Menuju 75 Unit: Israel Terima Tiga Jet Tempur F-35I Adir Baru di Nevatim untuk Perkuat Skuadron Stealth

Angkatan Udara Israel (IAF) baru saja memperkuat armada tempur silumannya dengan menerima batch pertama pengiriman terbaru yang terdiri dari tiga unit jet tempur stealth F-35I Adir. Pesawat-pesawat tersebut mendarat di Pangkalan Udara Nevatim pada 11 Januari 2026, setelah melakukan penerbangan panjang dari fasilitas Lockheed Martin di Fort Worth, Texas.
Kedatangan unit tambahan ini merupakan bagian dari realisasi nyata atas komitmen pertahanan jangka panjang antara Amerika Serikat dan Israel untuk memastikan negara tersebut tetap memiliki keunggulan udara kualitatif (Qualitative Military Edge) di tengah meningkatnya tensi keamanan di Timur Tengah.
Langkah ini menyusul keputusan strategis Kementerian Pertahanan Israel yang baru-baru ini merampungkan kontrak pengadaan skuadron ketiga F-35I. Dalam kesepakatan terbaru senilai kurang lebih US$3 miliar, Israel secara resmi menambah pesanan sebanyak 25 unit jet tempur stealth tambahan.
Dengan adanya kontrak baru ini, total armada F-35I “Adir” yang dipesan Israel kini mencapai 75 unit secara keseluruhan. Pendanaan untuk akuisisi skuadron ketiga ini bersumber dari dana bantuan militer luar negeri Amerika Serikat (Foreign Military Financing/FMF), yang menegaskan kedekatan hubungan militer kedua negara dalam menghadapi dinamika geopolitik kawasan.
NEW: Israel’s F-35 Fleet Grows 🇮🇱
Three new F-35I “Adir” stealth jets are set to arrive at Nevatim Airbase tomorrow, boosting the Israeli Air Force to 48 Adirs.
Part of a long term plan to expand the fleet to 75 stealth fighters.
Israeli media reports. pic.twitter.com/PJQYxcY6aq
— Defence Index (@Defence_Index) January 18, 2026
Apa yang membuat pengiriman ini sangat krusial adalah spesifikasi unik dari varian “Adir”. Berbeda dengan F-35 standar yang dioperasikan oleh negara lain, F-35I Israel dirancang khusus agar bisa mengintegrasikan sistem peperangan elektronik (Electronic Warfare/EW) buatan domestik Israel yang sangat rahasia.
Selain itu, pesawat ini memiliki arsitektur terbuka yang memungkinkan Angkatan Udara Israel untuk memasang sistem senjata buatan industri pertahanan lokal, seperti rudal udara-ke-udara Python dan bom berpemandu presisi Spice, tanpa harus selalu bergantung pada pembaruan perangkat lunak dari produsen utama di Amerika Serikat.
Sejak pertama kali dioperasikan pada tahun 2017, armada F-35I telah menjadi ujung tombak operasi intelijen dan serangan strategis jarak jauh Israel. Dengan kemampuan siluman (stealth) yang sangat mumpuni, jet ini mampu menyusup ke wilayah udara yang dilindungi oleh sistem pertahanan udara paling canggih sekalipun.
Penambahan tiga unit terbaru ini akan langsung diintegrasikan ke dalam skuadron yang sudah ada untuk memperluas cakupan misi pengintaian dan kesiapan tempur, memastikan bahwa setiap ancaman dapat dideteksi dan dinetralisir sebelum mencapai wilayah kedaulatan mereka.
Operasi “Outstretched Arm” – Serangan Balasan Jarak Jauh Israel ke Houthi (Yaman) dengan F-35I Adir
Kesepakatan pengadaan skuadron ketiga ini juga mencakup paket dukungan logistik yang komprehensif serta pelatihan pilot yang berkelanjutan. Dengan target akhir sebanyak 75 unit pesawat di masa depan, Israel diproyeksikan akan memiliki tiga skuadron penuh F-35I yang beroperasi secara organik. Kapabilitas ini tidak hanya memberikan fleksibilitas operasional yang luar biasa, tetapi juga memastikan bahwa Israel tetap memegang kendali penuh atas supremasi udara di kawasan selama beberapa dekade mendatang. (Bayu Pamungkas)


