Selain HTMS “ThaiTanic” Chakri Naruebet, Inilah Negara-negara yang Dianggap ‘Gagal’ Mengoperasikan Kapal Induk

NAe São Paulo

Pelajaran dari kasus yang dialami Angkatan Laut Thailand dalam mengoperasikan HTMS Chakri Naruebet, menyiratkan bahwa memiliki kapal induk hanyalah langkah awal. Tantangan sebenarnya adalah pada biaya operasional, logistik, pemeliharaan, dan kesiapan awak kapal, yang sering kali jauh lebih besar daripada biaya pembelian.

Baca juga: Pelajaran dari Thailand – Kapal Induk Beli Baru dan Berusia Muda Tapi Tak Sesuai Harapan

Selain kasus di Thailand, ada beberapa negara lain yang juga menghadapi tantangan besar, bahkan kegagalan, dalam mengoperasikan kapal induk, terutama yang membeli dalam status bekas atau memiliki desain yang tidak biasa. Kegagalan-kegagalan ini menjadi pelajaran penting bagi negara-negara yang ambisius untuk memiliki kekuatan maritim di tingkat global. Berikut kami sarikan dari kasus yang pernah menjadi perhatian internasional.

1. Argentina – ARA Veinticinco de Mayo (19.900 ton)
Awalnya kapal ini adalah kapal induk bekas Angkatan Laut Inggris (sebelumnya bernama HMS Venerable) dan kemudian Angkatan Laut Belanda (Hr. Ms. Karel Doorman). Yang diakuisisi Argentina dengan membelinya pada tahun 1968.

ARA Veinticinco de Mayo

Kapal induk ini menderita berbagai masalah teknis dan operasional yang parah. Saat Perang Falkland/Malvinas (1982), kapal ini nyaris tidak bisa berpartisipasi secara efektif karena masalah mekanis. Mesin dan sistem katapelnya (catapult) tidak dapat berfungsi dengan baik dalam cuaca dingin, yang membuat pesawat tempur Super Étendard tidak bisa lepas landas dengan berat penuh.

Kapal induk akhirnya dipensiunkan pada tahun 1990 karena biaya operasional yang sangat mahal dan kondisinya yang terus memburuk. Meskipun Angkatan Laut Argentina mempertahankan pesawat tempur Super Étendard yang sangat terkenal, mereka tidak lagi memiliki kapal induk untuk mengoperasikannya.

Kesulitan Suku Cadang, Argentina Resmi Pensiunkan Jet Tempur Legendaris Super Etendard

2. Rusia – Admiral Kuznetsov (58.500 ton)
Kapal ini adalah satu-satunya kapal induk Rusia dan warisan dari Uni Soviet. Meskipun masih aktif secara teori, kisahnya dipenuhi dengan serangkaian kecelakaan dan kegagalan. Kapal ini telah menghabiskan sebagian besar waktunya di galangan kapal untuk perbaikan yang tak kunjung selesai.

Admiral Kuznetsov

Beberapa masalahnya termasuk sistem propulsi uap yang sering rusak dan mengeluarkan asap hitam tebal. Kemudian terjadi kecelakaan derek besar yang merusak dek kapal dan menyebabkan korban jiwa. Lain dari itu terjadi kebakaran yang merusak area permesinan sampai jadwal perbaikan dan modernisasi yang selalu tertunda.

Kapal ini bisa dibilang menjadi simbol dari keterbatasan industri pertahanan Rusia pasca-Soviet dalam mengelola aset militer yang kompleks. Kapal ini jarang beroperasi, dan ketika berlayar, seringkali harus didampingi oleh kapal tunda.

Obsesi Tandingi AS, Rusia Inginkan Kapal Induk Berbobot 90.000 Ton dengan Jet Tempur Stealth Su-57 Naval

3. Spanyol – Príncipe de Asturias (17.200 ton)
Kapal ini adalah kapal induk STOVL (Short Take-Off and Vertical Landing) yang dirancang dan dibangun di Spanyol pada tahun 1980-an. Meskipun tidak mengalami kegagalan teknis parah seperti kasus di atas, kapal ini dipensiunkan secara dini pada tahun 2013, hanya setelah 25 tahun bertugas.

Príncipe de Asturias

Alasan kegagalan kapal induk ini karena anggaran operasional yang tidak memadai. Setelah krisis ekonomi global 2008, pemerintah Spanyol memutuskan bahwa biaya untuk mengoperasikan kapal induk dan kelompok tempurnya terlalu mahal. Tanpa dana yang cukup, mempertahankan kapal ini dianggap tidak berkelayakan.

4. Brasil – NAe São Paulo (32.800 ton)
Kapal ini adalah kapal induk bekas Angkatan Laut Prancis (eks-kapal induk Foch) yang dibeli Brasil pada tahun 2000. Saat dibeli, kapal ini sudah berumur 37 tahun.

Faktanya kapal induk ini menghabiskan lebih banyak waktu di galangan kapal daripada di laut. Selama 16 tahun dinasnya, kapal ini hanya berlayar kurang dari 200 hari. Masalah utama yang dialami antara lain, sistem permesinan uap yang sering rusak., puncaknya, terjadi ledakan pada tahun 2005 yang menewaskan satu awak kapal.

NAe São Paulo

Berlanjut proyek perbaikan dan modernisasi yang dimulai setelah ledakan tidak pernah selesai. Biaya terus membengkak, dan proyek akhirnya dibatalkan. Sementara alasan kegagalan kapal induk ini, karena biaya operasional dan perbaikan yang sangat besar tidak mampu ditanggung oleh Angkatan Laut Brasil. Ditambah usia kapal yang sangat tua membuatnya rentan terhadap kerusakan dan sulit untuk diperbaiki secara permanen.

Pantang Pensiun, AL Brasil Terima A-4 Skyhawk Varian Upgrade Terakhir

Keterbatasan jet tempur juga ikut berperan, kapal induk ini hanya mengoperasikan jet tempur A-4 Skyhawk bekas pakai yang sudah tua, yang juga sering mengalami masalah teknis, membuat kemampuan tempur angkatan laut mereka tidak efektif.

Lantaran tak kuat menanggung beban masalah, Angkatan Laut Brasil akhirnya memensiunkan kapal induk ini pada tahun 2017. Setelah gagal dijual dan ditolak di Turki karena mengandung bahan beracun seperti asbes, akhirnya kapal ini sengaja ditenggelamkan di Samudra Atlantik pada tahun 2023. (Gilang Perdana)

Setelah Kapal Induk Cina, Kini Giliran Kapal Induk Helikopter Milik AS Mengalami Kebakaran

9 Comments