‘Dikawal’ Proposal dari Empat Manufaktur, Filipina Percepat Program Pengadaan Kapal Selam

Dengan agresifitas Cina di Laut Filipina Barat, yang mengganggu zona ekonomi eksklusif (ZEE) Filipina, maka Manila kini mengintensifkan upaya untuk membangun kemampuan perang bawah laut yang dapat berfungsi sebagai pencegah dan pengganda kekuatan strategis di tengah meningkatnya ketegangan regional. Konkritnya, Filipina mempercepat pengadaan kapal selam sebagai respons strategis terhadap meningkatnya ancaman dari Angkatan Laut Cina.

Baca juga: Ingin Punya Kapal Selam, Filipina Terobsesi Pada Scorpène Class

Pengadaan kapal selam Filipina yang telah direncanakan berada di bawah fase Re-Horizon 3 dari AFP Modernization Program yang Direvisi, dan telah disetujui pada Januari 2024. Dengan anggaran yang dialokasikan sebesar PHP 80 miliar hingga PHP 110 miliar (sekitar USD 1,4 hingga 2 miliar), program tersebut mencakupnya akuisisi setidaknya dua kapal selam diesel-listrik modern selama dekade mendatang.

Program akuisis juga mencakup pengembangan infrastruktur berbasis pantai, pusat pelatihan, sistem pendukung logistik, dan fasilitas pemeliharaan, yang menciptakan ekosistem lengkap untuk mendukung operasi kapal selam.

Guna mengawal kebutuhan Filipina, kini ada empat kontraktor (Galangan) pertahanan internasional yang telah resmi mengajukan proposal untuk memasok kapal selam yang disesuaikan dengan kebutuhan operasional dan strategis Angkatan Laut Filipina.

Spanyol Tawarkan Paket Dua Kapal Selam AIP (S-80 Class) Berikut Pembangunan Pangkalan untuk Filipina

Naval Group dari Perancis menjadi yang pertama, dalam memberikan proposal, yaitu mengusulkan kapal selam Scorpène class yang telah teruji dalam pertempuran, yang telah diadopsi oleh beberapa angkatan laut termasuk India, Brasil, dan Malaysia. Penawaran kepada Filipina mencakup paket dukungan yang komprehensif: pembangunan pangkalan kapal selam di Galangan Kapal Agila di Subic, pelatihan personel yang ekstensif, dan pengaturan pinjaman keuangan jangka panjang untuk meringankan biaya akuisisi.

Scorpène dikenal karena kemampuan siluman akustiknya, rangkaian sonar yang tangguh, dan kemampuan untuk menyebarkan torpedo dan rudal untuk peran antipermukaan dan serangan darat.

[the_ad id=”77299″]

Kemudian ada Navantia dari Spanyol telah memasuki persaingan dengan kapal selam S-80 Plus class yang canggih, sebuah platform yang dicirikan oleh air-independent propulsion (AIP), daya tahan yang lama, dan tingkat otomatisasi yang tinggi.

Proposal Spanyol juga mencakup pendirian pangkalan kapal selam baru dan fasilitas pelatihan di Ormoc, Leyte. Dirancang untuk patroli laut dalam dan jangka panjang, S-80 Plus meningkatkan proyeksi kekuatan dan mampu melaksanakan berbagai misi termasuk pengawasan, pengumpulan intelijen, dan interdiksi maritim.

Kepincut Pinjaman Lunak dari Korea Selatan, Filipina Lirik Kapal Selam Type 209/1400

Hanwha Ocean dari Korea Selatan menjadi pemberi proposal ketiga, yaitu dengan Changbogo-III PN, varian khusus dari kapal selam KSS-III class untuk Filipina. Kapal tersebut mengintegrasikan sistem sonar canggih, baterai lithium-ion berkapasitas besar, dan tanda akustik yang lebih rendah.

Proposal Korea Selatan tidak hanya mencakup perangkat keras, tetapi juga mencakup program pelatihan spektrum penuh, kerja sama pemeliharaan, dan transfer teknologi, mengikuti model yang berhasil diterapkan di armada domestik Indonesia dan Seoul. Arsitektur modular KSS-III dan potensi peningkatan di masa mendatang menjadikannya pilihan yang fleksibel untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang.

Datang dari Jerman dan Italia, sekaligus menjadi pengusung proposal keempat, Thyssenkrupp Marine Systems (Jerman) dan Fincantieri (Italia) telah bersama-sama mengajukan proposal untuk kapal selam U212 Near Future Submarine (NFS), platform generasi berikutnya yang menampilkan teknologi hydrogen fuel cell AIP dan ultra-quiet propulsion system.

Italia dan Jerman Berkolaborasi Tawarkan Kapal Selam dari Basis U212 NFS Untuk Filipina

Dengan kemampuan siluman dan daya tahan yang luar biasa, U212 NFS dirancang untuk operasi multiperan di perairan yang disengketakan. Penawaran konsorsium Eropa tersebut tidak hanya menyoroti teknologi mutakhir tetapi juga kerja sama strategis jangka panjang, termasuk dukungan siklus hidup dan potensi pengaturan produksi bersama dengan mitra industri Filipina.

Lebih dari sekadar pengadaan militer, priogram pengadaan kapal selam menandakan perubahan strategis menuju kemandirian, pencegahan, dan penegakan hukum internasional di salah satu wilayah maritim paling tidak stabil di dunia.

[the_ad id=”77299″]

Seleksi akhir akan membentuk masa depan operasional Angkatan Laut Filipina dan posisinya dalam lingkungan keamanan Indo-Pasifik yang terus berkembang. Terlepas dari aspek teknis, akuisisi alutsista bernilai besar sepeti kapal selam juga akan dipengaruhi oleh dukungan pendanaan, seperti kredit ekspor yang biasanya ditawarkan oleh negara produsen. (Gilang Perdana)

Cegah Investor Cina, AL Filipina Berencana Bangun Basis Kapal Selam di Teluk Subic