P-6 Class Torpedo Boat – Bersama Jaguar Class, Warnai Masa Keemasan TNI AL di Jagad Kapal Cepat Torpedo

Satu zaman dengan kehadiran kapal cepat torpedo atau Type 140 Jaguar class fast attack craft (motor torpedo boat/MTB) pada dekade 60-an, TNI AL (d/h ALRI) juga mengoperasikan enis kapal cepat torpedo (KCT) P-6 class buatan Uni Soviet, atau dikenal dengan label Project 183 Bolshevik. Bila ALRI dahulu mendapatkan delapan unit Jaguar class (termasuk RI Matjan Tutul), maka P-6 yang pernah digunakan ALRI mencapai 14 unit.
Baca juga: Jaguar Class – Generasi Awal Kapal Cepat Torpedo TNI AL
Salah satu P-6 class torpedo boat adalah KRI (d/h RI) Angin Kumbang 659, yang fotonya terpampang di bawah judul tulisan ini. Dengan konsep penomeran yang berbeda, pada laman wikipedia.org, ditampilkan nama dari keempat belas KCR P-6 class, yaitu KRI Angin Bohorok (1601), KRI Angin Badai (1602), KRI Angin Taufan (1603), KRI Angin Gending (1604), KRI Angin Prahara (1605), KRI Angin Pujuh (1606), KRI Angin Pasat (1607), KRI Angin Wambrau (1608), KRI Angin Brubu (1609), KRI Angin Tonggi (1610), KRI Angin Grenggong (1611), KRI Angin Wamandais (1612), KRI Angin Kumbang (1613) dan KRI Angin RIbut (1614).
Punya panjang lambung 25 meter dan berat sekitar 66 ton, pengembangan P-6 class dimulai akhir 1940-an, setelah Uni Soviet menilai keberhasilan kapal torpedo kecil dalam Perang Dunia Kedua, terutama dari pengalaman Soviet dan Jerman. Proyek ini dimaksudkan untuk menggantikan kapal torpedo kelas G-5 yang sudah tua dan desain final selesai pada akhir 1940-an, dengan produksi dimulai awal 1950-an.
P-6 class mulai dioperasikan Angkatan Laut Soviet pada tahun 1952 dan digunakan secara luas di Laut Baltik, Laut Hitam, dan Timur Jauh. P-6 class dipersenjatai dua unit kanon twin 2M3 25mm dan dua peluncur torpedo berat kaliber 533 mm. Yang menarik kanon laras ganda 2M3 kaliber 25 mm sampai saat ini masih digunakan untuk melengkapi persenjataan (Penangkis Serangan Udara/PSU) di beberapa kapal perang/patroli TNI AL. Bahkan, kanon 2M3 masih diadaptasi dengan dipasang pada ranpur lapis baja pada perang di Ukraina.
Dengan awak sekitar 14–16 orang, P-6 class juga dapat membawa delapan unit bom laut dalam (depth charges), meski untuk penggelaran bom laut harus melepaskan peluncur torpedo.
P-6 class ditenagai oleh 3 mesin diesel M-50F, dan membuat kapal ini bisa melaju hingga 43–48 knot (± 80–89 km/jam). Kecepatan ini membuatnya sangat ideal untuk serangan kilat (hit-and-run) terhadap kapal yang lebih besar. Desainnya memungkinkan manuver di perairan pesisir, selat sempit, atau sungai, sangat efektif di Laut Baltik, Laut Hitam, dan kawasan kepulauan.



Ciri khas dari P-6 class dibangun dengan lambung kayu, bukan baja, hal ini menjadikan kapal ini murah untuk diproduksi secara massal, cocok untuk strategi kuantitas dalam Perang Dingin. Jarak jelajah kapal cepat ini ada di rentang 500–700 mil laut pada kecepatan jelajah.
P-6 class lumayan banyak diproduksi, dari periode tahun 1940 – 1960, 421 unit kapal ini telah diproduksi oleh Uni Soviet. Dan populasi P-6 class hampir merata digunakan oleh negara-negara yang dekat dengan Soviet saat perang dingin. Nah, yang unik, P-6 class juga diproduksi oleh Cina dan Korea Utara.

Pada awal 1950-an, hubungan Soviet-Cina sangat erat dalam kerangka kerja Pakta Persahabatan Sino-Soviet. Lantas Soviet menyediakan lisensi dan cetak biru Project 183 kepada Cina, yang lalu Cina memproduksi versi lokal, yang dikenal sebagai Type 6602 (lisensi langsung) dan Type 02 / Type 02B (modifikasi lokal). Produksi dilakukan oleh galangan kapal militer di Shanghai dan Dalian.
Turunan P-6 class di Cina Digunakan secara intensif oleh PLAN (People’s Liberation Army Navy) pada 1950-an hingga 1980-an. Beberapa kapal digunakan dalam konfrontasi laut seperti pertempuran di Selat Taiwan (1958) dan konflik maritim dengan Vietnam.
Indonesia, yang tercatat pernah mendapatkan 14 unit P-6 class, sayangnya tidak ada satu pun dari kapal cepat torpedo ini yang dapat dilihat sisa peninggalannya, berbeda dengan KCT Jaguar class (KRI Harimau) yang lengkap dengan meriam Bofors 40/L70-nya masih dapat dilihat bentuk utuhnya di Museum Purna Bhakti Pertiwi, Taman Mini Indonesia Indah (TMII). (Gilang Perdana)
Motor Gunboat (PGM-39 Class): ‘Misteri’ Keberadaan dan Identitas Kapal Patroli TNI AL Era 60-an



Kapal P6 ini cukup kecil hanya punya panjang 25 meter namun dipersenjatai torpedo besar untuk menghantam sasaran permukaan dan sasaran bawah air dengan bom laut.
Nah kita punya kapal patroli juga yang lebih panjang dari P6 ini yaitu KAL PC 28 meter dan KRI PC 40 meter. Karena wujudnya kapal patroli seharusnya bisa dilengkapi alat deteksi bawah air untuk mendeteksi kemungkinan keberadaan kapal selam dan drone bawah air. Jika dilengkapi dengan sonobuoy yang dilempar ke laut atau sonar tarik maka bisa membantu tugas dari pesawat patroli maritim kita. Nah di masa perang, KAL 28 meter dan KRI 40 meter bisa diperlengkapi juga dengan torpedo kecil 324 mm yang diluncurkan dari dua single tube 324 mm.
Sayangnya kapal perang KCT pengganti hanya jumlah minim padahal luas wilayahnya laut Indonesia perlu di jaga untuk blokade kasel musuh
Produk Stalinium memang durabilitasnya luar biasa, motong sayap Tu-16 aja minta ampun, tapi jeleknya mereka ga ada standar ukuran, sparepart kanibal belum tentu bisa dipake.
Tapi masih juara di hati mbah AMX, next mbah Kasel Cakra mesti di retrofit terus macem kasel PD II Taiwan. 👍