Ditempatkan di Dasar Laut, Ilmuwan Cina Kembangkan “Deep Sea Radar” – Mampu Deteksi Sasaran di Udara pada Ketinggian 5.000 Meter

Selain proyek dari perusahan Jerman – Thyssenkrupp Marine Systems dan Diehl Defence, yang tengah merancang rudal hanud (pertahanan udara) yang diluncurkan dari tabung torpedo kapal selam, maka boleh jadi klaim dari ilmuwan Cina ini juga bakal lebih menarik perhatian global, pasalnya akan merubah tatanan dalam dunia peperangan bawah air.
Perubahan tatanan peperangan bawah air, khususnya akan berdampak langsung pada kemampuan operasi kapal selam. Seperti dikutip South China Morning Post – scmp.com (26/1/2025), disebut ilmuwan Cina membangun radar laut dalam (deep sea radar) pertama yang mampu mendeteksi pesawat yang terbang tinggi.
Di lokasi yang dirahasiakan, rangkaian sensor akustik yang ditempatkan di dasar laut pada kedalaman 1.000 meter telah berhasil mendeteksi dan melacak pesawat sayap tetap yang terbang pada ketinggian 5.000 meter, menurut para ilmuwan yang terlibat dalam proyek tersebut.

Radar laut dalam yang inovatif ini berpotensi mengubah kapal selam Cina dari mangsa menjadi predator dalam operasi anti kapal selam.
Jika sebuah pesawat intai maritim dilengkapi dengan sensor canggih, maka pesawat tersebut dapat mendeteksi kapal selam tanpa sepengetahuan mereka dan menyerang kapal selam dengan menorpedonya. Namun, jika kapal selam dapat menerima peringatan dari radar bawah laut dan memperoleh perkiraan koordinat pesawat di atasnya, maka kapal selam dapat meluncurkan rudal dari bawah air untuk menghancurkan sasaran di udara lebih dulu.

Cina mengklaim, sampai saat ini belum ada negara lain yang memiliki teknologi deteksi canggih seperti ini. Sebagian besar gelombang suara yang dihasilkan oleh pesawat udara dipantulkan kembali ke langit oleh permukaan laut, dan hanya sebagian kecil yang menembus air.
Gelombang suara ini kemudian menjadi sangat terdistorsi saat melewati berbagai lapisan air laut dengan suhu, kepadatan, dan kadar garam yang berbeda, serta arus dan pusaran laut.

Sebagai catatan, beberapa kapal selam modern saat ini dilengkapi dengan radar udara yang dapat digunakan untuk mendeteksi pesawat atau helikopter di permukaan udara. Namun, radar ini biasanya hanya dapat dioperasikan ketika kapal selam berada di posisi snorkeling atau saat periskopnya muncul di atas permukaan air.
Sistem radar udara pada kapal selam meliputi radar periskop atau mast-mounted, sering kali dipasang pada periskop atau tiang kapal selam (mast) yang digunakan saat snorkeling.
Kemudian ada radar multi-fungsi modern, kapal selam canggih, seperti Virginia class (AS) atau Scorpène class (Prancis), menggunakan radar kompak yang dapat mendeteksi ancaman udara maupun permukaan. Namun, radar ini tidak dapat digunakan saat kapal selam sedang menyelam dalam, karena gelombang radar tidak dapat menembus air. (Bayu Pamungkas)
Aries-LPI – Radar Intai Buatan Spanyol di Menara Kapal Selam Nagapasa Class



Saya sampai saat ini masih meragukan klaim china ini yg bisa melihat pesawat udara (sampai 5000m lg) dari kedalaman laut 1000m….belum ada penjelasan ilmiahnya….ilmu pengetahuan yg sampai saat ini diterima semua kalangan bahawa gelombang radar (untuk mendeteksi pesawat udara) tidak bisa menembus air, makanya di dalam air laut kapal selam memakai radar untuk navigasi dan memamndu torpedo…SONAR sound and navigation ranging….yg plg masuk akal pada saat kapal selam snorkeling, mereka mengeluarkan radar bersamaan dg periskop (radarnya nongol di udara, ga didalam air)…..noway radar bisa beroperasi dari kedalaman laut……
Kalo ARAH SINYAL RADARnya dr BAWAH berati STEALTH nggak ada gunanya lagi doong……..???
Bener nggak ???
Jika Thyssenkrupp Marine Systems dan Diehl Defence tengah merancang rudal hanud (pertahanan udara) yang diluncurkan dari tabung torpedo kapal selam dan ilmuwan Tiongkok membangun radar laut dalam (deep sea radar) pertama yang mampu mendeteksi pesawat yang terbang tinggi dengan rangkaian sensor akustik yang ditempatkan di dasar laut pada kedalaman 1.000 meter untuk mendeteksi dan melacak pesawat sayap tetap yang terbang pada ketinggian 5.000 meter. Maka, bagaimana dengan AS apakah tidak mempertimbangkan lagi untuk melanjutkan program Cormorant MPUAV yang dibatalkan DARPA tahun 2008?