Belajar dari Caracas: Menakar Keunggulan Buk-MB2K Belarusia untuk Indonesia vs Buk-M2E Venezuela yang Hancur

Peristiwa hancurnya sistem pertahanan udara Buk-M2E milik Venezuela di Pangkalan Caracas oleh serangan udara Amerika Serikat telah memicu perbincangan di kalangan netizen Indonesia. Pasalnya, sistem yang hancur tersebut memiliki kemiripan fisik yang identik dengan sistem Buk-MB2K yang tengah dilirik oleh TNI melalui jalur kerja sama dengan Belarusia.

Baca juga: Detik-detik AS Hancurkan Buk-M2E Venezuela di Caracas: Analisis Kegagalan Sistem Hanud Beroda Ban Rusia-Belarusia

Namun, jika ditelisik lebih dalam, “isi” di balik cangkang baja keduanya memiliki perbedaan generasi yang cukup signifikan. Perbedaan mendasar terletak pada arsitektur sistem elektroniknya.

Buk-M2E yang digunakan Venezuela merupakan produk Rusia yang dikembangkan dengan teknologi transisi antara analog dan digital. Radar PESA (Passive Electronically Scanned Array) yang diusungnya sepertinya kesulitan menghadapi taktik peperangan elektronik (jamming) masif yang digelar oleh pesawat pengganggu sinyal milik AS.

Sebaliknya, Buk-MB2K yang ditawarkan Belarusia ke Indonesia adalah hasil perombakan total secara digital. Belarusia, melalui perusahaan OKB TSP, telah menyuntikkan sistem pemrosesan sinyal modern dan algoritma Electronic Counter-Countermeasures (ECCM) yang jauh lebih tangguh. Hal ini memungkinkan sistem radar Belarusia untuk lebih cerdik dalam menyaring sinyal palsu atau gangguan elektromagnetik, sebuah kemampuan krusial agar tidak “buta” saat diserang seperti yang terjadi di Caracas.

Dari sisi daya pukul, Buk-MB2K memiliki keunggulan jangkauan berkat integrasi rudal terbaru, 9M318. Jika Buk-M2E Venezuela rata-rata hanya mampu menjangkau target pada jarak 45 hingga 50 kilometer, rudal 9M318 buatan Belarusia mampu mengejar sasaran hingga jarak 70 kilometer.

Lebih dari sekadar jarak, rudal 9M318 telah menggunakan teknologi Active Radar Homing. Artinya, rudal ini memiliki “mata” sendiri untuk mencari target di fase akhir penerbangan. Teknologi ini memberikan keuntungan taktis, yaitu kendaraan peluncur dapat segera mematikan radarnya dan berpindah tempat (shoot and scoot) sesaat setelah rudal diluncurkan, sehingga meminimalkan risiko terdeteksi oleh rudal anti-radar musuh seperti yang menghancurkan unit di Venezuela.

Di medan tempur Caracas, Buk-M2E tampak kewalahan menghadapi serangan jenuh dari berbagai arah. Varian Rusia-Venezuela ini umumnya hanya mampu mengunci 4 target secara simultan per kendaraan peluncur. Sementara itu, Buk-MB2K Belarusia telah ditingkatkan kemampuannya untuk menangani hingga 6 target sekaligus. Peningkatan ini sangat vital untuk menghadapi taktik serangan udara modern yang menggunakan gerombolan rudal jelajah atau drone dalam jumlah besar.

Sasis MZKT-6922 yang digunakan Venezuela adalah konfigurasi 6×6, sementara varian terbaru yang ditawarkan Belarusia ke Indonesia, yaitu Buk-MB2K (atau terkadang disebut dalam pengembangan lanjut sebagai bagian dari keluarga Buk-MB3K), memang menggunakan sasis MZKT-69221 dengan konfigurasi 8×8.

Dengan konfigurasi 8×8, kendaraan memiliki distribusi beban yang lebih baik. Hal ini sangat penting karena sistem Buk membawa rudal dan radar yang sangat berat. Sasis 8×8 memberikan stabilitas lebih tinggi saat bermanuver di tikungan tajam atau medan yang sedikit lebih lunak (seperti bahu jalan di Indonesia).

Sasis 8×8 memungkinkan kendaraan membawa lebih banyak peralatan elektronik tambahan, sistem pendingin yang lebih baik (penting untuk iklim tropis Indonesia), dan perlindungan lapis baja yang mungkin lebih tebal bagi kru di dalamnya. Meskipun tetap berbasis roda ban untuk kecepatan di jalan raya, penambahan gandar (axle) keempat pada 8×8 meningkatkan kemampuan kendaraan untuk melewati medan yang lebih sulit dibandingkan varian 6×6 milik Venezuela.

Antisipasi Serangan Udara AS, Venezuela Siapkan Decoy ‘Murah’ untuk Sistem Senjata Hanud

Kehancuran Buk-M2E di Venezuela memberikan pelajaran bahwa mobilitas saja tidak cukup. Untuk Indonesia, akuisisi Buk-MB2K dari Belarusia menawarkan peluang untuk memiliki sistem yang lebih modern secara digital dan memiliki jangkauan lebih luas.

Namun, keberhasilan sistem ini nantinya akan sangat bergantung pada seberapa baik TNI mengintegrasikannya dalam satu jaringan pertahanan udara nasional yang terpadu, agar tidak menjadi target tunggal yang mudah dilumpuhkan. (Gilang Perdana)

Indo Defence 2024 – Aselsan Tawarkan Indonesia “Steel Dome” – Sistem Pertahanan Udara Berlapis dan Terintegrasi

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *