Netizen Ramai Komentari Poster KCR PT PAL, Hit and Run atau Hit and Die?

Hit and Run, adalah taktik yang diterapkan oleh Satuan Kapal Cepat (Satkat), khususnya dalam penggelaran armada KCR (Kapal Cepat Rudal). Semisal saat menghadapi kapal perang lawan yang lebih ‘besar,’ maka taktik hit and run adalah opsi utama. Dalam skenario, selepas meluncurkan rudal anti kapal, KCR memang tak dirancang untuk meladeni duel dengan kapal perang tersebut, pasalnaya sebagai kapal cepat bertanase kecil, bekal persenjataan yang dibawa memang terbatas.
Baca juga: Kecepatan Kapal Jadi Dilema di Satuan Kapal Cepat TNI AL
Taktik hit and run umumnya digelar oleh kelompok yang terdiri dari beberapa KCR yang akan ‘mengeroyok’ sasaran, dan akan ‘kabur’ begitu telah melancarkan serangan. Belum lama ini, taktik hit and run untuk KCR mengemuka kembali, setelah akun Facebook PT PAL mengunggah poster yang menampilkan KRI Kerambit 627 dengan slogan “Hit and Run” pada 30 Juli lalu.
Yang menarik, tak seberapa lama setelah postingan diunggah, ratusan komentar netizen meramaikan kolom komentar di Facebook PT PAL. Hampir sebagian besar komentar netizen bernada mencibir tentang slogan “Hit and Run.”
Poin yang ditangkap dari nada pada komentator yaitu mempersoalkan aspel kecepatan KCR yang tidak memadai untuk melakukan “Run” dalam taktik Hit and Run. “KCR bolehlah..Masalah taktik hit&run-nya sih hitnya saya percaya, tapi tidak untuk run,” ujar Jaidz Napitupulu, salah satu dari ratusan netizen yang mengomentari poster postingan PT PAL di Facebook.

KCR-60M besutan PT PAL punya senjata pamungkas rudal anti kapal C-705, namun lain dari, KCR tersebut hanya bisa bertumpu pada kanon 40 mm pada sisi haluan untuk menjalankan misi pertahanan diri. Maka, taktik hit and run menjadi strategi utama dalam peperangan atas permukaan oleh KCR.
[the_ad id=”12235″]
Sebagai kapal cepat yang mengemban misi memburu lawan, idealnya kapal cepat dapat melesat sampai 40 knot (sekitar 72 km per jam), atau paling tidak mampu diajak ngebut di atas 30 knot. Namun pada kenyataan, armada kapal cepat sangat jarang dipacu maksimal kecuali dalam keadaan khusus.
Demi efisiensi bahan bakar dan mesin, kapal-kapal ini biasanya dioperasikan dengan kecepatan jelajah sekitar 12-20 knot. Singkat kata, kecepatan untuk laju kapal identik dengan konsumsi bahan bakar yang ‘boros.’ Sebagain informasi, 1 knot sama dengan 1,85 km per jam.

Dalam konteks KCR generasi baru yang diproduksi PT PAL, seperti salah satunya KRI Kerambit 627, kecepatan maksimumnya justru di bawah standar kelas kapal cepat. Dengan dua mesin diesel 2 x 3900 kW, kecepatan maksimum kapal cepat ini mentok di 28 knot. Sementara kecepatan patroli 15 knot dan kecepatan jelajahnya 20 knot.
Nah, dengan kecepatan maksimum yang jauh di bawah standar, jika suatu waktu taktik Hit and Run dijalankan, maka bisa berakibat fatal jika lawan dapat menyerang balik, bahkan justru bisa menjadi “Hit and Die.” (Haryo Adjie)



Guna radar A2 untuk identifikasi kapal kan yah, terus jika kapal KCR Ini sudah di berada dijarak jangkau rudalnya, dan tinggal di lock pake satelit, dan luncurkan. Upss. Ini gk boleh dibicarakan yah 🤭
lha kalau musuhmya punya radar lbh baik gimana…..mereka bisa deteksi duluan,jaman satelit
maaf melengceng,saya pernah dengar,kalo jaman dulu aceh pernah patungan beli pesawat untuk NKRI,betul ngak???kenapa sekarang ngak lakuin kaya gitu seluruh rakyat Indonesia patungan,coba kita buat donasi khusus beli senjata dan dukung TNI ,yah nyumbang 50 rb ajah ngak akan miskin…beli paket buat Game bisa,buat pertahana n dan keamana negara masa ngak bisa…maaf kalo saha Boss2x
Bisa asal patungannya pakai emas atau dollar,,
Kalau taktik “hit n run” tapi status kapal ini hanya sebagai pembopong rudal sementara penargetan dilakukan oleh kapal yg lebih besar dgn jarak deteksi radar yg lebih jauh atau oleh MPA dll, maka cocok dengan slogannya, abis nembakin rudal pulang, reload. Tinggal dilengkapin aja perthananan udaranya.
Wajar aja netizen mengkritik, lah janjinya mau jadi poros maritim dunia.
Sedangkan kapal destroyer aja kita ngga punya.
Namanya navy kelas dunia wajib punya kapal induk, kapal jelajah.
KCR itu kapal cepat rudal, kata “cepat” itu sebenarnya diartikan sebagai lincah sehingga seharusnya namanya KLR (kapal lincah rudal). Tp berhubung namanya jd aneh maka digunakanlah terminiologi “cepat”, sebagaimana penggunaan kata cepat dalam istilah “pasukan gerak cepat”. Jd KCR ini dimaksudkan sebagai grilyawan yg bermanuver lincah diantara gugusan pulau2, jd jgn bayangkan ia akan menyongsong frigate atau destroyer musuh di laut lepas, krn itu bukan tugasnya.
Bukankah para grilyawan spt Houti atau vietkong adalah laskar jalan kaki yg mampu menghancurkan tank, IFV bahkan Jet tempur yg jauh lebih cepat dr mrk?
Dalam dunia perkapalan kapal cepat itu antara 25-30 knot
“speeds are generally in the 25–30 knots (46–56 km/h; 29–35 mph) range”
Dalam spesifikasi KCR-60M Speed Full Load adalah 28 knot, berarti sudah memenuhi disebut kapal cepat.
Dalam uji PT.PAL malah bisa diajak ngebut 28,7 knot dalam kondisi penuh (Full Load).
Jangan kau ejek karya bangsa sendiri, padahal kamu sama sekali tak mengerti perkapalan.
Setuju kita terkenal dengan griliawan
Musuh kcr yang banyak pasti merepotkan .menembakkan rudal juga perlu biaya mahal.
Semakin banyak rudal yang di tembakkan maka negara tersebut akan bangkrut . Kalau griliawan mati satu tumbuh seribu. Untuk BBM gunakan biodesel kelapasawi
Terutama yang siluman kayak Kelewang class yang stell untuk benyerang balik cepat
Karna klewang class siluman cepat sedikit tertangkap oleh radar
Lha siapa yg ngejek? saya malah bela, coba anda baca kembali comment saya.
Dasar Netizen +62, sudah terkenal sadisnya di seluruh dunia
PT.PAL dan TNI-AL yang sudah ahlinya kok bisanya diejek
Ngomongnya kritik, memangnya yang kritik itu ahlinya ahli apa ?
Asal bunyi (Asbun) dan Asal komen (Askom) serta Asjep (Asal jeplak)
Bahkan Walaupun bisa 100 knot , tetap masih lebih cepat rudalnya .
Yang terpenting itu taktik .
Kalo bisa diperbanyak produksi KCRnya gunakan taktik keroyokan gerombolan serigala wolpack ala kriegsmarine daam WW2 lebih reailistis
Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang didominasi oleh laut sebenarnya dapat dimanfaatkan bagi upaya pertahanan negara. Perairan yang dangkal dan jarak pulau yang relatif dekat dapat dimanfaatkan oleh unsur-unsur permukaan, udara maupun bawah air untuk bergerak tanpa dideteksi. Strategi Peperangan Kepulauan merupakan bagian dari strategi operasional matra laut, yang difokuskan dalam upaya melakukan pertahanan terhadap ancaman militer. Dan hal tersebut diterapkan dengan memanfaatkan bentuk dan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Untuk itu, segala hal yang menyangkut sarana maupun prasarana serta kondisi alam itu sendiri harus disiapkan sejak dari masa damai.
Taktik Hit and Run merupakan bagian dari Naval Guerilla, yaitu Taktik Gerilya Laut yang dilaksanakan dengan cara pendadakan (Surprise), Pemukulan Cepat (Quick Strike) dan Sembunyi (Hide). Yang dipermasalahkan adalah kecepatan, kecepatan tdk mutlak karena taktik Hit and Run tidak bisa dilakukan secara mandiri oleh Kapal KCR.
Strategi Pertahanan Laut Nusantara (SPLN) atau Strategi Pertahanan Maritim Indonesia (SPMI) apapan itu pada hakikatnya merupakan “strategi pertahanan negara yang dilaksanakan di laut.” Strategi ini dirumuskan berdasarkan konsep Strategi Pertahanan Negara di Laut yang mengacu kepada dinamika atau perkembangan lingkungan strategis dan kemampuan sumber daya nasional yang tersedia. Strategi Pertahanan Negara di Laut yang digunakan adalah:
1. Strategi Peperangan Laut Kepulauan: Blockade; Decesive Battle; dan Fleet in Being atau Gerilya Laut.
2. Taktik Peperangan Laut Kepulauan. Untuk mendukung pelaksanaan dari strategi peperangan yang digunakan, maka dibutuhkan taktik peperangan yang mampu memanfaatkan kondisi dan konstelasi geografi serta kekuatan dan kemampuan yang dimiliki, antara lain: Hit and Run; Lure and Destroy; Deception; Peranjauan; dan Penggunaan Meriam/Rudal Pantai.
3. Naval Guerilla, yaitu Taktik Gerilya Laut yang dilaksanakan dengan cara pendadakan (Surprise), Pemukulan Cepat (Quick Strike) dan Sembunyi (Hide). Yang melibatka: Operasi Kapal Permukaan tipe Korvet atau KCR; Operasi Kapal Selam; dan Operasi Pesawat Udara.
4. Implementasi peperangan kepulauan.
a. Di wilayah pantai yang berhadapan langsung dengan Laut Lepas/Samudra. Implementasi ini diaplikasikan pada pantai-pantai di lima wilayah kepulauan besar yang berhadapan langsung dengan laut lepas/ Samudra. Struktur kekuatan terdiri atas kapal permukaan jenis PKR, Kapal selam, Pesawat udara dan Pangkalan.
b. Di Wilayah Corong-corong Strategis Selat-selat/Sempitan dan Gugusan Kepulauan. Struktur kekuatan terdiri atas kapal permukaan jenis PKR, KCR, KCT, Meriam/Rudal Pantai, Pesawat udara dan Pangkalan.
c. Di perairan dangkal termasuk tempat-tempat pendaratan amfibi dengan penyebaran ranjau.
d. Di perairan dalam termasuk ALKI dengan struktur kekuatan kapal selam.
Daripada menerapkan gerilya laut, kenapa gak pake kemampuan Anti Access Area Denial secara langsung aja. Kalo lawannya kayak India, China, Aussie atau USA dg kemampuan deteksi dari berbagai platform sangat susah buat nerapin gerilya laut, beda halnya kalo itu tahun 80-90an. Contohlah Rusia,China dan Iran. Harus diakui kemampuan AA/AD mereka dibuat untuk langsung mencegah misi dan ambisi kapal induk USN untuk jangankan menyerang, mendekat pun akan membuat mereka kesulitan. Kuncinya pada pembangunan rudal yg bisa ditempatkan pada banyak platform khususnya bisa dibawa oleh pespur dan kasel. Rudalnya banyak, kaselnya banyak dan Pesawat yg mampu membawa rudal anti kapal induk dalam waktu singkat juga banyak. Sampai senjata energi seperti laser bisa menghalau seluruh serangan, taktik ini masih akan bisa dipake. Itu akan lebih baik daripada bertahan total.
Tidak apa apa kecepatan standart tapi strategi nya tiru u boat nya jerman di PD 2,alias wolfpack,serang secara berkelompok,kalau sudah ketemu sasaran tunggu teman baru serang bersamaan
Dah bisa buat kapal aja dah bagus, daripada beli melulu
KCR mungil tapi mematikan. Panjang hanya 25 m, kecepatan max 40 knot.
Ada baiknya juga PT PAL menyiapkan KCR dg kecepatan tinggi
KCR kelas Komar
KRI mandau bisa jd rujukan sebagai acuan KCR… Ketika baru di beli dari korsel, persenjataannya sangat mumpuni, kanon 40 mm, rudal Exocet -39, plus kecepatan yg mencapai 42 knot. Nah ini cocok buat hit n run.
KRI Mandau tauhun 1979…strateginya sudah jadul…kamu saja belum lahir…exocet MM38 jangkauanya hanya 40 km.
Jaman sekarang jauh berubah…rudal Ecocet terbaru MM40 Block III jangkauanya sudah 180 km
Sekarang pakai Network Centric…KCR hanya sebagai pembawa rudal saja…penguncian target bisa pakai pesawat tempur atau kapal lainnya dari jarak jauh..kirim koordinat GPSnya..rudal meluncur dari KCR dari jarak sangat jauh (BVR)…dan KCR langsung kembali ke pangkalan…sambil sruput kopi diwarung
Byk yg cibir..tp saya bangga KCR produk PT PAL..
Segala kekkurangan bisa diperbaiki kedepan.
Bravo PT PAL
Bismillah setuju berat,di usung juga dong rudal buk m.3,brahmos india untuk KCR kita,dan usulan tuk polairud coba usulkan penggunaan kapal kelas krivak 3 dan 4 produk rusia,patroli harus dengan alutsista lengkap,bukan melumpuhkan tapi bisa menghancurkan langsung penyusup dan penyelundup,tolong diperhatikan lagi oleh Kapolri untuk tahun 2025 kedepannya
Apakah Untuk sementara taktik nya, tembak sampai habis amunisi, langsung lari dengan auto,
sambil personil siap2 lompat kelaut, kalau dari jauh keliatan rudal datang, langsung lompat kelaut, karena kapal belum punya hanudnya.???
Memang betul. Seharusnya slogan yg dibawa bukan HIT & RUN… Tapi HIT & DIE. Dengan speed dibawah 40, apa lagi cuma gotong 2 biji rudal.
Korvet Israel buktinya kena hit C-802…cukup 1-2 rudal yang penting taktiknya jitu…40 knot buat apa…tak bisa bermanuver…lurus tak bisa zig zag…malah jadi santapan rudal/torpedo
yg pasti kalo kapal 40 knot ya pasti d ciptakan buat bisa bermanuver lah, masa iya cuman lurus doang. gk make sense bgt. lagian kalo taktik jitu tp jangkauan radar jg pendek juga buat apa yg bisa malah kehajar rudal dluan apalagi kaga ada ciws
Ngawur…40 knot itu diciptakan agar cepat sampai ke tujuan..dengan lintasan lurus….gitu aja…untuk manuver…kapal kecil seperti KCR akan menurunkan kecepatan sekitar 15-18 knot…kalau tidak kepingin terbalik.
Kalo musuhnya perompak/ilegal fishing dst ya bisa, tapi kalo sama” kcr ya bonyok wkwk
Bonyoknya gimana ?….kalau sama-sama KCR nya strategi lebih dominan…kapal tetap harus menurunkan kecepatan agar bisa berbelok/bermanuver…jadi 40 knot tak ada gunanya lagi
Klo mw “Hit & Run” bgian blkang hrus ada CIWS-nya yg brguna untuk proteksi kapal, atw klo mw sistem Skyshield-nya jga hrus dpsang tp klo mw “Hit & Die” nh kapal kdu ada system “Self-Destruction” dan Automattic forward spaya klo ingin jalan akhirnya crushing ship bsa 50-50 damage dan tgl rescue awak ABK.nya ajh
Kapal induk Amerika saja biasa berlayar sampai 30 knot
Menurutmu KCR harus pakai mesin Nuklir gitu ya…wkwkwk
Ente kira Kapal induk mau balapan Ama KCR gitu???
Kanon 40mm dan senapan mesin itu hanya untuk menjalankan fungsi patrolinya untuk menghalau penyelundup, perompak, pencuri ikan.
Kalau untuk perang menghadapi Kapal Korvet/Frigate/Destroyer jelas Rudal SSM yang berperan, Rudal C-802/C-705 jangkauanya lebih dari 100 km.
Netizen yang tidak tahu apa-apa memang sudah jadi tradisi, asal njeplak saja
Kecepatan Tinggi itu suatu pemborosan yang tidak ada gunanya. PT. PAL dan TNI-AL pasti sudah tahu.
Justru seperti nya anda sendiri yg kurang faham, kapal seperti ini di beri nama apa? KCR kan?… KCR itu singkatan “kapal cepat rudal” bung, nih oke udah bawa rudal, cuma kecepatan nya mentok di 28 knot, nah di sini ga bisa di bilang kalo kapal ini, kapal cepat rudal… Lah speed nya aja standart kok,… Dan jika lawan nya korvet/frigate nih kapal sebelum nembak kemungkinan udah keliatan di radar musuh dulu bung, dan jika kapal musuh nembak duluan, nih kapal ga ada antidote nya, ya kali di kejar rudal mau andelin 28knot? Seharus nya bagian belakang di lengkapi CIWS lah, buat pertahanan diri
Yang tidak paham itu ente….lebih dari 18 knot itu termasuk cepat…untuk sebuah kapal…..apalagi KCR sudah 28 not.
Belajar dulu tentang perkapalan baru kamu komentar
Kapal musuh nembaknya pakai apa ???
meriam terbesar 127mm jangkaun hanya 33km, sedang rudal C-705 jangkauannya 100 km…jauh bung
sedang kapal frigate/destroyer rudal SSM nya tak kan mampu mengikuti mengunci dan mengikuti KCR yang lincah bermanuver menghindar
Yang ditakuti dari KCR adalah KECIL tapi MEMATIKAN karena lincah tapi mampu membawa RUDAL
Kecepatan lebih dari 25 Knot itu udah termasuk cepat Dhek Andre so, penamaan Kapal Cepat Rudal itu udah tepat. Yg kurang dari KCR itu cuman rudalnya aja. Harusnya C-705 diganti ama Harpoon atau Exocet, syukur diganti pake NSM atau SCALP Strom Shadow. Urusan deteksi bisa pake Drone.
@Dhek Pengamat Kota, jawaban ente udah pas cuman jangan salah SSM/ASM modern itu titik melencengnya dari sasaran itu udah kecil. Maksimal melesetnya itu cuman 7 meter kayak Yakhont atau Brahmos. Kalo Exocet, Harpoon, JASSM, Strom Shadow itu lebih pendek lagi. So, walopun KCR itu kecil dimensi panjangnya yg lebih dari 60 meter itu masih lebih gede dari kapal nelayan biasa. So, masih bisa dideteksi dan dihancurkan pake rudal anti kapal. Kecuali kalo KCRnya punya kemampuan Stealth kayak Klewang atau yg punya rudal dg jangkauan jauh nah itu bakal jadi ancaman. Kalo ane sih lebih milih pespur yg bisa bawa Rudal anti kapal, itu baru Joss.
Msh nunggu sprti apa KCR ini kedepan nanti sambil nunggu A220M 57mm yg lg dikirim, tp msh kurang CIWS
Hmmm tapi apakah rudal sekelas C-705 dan C-802 masih cukup efektif nyerang musuh yang sudah punya pertahanan rudal yang canggih. Dan juga ni KCR cuma ngandelin meriam 40 mm apakah efektif. Ibaratnya itu KCR itu akan berperan dalam menyerang kapal musuh sebagai kapal murah dengan senjata murah jadi jika rudal yang sudah diluncurkan oleh KCR berhasil dilumpuhkan kapal musuh pun akan berpikir lebih untuk nenggelamin kapal murah dengan rudal mahal. Karena menurut saya kinerja C-705 masih kurang dimana rudal ini tidak terlalu cepat dan tidak siluman sehingga rudal ini akan gampang dilumpuhkan.
Kalo di salvo dalam jumlah banyak ya mungkin aja nembus.
lebih baik mengkritik dg solusi dari pada menghujat, KCR 40/60 murni produk industri domestik, memang mode “run” msh wajar diperdebatkan, sbg fansboy tentu ingin mode “run” yg realistis dg speed lebih dari 40 knot, tugas litbang PAL membuat desain baru dg kemampuan high speed … ya akhirnya perlu duit lg utk dpt kualitas.
Dalam sejarahnya kapal cepat rudal pernah memiliki prestasi dlm menenggelamkan kapal perang bertonase besar contohnya ketika KCR kelas Komar milik mesir berhasil menenggelamkan kapal destroyer israel INS Eilat dng menggunakan rudal Styx buatan soviet.
tetep semangat PT PAL, pembayar pajak yang merasa sudah berbuat banyak ya kayak netizen kita. Semoga jadi pelecut buat kerja tambah keras dan cerdas.
Yang komen “HIT&DIE” mungkin belum tahu bagaimana konsep operasional KCR dalam situasi pertempuran 🤔
KCR akan beraksi dalam kondisi EMCON (mengandalkan sensor passive: ESM&EOTS dan pasokan situasi pertempuran dari aset pemgintai dalam pola NCW) dan tugasnya menjadi “shooter” saja 🤷
Sebagai elemen perlindungan diri, KCR dilengkapi dg chaff/decoy dan beroperasi “dilini dalam” yg masih dalam coverage pesawat tempur AU
Pola yg sama diadopsi oleh Hayabusha class AL Jepang ataupun FAC milik AL Norwegia
………. (lupa nama, ingat rasa 😸😸😸)
……..aaaaaaahhhhhh, SKJOLD 🤦
Menarik ya Mbah Hari. Sensor musuh vs kecepatan Ampe 40 Knot lebih. Pada dasarnya mau 28 mau 40 Knot kayaknya sama aja sih Mbah. Tapi memang, perairan Jepang itu memungkinkan buat lari cepat kayak gitu. Kalo di Indonesia lari cepat bisa langsung kandas nabrak pulau kecil atau karang Mbah kecuali di perairan tertentu kayak Natuna. Kalo ane sih lebih suka Pespur yg bawa rudal ASM sih Mbah, bisa lebih cepet dari 500 Knot dan lebih mudah bermanuver.
Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhh
40 knot ? untuk apa ? itu sudah kuno, taktik kuno sudah tak bisa diterapkan dijaman sekarang.
Jaman dulu rudal SSM nya masih jarak pendek dibawah 40 km semacam Exocet MM38. atau Torpedo yang hanya berjarak 20 km, sehingga dibutuhkan kecepatan tinggi untuk lari menghindar
KCR menggunakan C-705 yang berjarak 140 – 170 km, sifatnya hanya Missile Delivery.
Kapal musuh tak kan mampu melakukan serangan balik dengan Rudal SSM nya karena sia sia, Rudal tak kan mampu mengunci melawan kelincahan KCR bermanuver.
Cukup 20 – 24 knot untuk menghilang dari jangkauan dibalik karang yang rapat
Setuju, mungkin dibayangkannya kcr nembak dr jarak yg terlihat, padahal penjejak lawan puj dilakukan radar dari pesawat uav atau pesawat patroli maritim
Gak kecil gk gede. Gak cepet gak pelan. Disini mana yg lebih dulu nembak rudal. Kapal kecil langsung tenggelem. Yg gede super strong pun lama2 geheng. Yg kecil rugi dikit yg gede rugi bandar..🤣
Kapal gede d hajar rudal sekelas exocet/c-802 blm tentu tenggelam kalau gak kena telak d lambung/penyimpanan amunisi….contoh INS Hanit & USS stark….rusak parah tp msh bs d perbaiki.
Netizen Indonesia dilawan…cacimaki…nyinyir…sudah amat terkenal tingkah polahnya di jagat maya dunia…sangat menyedihkan.
Amerika sendiri punya cara tersendiri utk menghadapi kapal cepat yg menyerang secara keroyokan misalnya saja AL Amerika mengembangkan senjata spt laser weapon systems/LaWS dan low cost imaging rocket/LOGIR.
idealnya saat run belakang ada CIWS nya, tapi KCR yg baru malah gk ada CIWS nya.
Itu mah slogan jaman dulu. Rudal jaman sekarang udah dipandu satelit. Mau sembunyi di balik batu ya tetap ketahuan. Yang ada slogannya diganti jadi “Hit and Fight” atau “Hit and Die in deepwater” miris
Rudal dipandu satelit. ……ini maksutnya bagaimana akang@sangkuriang 🤔
makanya kerjanya keroyokan bung. secanggih sistem kapal perang besar sampean yang dipandu satelit, ya tetep bakal keteter menghadapi keroyokan KCR ini. jangan remehkan KCR bung….
Emangnya ada ya kapal perang besar yg maju sendirian. Kalo kapal perang besarnya juga bawa heli gimana?? Itu KCR cuman bawa senjata kaliber 12 loh buat pertahanan udara. Kalo helinya ada 2 dan bawa Hellfire bisa kelar tuh rombongan KCR sebelum mendekat ke sasaran. Apalagi kalo sasarannya armada kapal induk, bisa kelar saat KCR Lego jangkar di pangkalan tuh.
Biar speed nya 40 knot kalau d kejar missile tetep susah lolos…..aspek pertahanan udaranya justru yg minimalis …..PSU20mm msh manual…..canon 40mm nya mestinya L70 (copotan KRI pensiun atau baru?)….utk menghadang missile musuh apa msh efektif? Apa KRI kerambit punya kemampuan mengecoh atau jamming missile musuh?
Ya harap bersabar saja, namanya ngembangin dari 0 dan dana cekak, banyak revisi, , ,
Semua tergantung user toh, tinggal anggaran AL mau gimana, kalau mau lebih ya harus bayar lebih, bagi saya KCR ga perlu harus lari, pokok rudal memadahi gitu aja. Wong tugasnya buat jaga pangkalan(lazimnya sih).
Anda keliru, yang jaga pangkalan bukan KCR, tapi kapal dari Satrol (Satuan Kapal Patroli) yang nomer lambungnya 6xx
bkn hit & run tp hit & pray
Orang yang bikin kapal, mau kasih julukan sendiri saja kok dicela. Pdhl julukannya biasa saja. Netizen kayak gitu mah disebutnya netizen koplak baru cocok.