Laporan Terungkap: Mengapa F/A-18 Super Hornet AS Ditembak Jatuh Kapal Sendiri di Laut Merah

Tom Cruise “Maverick” di kokpit F/A-18F Super Hornet.

Insiden tragis yang melibatkan sebuah jet tempur F/A-18F Super Hornet milik Angkatan Laut AS yang ditembak jatuh oleh kapal perang AS sendiri di Laut Merah pada akhir tahun lalu kembali mengguncang media massa. Pemicu viralitas kembali ini bukanlah insiden baru, melainkan rilisnya laporan investigasi akhir oleh militer AS pada Awal Desember 2025, setahun setelah insiden.

Baca juga:ย Malu Plus Cemas,โ€™ Frigat Jerman FGS Hessen Salah Tembak dan Gagal Jatuhkan Drone di Laut Merah

Laporan tersebut, yang dikonfirmasi oleh US Central Command (CENTCOM), mengungkap detail memilukan mengenai kesalahan prosedur, kegagalan teknologi, dan ketegangan operasional yang berujung pada tembakan fatal.

Pada Minggu pagi, 22 Desember 2024, sebuah F/A-18F Super Hornet yang berasal dari kelompok tempur kapal induk USS Harry S. Truman sedang melaksanakan misi rutin di atas Laut Merah. Operasi ini dilakukan di tengah periode ketegangan ekstrem, di mana Angkatan Laut AS secara aktif menanggapi serangan drone dan rudal oleh kelompok Houthi dari Yaman terhadap kapal dagang dan kapal militer di perairan tersebut.

Kapal penjelajah rudal berpemandu USS Gettysburg (CG-64) secara keliru mengidentifikasi Super Hornet tersebut sebagai ancaman musuh yang masuk. Kapal tersebut kemudian melepaskan tembakan.

Kena ‘Friendly Fire’ dari Kapal Penjelajah USS Gettysburg, F/A-18F Super Hornet Angkatan Laut AS Jatuh di Laut Merah

Laporan investigasi mengonfirmasi bahwa F/A-18F ditembak jatuh oleh rudal permukaan-ke-udara SM-2 (Standard Missile 2). SM-2 adalah rudal pertahanan armada berjangkauan menengah hingga jauh, yang diluncurkan dari sistem peluncuran vertikal (VLS) kapal perang.

Penggunaan SM-2 menunjukkan bahwa kru di kapal USS Gettysburg meyakini bahwa mereka menghadapi ancaman rudal atau pesawat tempur yang harus segera dinetralisir. Rudal yang dirancang untuk menghancurkan pesawat musuh atau rudal anti-kapal inilah yang sayangnya mengenai aset AS sendiri.

Tembakan tersebut mengenai pesawat F/A-18, menyebabkannya jatuh ke laut. Kedua awak pesawat (pilot dan Weapon Systems Officer) berhasil melontarkan diri (eject) dan diselamatkan dari perairan Laut Merah. Meskipun salah satu awak mengalami luka ringan, nyawa mereka berhasil diselamatkan.

Dalam Satu Hari, Dua Pesawat Militer AS Jatuh di Laut Cina Selatan, Salah Siapa?

Insiden ini menjadi berita utama pada Desember 2024, tetapi kembali meledak di akhir tahun 2025 karena rilisnya Laporan Investigasi Pengadilan (Court of Inquiry/CoI) penuh. Laporan akhir ini dibutuhkan untuk memberikan akuntabilitas dan merumuskan langkah pencegahan.

Investigasi menyoroti adanya pelanggaran dalam prosedur Rules of Engagement (ROE) dan proses pengambilan keputusan yang terlalu cepat di tengah kondisi alert (siaga) maksimum. Dugaan kegagalan dalam sistem Identifikasi Kawan atau Musuh (Identification Friend or Foe/IFF) di kapal USS Gettysburg menjadi faktor kunci, menyebabkan kapal tidak dapat membedakan sinyal yang berasal dari aset AS sendiri.

Israel Umumkan Sistem Hanud C-Dome (Naval Iron Dome) Telah Berpredikat “Combat Proven” di Laut Merah

Laporan mengakui bahwa kelelahan kru dan tekanan untuk bereaksi dalam hitungan detik terhadap ancaman Houthi yang nyata berkontribusi pada kesalahan fatal tersebut.

Insiden friendly fire di Laut Merah ini menjadi pengingat yang menyakitkan akan risiko inheren dari operasi tempur di lingkungan yang kompleks. Angkatan Laut AS dilaporkan akan menerapkan perubahan signifikan pada protokol pertahanan rudal di semua kapal yang beroperasi di wilayah berisiko tinggi. Perubahan ini mencakup pelatihan yang lebih ketat mengenai penggunaan IFF dan peninjauan kembali prosedur pengambilan keputusan tembak di bawah komando CENTCOM.

Insiden ini bukan hanya kerugian finansial (kehilangan jet tempur mahal F/A-18), tetapi juga pukulan serius terhadap moral dan kepercayaan operasional, menegaskan bahwa dalam lingkungan pertempuran modern, musuh terburuk terkadang bisa jadi adalah kesalahan di pihak sendiri. (Gilang Perdana)

Hari Ini 30 Tahun Lalu, Jet Tempur F/A-18 Super Hornet Terbang Perdana, “Pengganti F-14 Tomcat”

2 Comments