas) dengan jarak jangkau 150 km dan ketinggian intersepsi 30 km. Yang terakhir, dilengkapi booster tambahan dan motor dual-pulse; memiliki kemampuan ditingkatkan terhadap rudal balistik taktis.
Meskipun IAI tidak secara spesifik merilis kecepatan rudal (biasanya dirahasiakan), rudal pencegat di kelas ini umumnya memiliki kecepatan sangat tinggi, seringkali mencapai Mach 3 (tiga kali kecepatan suara) atau lebih, untuk memastikan mereka dapat mencapai dan mencegat target yang bergerak cepat seperti rudal jelajah dan pesawat tempur.

Fleksibilitas ini memungkinkan RTAF menyesuaikan respons pertahanan udaranya terhadap berbagai jenis ancaman, mulai dari drone, pesawat terbang, hingga rudal jelajah.
Keputusan Thailand untuk berinvestasi dalam sistem HIMAD (High to Medium Air Defense) muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran regional. Negara-negara tetangga seperti Kamboja dan Myanmar sedang mengerahkan aset serangan jarak jauh, termasuk sistem roket PHL-03 buatan yang punya jangkauan 130 km dan rudal balistik kelas Scud dari Korea Utara (jangkauan 300–700 km). Maraknya penggunaan UAV, amunisi loitering, dan rudal jelajah semakin meningkatkan kebutuhan akan solusi intersepsi yang andal.
Angkatan Darat dan Angkatan Laut Thailand dilaporkan sedang mengevaluasi sistem Barak MX untuk pengadaan di masa mendatang, yang berpotensi memperluas penggunaannya di seluruh angkatan untuk menyediakan jaringan pertahanan udara operasional bersama. (Gilang Perdana)
Related Posts
-
Perancis dan Jerman Beda Pandangan Tentang Proyek Jet Tempur Masa Depan – FCAS/SCAF
3 Comments | Aug 31, 2023 -
Kembali ke Pengadaan Kapal Selam dari Perancis, Mantan Laksamana Australia Minta Proyek Kapal Selam Nuklir Virginia dan AUKUS class Dibatalkan
1 Comment | Dec 16, 2024 -
Cockerill i-X 4×4 – Ranpur “Interceptor” Futuristik dengan Tenaga Hibrida
No Comments | Dec 22, 2022 -
Taiwan Rampungkan Fase Pertama Upgrade F-16 Lawas ke Standar F-16 Viper
3 Comments | Mar 20, 2021


