Shahed Drone SeriesKlik di Atas

Pasar Drone Kamikaze Diprediksi Melonjak 400% di 2030, Ini Kata Rosoboronexport 

Lanskap peperangan modern sedang mengalami pergeseran tektonik menuju otomatisasi. Hal ini ditegaskan oleh proyeksi terbaru dari Rosoboronexport, eksportir senjata Rusia, yang memprediksi ledakan permintaan global untuk drone kamikaze dalam dekade ini.

Baca juga: Satukan Potensi di Pasar Drone Tempur (UCAV), Leonardo dan Baykar Makina Sepakat Bentuk Joint Venture

Menjelang pameran internasional sistem tak berawak dan simulator UMEX 2026 (20-22 Januari 2026) di Abu Dhabi, Direktur Jenderal Rosoboronexport, Alexander Mikheev, menyampaikan data yang mengejutkan. Ia memperkirakan permintaan untuk loitering munitions—atau yang lebih populer dikenal sebagai drone kamikaze—akan meroket hingga 400 persen pada tahun 2030.

Prediksi ini bukan sekadar angka pemasaran, melainkan cerminan dari realitas baru di medan tempur yang telah mengubah doktrin militer di seluruh dunia.

Dalam pernyataannya yang dikutip oleh Kantor Berita Tass (19/1/2026), Mikheev menyoroti bahwa teknologi tak berawak adalah salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat di pasar senjata global.

Norinco Feilong-300D: Drone Kamikaze Tiruan Shahed-136, Dijual per Unit Rp167 Juta untuk Pasar Ekspor

“Rosoboronexport memulai kampanye pemasaran tahun 2026 dengan pameran UMEX 2026, yang didedikasikan untuk teknologi tak berawak… Perusahaan pengembangan Rusia, termasuk yang berafiliasi dengan Rostec State Corporation, secara aktif bekerja di bidang ini,” ujar Mikheev.

Ia kemudian merinci proyeksi pertumbuhan tersebut: “Menurut perkiraan kami, permintaan UAV (drone konvensional) akan tumbuh sebesar 120% pada tahun 2030, dan untuk loitering munitions (drone kamikaze) sebesar 400%.”

Prediksi Rosoboronexport, meskipun ambisius, sejalan dengan tren yang diamati oleh analis pertahanan global. Lonjakan permintaan 400% untuk drone kamikaze didorong oleh konvergensi antara kebutuhan taktis mendesak dan kematangan teknologi.Faktor pendorong terbesar adalah “efek demonstrasi” dari konflik terkini, terutama perang di Ukraina dan sebelumnya di Nagorno-Karabakh.

Dubai Airshow 2025: Zala Aero Pamerkan Varian Drone Kamikaze Lancet E yang Ditingkatkan

Konflik-konflik tersebut telah mengubah status drone kamikaze dari aset niche (khusus) menjadi kebutuhan operasional primer. Dunia menyaksikan bagaimana loitering munition yang relatif murah (seperti Lancet milik Rusia atau Switchblade milik AS) mampu melumpuhkan sistem artileri, radar pertahanan udara, bahkan Main Battle Tank (MBT).

Daya tarik utama drone kamikaze adalah rasio biaya-manfaatnya yang luar biasa. Dalam perang yang berkepanjangan, kemampuan untuk menghancurkan aset musuh bernilai jutaan dolar hanya dengan amunisi seharga puluhan ribu dolar adalah pengubah permainan (game-changer).

Prediksi pertumbuhan hingga tahun 2030 juga memperhitungkan lompatan teknologi yang akan datang. Generasi drone kamikaze berikutnya tidak hanya akan dikendalikan dari jarak jauh, tetapi akan semakin otonom. Integrasi Kecerdasan Buatan (AI) memungkinkan drone untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan target sendiri di lingkungan yang terganggu sinyalnya (GPS-denied environment). Lebih jauh lagi, teknologi swarming (gerombolan) akan memungkinkan puluhan drone kamikaze menyerang sistem pertahanan udara musuh secara bersamaan, membuat sistem pertahanan konvensional kewalahan. (Bayu Pamungkas)

Cina Didapuk Sebagai “Superpower di Pasar Drone Kombatan,” Ini Faktanya!

2 Comments