Seputar DSEI 2019Klik di Atas

Bungkam Sistem Radar Cina di Pesisir, Taiwan Siapkan Armada Drone Kamikaze Anti Radiasi

Dalam menghadapi eskalasi konflik bersenjata dengan Cina yang suatu waktu dapat meletus, boleh jadi pilihan terbaik bagi Taiwan adalah melalukan konsep pertahanan aktif, dimana jika perang (udara/laut) terjadi sedapatnya dilakukan di luar area Pulau Formosa atau persisnya di Selat Taiwan.

Baca juga: Kalashnikov KUB-UAV – Jawaban Rusia di Segmen Drone Kamikaze

Untuk itu, AU Taiwan harus lebih dulu dapat melumpuhkan instalasi vital yang ada di pesisir timur Cina Daratan. Selain menggenjot pengadaan jet tempur terbaru, termasuk rencana mengaktifkan kembali penempur F-5 E Tiger II, Taiwan juga tengah mempersiapkan armada drone kamikaze atau drone ‘bunuh diri.’

Dikutip dari taiwannews.com.tw (19/6/2019), Taiwan Air Force Air Defense and Missile Command telah mengonfirmasi rencana pengajuan dana sekitar US$2,54 miliar guna akuisisi armada drone kamikaze dan drone jenis pengintai. Drone kamikaze yang tengan dibangun National Chung-Shan Institute of Science & Technology (NCSIST) adalah drone anti radiasi. Disebut anti radiasi lantaran yang menjadi sasaran drone maut ini adalah perangkat radar militer Cina yang ada di wilayah pesisir. Dengan diluncurkan lewat catapult mobile, drone kamikaze anti radiasi dapat menjadi altenatif penghancuran sistem penginderaan Cina.

Membutakan sistem radar dalam peperangan udara menjadi misi vital, mengingat radar di permukaan (ground based radar) dipercaya yang akan memandu jet tempur dan pembom Cina jika terjadi misi penyerangan ke Taiwan. Guna membungkam sistem radar Cina, saat ini Taiwan mengandalkan rudal anti radiasi yang diluncurkan dari udara, yaitu AGM-88A/B HARM anti-radiation missile dan TC-2A. Pihak NCSIST menjanjikan nantinya biaya produksi drone kamikaze anti radiasi akan jauh lebih murah ketimbang penggunaan dua rudal anti radiasi tersebut.

Seperti apakah kemampuan drone kamikaze anti radiasi Taiwan ini? Jawabannya masih dirahasiakan, yang jelas NCSIST menyebut drone berpendorong propeller ini dapat menjangkau jaringan radar Cina di area pesisir. Dari sedikit informasi yang beredar, drome kamikaze yang akan diluncurkan pada babak awal pertempuran ini mempunyai kecepatan 185 km per jam, dan mampu melakukan loitering sekitar 100 jam dengan jarak operasi sampai 300 Km (Line of Sight). Guna meningkatkan fleksibilitas, drone kamikaze tidak membawa hulu ledak dalam jumlah besar, melainkan main body (fuselage) yang akan dimanfaatkan sebagai senjata utama.

Sistem drone kamikaze yang akrab disebut loitering guided weapon. Dalam moda otonom, drone kamikaze dapat dilepaskan secara fire and forget, dimana dengan bekal aneka sensor mampu mendeteksi, menyerang serta menghancurkan pemancar radar musuh dengan akurasi tinggi.

Baca juga: DefendTex Drone 40 – Konvergensi Teknologi Drone dan Munisi Kaliber 40mm untuk Pasukan Khusus

Mockup prototipe drone anti radiasi pertama kali dirilis dalam Taipei Aerospace & Defense Technology Exhibition (TADTE) 2017. Saat itu diperlihatkan sosok drone kamikaze anti radiasi yang desainnya mirip dengan drone Harop rancangan IAI, Israel. (Gilang Perdana)

3 Comments