“Perang Dingin” di Jantung FCAS: Perancis Peringatkan Jerman di Tengah Krisis EUMET, Mesin Jet Tempur Generasi Keenam

Masa depan proyek jet tempur generasi keenam tiga negara Eropa, FCAS (Future Combat Air System) semakin tidak menentu, setelah perbedaan pandangan yang mengemuka antara Jerman dan Perancis atas porsi saham dalam proyek FCAS, kembali mengemukan persoalan lain, khususnya setelah Perancis mengingatkan Jerman bahwa mereka memiliki perjanjian atas proyek mesin jet tempur generasi keenam, yang disebut EUMET.

Baca juga: Perancis Inginkan Porsi 80 Persen Saham, Jerman Tetap Pada Kesepakatan Awal, Proyek FCAS Terancam Bubar?

Masih terkait FCAS, pusat perselisihan terbaru adalah program pengembangan mesin, yang dikenal sebagai EUMET (European Military Engine Team), yang melibatkan raksasa dirgantara Safran (Perancis) dan MTU Aero Engines (Jerman).

Perancis baru-baru ini mengeluarkan peringatan keras kepada Jerman, menuntut komitmen penuh dan kepatuhan terhadap perjanjian pembagian kerja awal, demi menyelamatkan proyek bernilai lebih dari €100 miliar ini dari keruntuhan.

Proyek EUMET adalah bagian paling sensitif dari FCAS. Mesin jet generasi keenam harus memiliki kemampuan daya dorong yang luar biasa, efisiensi bahan bakar yang tinggi, dan yang terpenting, manajemen panas yang sangat canggih untuk mempertahankan profil siluman (stealth) jet tempur baru tersebut.

Dalam perjanjian yang disepakati pada Agustus 2021, kontraktor yang terlibat adalah Safran dari Perancis, yang memimpin desain inti mesin (Hot Section), MTU Aero Engines dari Jerman, sebagai mitra utama dan bertanggung jawab atas beberapa komponen penting, seperti turbin bertekanan rendah, dan ITP Aero dari Spanyol, yang mengambil bagian dalam desain, pengembangan, dan produksi komponen mesin tertentu.

Inti dari konflik adalah Safran tetap menjaga kepemimpinan teknis dan menolak transfer penuh teknologi inti kepada MTU, sementara MTU menuntut pembagian kerja yang lebih merata dan akses penuh ke teknologi hot section untuk memastikan kemandirian teknologi Jerman di masa depan.

MTU dilaporkan terus mendorong negosiasi ulang atas work share yang telah disepakati, dengan alasan bahwa mereka berhak mendapatkan porsi kerja yang lebih substansial dan akses ke teknologi paling rahasia yang dimiliki Safran.

Peringatan Perancis datang karena kekhawatiran bahwa tuntutan Jerman dapat menyebabkan kelumpuhan proyek dan membuka peluang bagi Jerman untuk mencari mitra alternatif atau mengembangkan teknologi mesin secara parsial di luar kerangka EUMET. Untuk itu, Paris meminta Berlin untuk mengikatkan diri sepenuhnya pada perjanjian awal, menyingkirkan ambisi industri nasional yang berlebihan yang berpotensi menyabotase proyek bersama.

FCAS Krisis! CEO Dassault: “Perancis Sanggup Kembangkan Jet Tempur Generasi Ke-6 Tanpa Jerman”

Peringatan tersebut secara implisit menyatakan bahwa jika perselisihan terus berlanjut, proyek FCAS akan menghadapi penundaan operasional yang tidak dapat dihindari. Setiap penundaan menempatkan proyek ini dalam bahaya besar, terutama di tengah persaingan ketat.

Krisis di EUMET ini tidak hanya memengaruhi hubungan bilateral, tetapi juga memiliki konsekuensi strategis yang besar bagi Eropa. Jika FCAS tertunda lebih lama, Eropa berisiko kehilangan keunggulan teknologi kritis dan harus bergantung pada impor teknologi AS untuk mengisi kesenjangan pertahanan udaranya.

Masa depan FCAS, dan dominasi industri pertahanan udara Eropa, kini bergantung pada apakah para pemimpin politik di Berlin dan Paris dapat mencapai kompromi yang langgeng, menempatkan ambisi strategis Eropa di atas kepentingan industri nasional. (Gilang Perdana)

Masa Depan Proyek FCAS Terancam, Dassault dan Airbus Defence Berbeda Pandangan Soal ‘Porsi Kerja’

4 Comments