RBS-70 NG RWS – Bukan Untuk Penembakan Simultan, Tapi Pangkas Waktu Reload Rudal

Pertengahan tahun lalu (2017), Saab Bofors Dynamics telah memperkanlkan apa yang disebut sebagai RBS-70 NG RWS (Remote Weapon Station) di Defence and Security Equipment International (DSEI), London, dan berlanjut ke penampakan mockup-nya di Singapore AirShow 2018. Bagi para penggiat dunia alutsista tentu melihat hadirnya RBS-70 NG sebagai rudal MANPADS (Man Portable Air Defence System) dalam model remote dan multiple launcher adalah sesuatu yang menarik, sekaligus mengundang tanda tanya.

Baca juga: 40 Tahun RBS-70 – Eksistensi Pelopor MANPADS dengan Platform Tripod

Menarik jelas, maklum selama empat dekade rudal asal Swedia ini diperkenalkan, belum sekalipun dibuat dalam versi remote. Menarik yang kedua adalah, sistem multiple launcher itu sendiri. Pasalnya rudal hanud jarak dekat dengan multiple launcher selama ini diasosiasikan mampu melepaskan tembakan simultan ke beberapa sasaran, persisnya rudal hanud tersebut dapat berlaku demikian berkat prinsip fire and forget yang mengandalkan pemandu infra red.

Sementara RBS-70 meski kodratnya adalah rudal hanud jarak dekat, namun mengusung sistem pemandu laser. Berbeda dengan rudal Mistral, Starstreak, QW-3 dan Chiron yang dapat dilepaskan secara fire and forget dengan infra red, maka RBS-70 mensyaratkan arahan rudal ke sasaran menggunakan sistem pemandu laser, yang artinya operator harus mengarahkan laser guidance beam transmitter ke sasaran sampai rudal mengenai sasaran.

Yang jadi pertanyaan dari pemunculan RBS-70 NG RWS adalah, bagaimana proses penembakan mode multiple launcher bila satu sasaran harus di guidance terlebih dahulu sampai tuntas? Menjawab pertanyaan tersebut, Indomiliter.com mendapat pencerahan dari Rickard Svensson, Sales Director Saab. “Kegunaan multiple launcher di RBS-70 NG RWS bukan untuk penembakan secara simultan, namun sasaran tetap harus diarahkan satu per satu. Yang diunggulkan dari sistem RWS adalah penghematan waktu sekitar 5 detik dalam reload munisi,” ujar Rickard kepada Indomiliter.com.

Bila mau diperjelas lagi, yang dikejar dari sistem RWS adalah saves time between firing, alias tak diperlukan lagi waktu untuk reload munisi setelah sasaran pertama berhasil ditembak, lantaran rudal kedua dan ketiga sudah dalam posisi siap diluncurkan. Belum lagi platform RWS yang disematkan pada ranpur dapat digelar setiap saat, sebagai perbandingan platform peluncur tripod membutuhkan waktu perakitan 30 detik oleh personel yang terlatih.

Dengan pemandu laser, RBS-70 menjadi rudal hanud anti jamming, bahkan sangat sulit dikecoh oleh flare sekalipun. Memanfaatkan serpihan metal atau chaff juga tak dapat melemahkan rudal ini, pasalnya rudal berpemancar laser dibidik secara manual.

Detektor pancaran laser diletakan di bagian belakang rudal. Outputnya berupa perintah kendali, termasuk koreksi arah yang terintegrasi dengan giroskop penstabil. Canggihnya lagi, pancaran laser tak wajib telak mengenai sasaran secara langsung. Melenceng sedikit, asalkan tak lebih dari 30 meter dari posisi sasaran, maka tingkat perkenaan sudah mencapai lebih dari 80 persen.

Karena tidak bersifat fire and forget, maka rudal ini punya fitur auto self destruck, jika pancaran laser dari launch station terhenti selama jangka waktu tertentu. Operator juga dapat menghancurkan rudal dengan pencetan tombol bila mendapat perintah untuk membatalkan tembakan rudal yang telah meluncur.

Baca juga: Di Singapura, Ranpur Cadilage Cage dan Rudal RBS-70 Justru Dioperasikan Angkatan Udara

Dengan kecepatan luncur Mach 2, untuk menghajar sasaran sejauh 8.000 meter hanya membutuhkan durasi tidak lebih dari 12 detik. Dengan keunggulan inilah yang membuat RBS-70 sampai saat ini masih tetap eksis digunakan di banyak negara, termasuk Indonesia yang telah memgoperasikan baterai RBS-70 MK-1 dan MK-2 sejak awal dekade 80-an. (Haryo Adjie)

14 Comments