Rusia Kembangkan ‘Predator’: Drone Intai Mulltirole yang Mampu Terbang di Stratosfer

Rusia dilaporkan tengah mengembangkan platform multifungsi tanpa awak – drone (UAV) stratosfer yang diberi nama “Predator”. Drone yang masuk kategori HALE (High Altitude Long Endurance) ini, dirancang untuk menjalankan misi jangka panjang di ketinggian ekstrem dan diproyeksikan mampu menggantikan beberapa fungsi sistem satelit serta sistem berbasis darat.
Baca juga: Cegat Pesawat Intai, Rusia Kerahkan MiG-31 Foxhound di Ketinggian Stratosfer
Laporan dari kantor berita TASS menyebutkan bahwa drone ini bukan sekadar alat pengintai biasa, melainkan platform canggih yang mampu beroperasi di ambang ruang angkasa (near space).
Proyek ambisius ini dikembangkan oleh perusahaan Rusia bernama Geron. CEO Geron, Vladimir Tabunov, menyatakan bahwa “Predator” dirancang untuk berbagai kebutuhan, mulai dari komersial, ilmiah, hingga pertahanan. Drone ini mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) dan mode pemindaian 3D untuk akurasi data yang lebih tinggi.
Salah satu fitur paling mencolok dari “Predator” adalah penggunaan teknologi monowing. Desain sayap tunggal ini memberikan beberapa keuntungan strategis, seperti memungkinkan drone melesat lebih cepat di lapisan udara yang tipis, dan muatan besar berkat struktur sayap yang efisien meningkatkan daya angkut.

Meski tampilan keseluruhannya belum dipublikasi, namun, Predator disebut mengadopsi desain stealth yang meminimalkan jejak radar, membuatnya sulit dideteksi oleh lawan.Drone ini memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal (VTOL) serta kemampuan untuk melayang (hover) di udara.
Berdasarkan data yang diungkapkan oleh pihak pengembang, Predator mampu terbang di ketinggian operasional hingga 15.000 meter (15 km/stratosfer). Jangkauan maksimum 12.000 kilometer, sementara kecepatan maksimum 550 km/jam, dan dapat membawa muatan hingga 500 kilogram.
Dengan Kocek Rp297 Juta, MiG-29 Fulcrum Siap Buktikan Bumi itu Bulat
Hingga saat ini, proyek “Predator” masih dalam tahap pengembangan intensif. Berdasarkan pengumuman pada Januari 2026, Rusia sedang dalam tahap akhir pengujian berbagai pesawat baru sebagai bagian dari sertifikasi nasional. Meskipun tanggal pasti uji terbang perdana spesifik untuk prototipe “Predator” belum dirilis secara publik demi alasan keamanan, proyek ini disebut sebagai prioritas dalam program pengembangan industri penerbangan Rusia yang akan dijalankan sepanjang tahun 2026.
Munculnya “Predator” menunjukkan pergeseran fokus militer Rusia ke wilayah stratosfer. Dengan kemampuan terbang di ketinggian 15 km, drone ini berada di atas jangkauan banyak sistem pertahanan udara konvensional, menjadikannya alat yang sangat efektif untuk pengawasan persisten maupun serangan presisi jarak jauh tanpa perlu bergantung sepenuhnya pada konstelasi satelit yang rentan. (Bayu Pamungkas)
Perancis Kembangkan Konsep HAPS Stratobus untuk Kepentingan Militer



Ketinggian maksimal drone dengan kamera super high resolution merupakan drone paling efektif sebagai dron mata mata, pendukung ops khusus, dan pemburu target, bila benar drone ini mampu floating di ketinggian maksimal dan camera HR berikut combatan Gak usah ragu ini senjata mematikan multiroole, bisa dikatakan kemampuannya diatas Reaper. Semoga TNI masukan daftar prioritas pengadaan berikut moduler nya
Kita lihat lebih duluan operasional yang mana antara drone male elang hitam Konoha 🤣 atau punya wak putin drone Hale yang masih dlm pengembangan
Jika lebih duluan jadi + operasional milik wak putin? apa ga malu ya 🤣
Drone HALE (High Altitude Long Endurance) terbang di stratosfer umumnya pada ketinggian di atas 60.000 kaki (18-20 km), apakah “Predator” Rusia akan sama dengan RQ-4 Global Hawk milik AS? 🤔