Raja Malaysia Bersuara Lantang Seputar Pengadaan Alutsista, “Batalkan Pengadaan Helikopter Black Hawk”

Tak biasanya Raja Malaysia melontarkan pernyataan keras, melihat sengkarut yang melanda Angkatan Bersenjatanya, Sultan Ibrahim Iskandar, telah memerintahkan pembatalan rencana pengadaan helikopter Black Hawk yang berusia lebih dari 30 tahun, setelah menyamakannya dengan “peti mati terbang”.
Baca juga: Mahathir Mohamad: F/A-18D Hornet Hanya ‘Bebas’ Diterbangkan Saat Parade Udara
Seperti dikutip channelnewsasia.com (16/8/2025), dalam komentarnya yang tajam pada hari Sabtu (16 Agustus), Raja Malaysia itu juga mengecam “agen dan penjual” di Kementerian Pertahanan, memperingatkan mereka untuk tidak “membodohi” dirinya.
Berbicara di sebuah parade di Mersing yang memperingati HUT ke-60 Resimen Layanan Khusus Malaysia, Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Malaysia mengingatkan Kementerian Pertahanan untuk “tidak mengulangi kesalahan masa lalu” dalam pengadaan alutsista.
Ia mencontohkan pembelian pesawat tempur A-4 Skyhawk pada tahun 1980-an. Malaysia dilaporkan telah membeli 88 unit jet tempur eks era Perang Vietnam dari Amerika Serikat, namun faktanya hanya 40 yang diperbarui dan dioperasikan. Kantor Berita Malaysia Bernama melaporkan bahwa jet-jet tersebut kemudian dipensiunkan karena tingkat kecelakaan yang tinggi.

“Apakah kita akan menempatkan pilot kita di ‘peti mati terbang’? Pikirkan sendiri,” kata Sultan Ibrahim. “Saya yakin semua ini terjadi karena Kementerian Pertahanan penuh dengan agen atau mantan jenderal yang menjadi salesman. Bahkan ada perusahaan tekstil yang ingin menjual drone kepada kita”.
“Jika kita harus mengikuti harga perantara – broker (yang meningkat) dalam setiap pengadaan, maka alokasi yang ada tidak akan mencukupi. Jadi jangan coba-coba membodohi saya. “Kalau kalian tidak mau mendengarkan saya, saya tidak akan menegur kalian lagi setelah ini,” ujarnya dalam komentar yang diunggah di laman Facebook resminya.
India Lakukan Negosiasi Lanjutan untuk Leasing Pesawat Tanker Airbus A330 MRTT
Laporan media menyebutkan bahwa Malaysia telah menandatangani kesepakatan pada Mei 2023 untuk mendapatkan secara leasing empat unit helikopter UH-60 Black Hawk dari perusahaan lokal bernama Aerotree Defence and Services senilai RM187 juta (US$44,4 juta) selama lima tahun.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa Kementerian Pertahanan Malaysia membatalkan kontrak tersebut pada November tahun lalu setelah perusahaan tersebut gagal mengirimkan pesawat tersebut meskipun ada tiga kali revisi tanggal.
Pada bulan Maret tahun ini, Wakil Menteri Pertahanan Adly Zahari dilaporkan mengatakan bahwa kementeriannya sedang menilai kembali pendekatan pengadaan terbaik untuk helikopter Black Hawk.
Mau Alutsista Canggih Keluaran Terbaru Tapi Anggaran ‘Ngepas,’ Leasing Kapal Perang Bisa Jadi Solusi
Ia menambahkan bahwa evaluasi tersebut akan mempertimbangkan model sewa sebelumnya atau perjanjian antarpemerintah, dengan keputusan yang akan diambil tahun ini.
“Kita perlu meninjau proses saat ini, terutama dalam hal penetapan harga, karena kami menyadari hal ini sebagai kebutuhan bagi kementerian. Beberapa langkah harus diambil sebelum menentukan metode akuisisi terbaik dan mempercepat prosesnya,” katanya seperti dikutip oleh New Straits Times.
Pada hari Sabtu, raja mengatakan bahwa mereka yang terlibat dalam pengadaan militer harus memastikan bahwa evaluasi dilakukan secara transparan, dan bukan hanya berdasarkan saran agen atau mereka yang memiliki kepentingan pribadi.
“Jangan buang waktu membeli omong kosong yang tidak sesuai dengan kebutuhan militer. Kalau Anda tidak tahu harga (pasaran) yang sebenarnya, tanya saya dulu,” ujarnya.
Menyusul pernyataan Raja, Menteri Pertahanan Khaled mengatakan bahwa kementeriannya akan memastikan modernisasi aset pertahanan Malaysia sejalan dengan kebutuhan angkatan bersenjatanya. Hal ini juga berlaku untuk Resimen Layanan Khusus.
Helikopter UH-60A+ Black Hawk yang rencananya hendak dipasok ke Malaysia oleh Aerotree Defence & Services merupakan helikopter bekas pakai (ex-US Army), bukan unit baru.
UH-60A+ artinya helikopter A-model yang sudah diperbarui dengan beberapa komponen dari versi lebih baru (misalnya mesin T700-GE-701C yang lebih bertenaga dan avionik yang diperbarui). Program upgrade semacam ini umum dilakukan oleh perusahaan penyedia, karena harga sewa/akuisisinya jauh lebih rendah dibanding membeli UH-60M baru dari Sikorsky/Lockheed Martin.
Menanti Tahun 2040, Australia Berencana Sewa Kapal Selam Nuklir dari AS atau Inggris
Perusahaan yang menyediakan helikopter Black Hawk kepada Malaysia melalui skema sewa (leasing) adalah Aerotree Defence & Services Sdn. Bhd., sebuah penyedia layanan udara berbasis di Kuala Lumpur. Kontrak senilai RM187 juta diresmikan pada pameran LIMA 2023. Mereka berencana menyuplai empat unit Sikorsky UH-60A+ Black Hawk untuk keperluan pelatihan dan operasi Angkatan Darat Malaysia (PUTD) selama lima tahun.
Kontrak ini semula mencakup paket lengkap—tak hanya helikopter, tetapi juga pelatihan pilot dan simulasi, dukungan basis darat, suku cadang, serta layanan pemeliharaan dan manajemen kelayakan terbang (MRO)
Malaysia awalnya menerima skema leasing ini karena cepat dan murah untuk menutup kebutuhan Putera Tentera Darat (PUTD) yang mendesak, khususnya setelah lama tidak memiliki helikopter angkut medium organik. (Gilang Perdana)
Sikorsky S-61A-4 Nuri – Lebih dari 50 Tahun Beroperasi, Ikon Helikopter Tua AU Malaysia Kini Pensiun



Indonesia sih cara leasing beresiko tinggi, selain bisa dapat unit bekas yang entah gimana, pesawat jatuh seakan “rutin” jadi ya akan cukup beresiko jika itu terjadi pada barang leasing dan harus ganti rugi
Bener juga ya. Mungkin beliau sebagai agen sales uang kalah tender gak rela. 😁
Kalo konsisten ya berarti jet bekas dari Kuwait juga nggak jadi.
Dia bilang “tanya saya dulu” artinya “upeti untuk saya berapa?”.