Seputar DSEI 2019Klik di Atas

Kongsberg EM-302 Multibeam Echosounder, Temukan Longsoran Dasar Laut di Teluk Palu

Kapal riset dan observasi bahwa air andalan TNI AL, KRI Spica 934, belum lama ini merilis informasi yang mengejutkan terkait gempa dan tsunami yang melanda Palu, Sulawesi Tengah pada 28 September 2018, disebutkan kapal canggih produksi OCEA, Perancis ini berhasil mendeteksi longsoran di dasar laut Teluk Palu.

Baca juga: KRI Spica 934, Nama Kapal OSV Kedua Untuk Dishidros TNI AL

Seperti dikutip dari sindonews.com (12/10), temuan longsoran dasar laut ditemukan di kedalaman 200 – 500 meter di Tanjung Labuan, Wani, Teluk Palu. Kapushidrosal Laksamana Muda TNI Harjo Susmoro menyebutkan, temuan longsor dasar laut diperoleh KRI Spica 934 setelah melakukan survei full covered dengan menggunakan Multibeam Echosounder EM-302.

Hasil yang diperoleh Tim Pushidrosal ini dibenarkan oleh Pakar Tsunami Dr Gegar Sapta Prasetya dan Dr Rahman Hidayat yang ikut on board di KRI Spica. “Keduanya menyebut longsoran dasar laut itu sebagai submarine slumps yang diperkirakan sebagai asal kekuatan tsunami,” kata Harjo. Kapushidrosal yang juga merupakan Indonesia Chief Hydrographer ini menjelaskan, KRI Spica juga mengecek kemungkinan adanya spot kedangkalan di mulut teluk dan menambah area pemeruman di luar perairan Teluk Palu. Hal itu dilakukan guna memperkuat data untuk pembuatan peta tematik mitigasi bencana.

Data akuisisi terbaru dari Pushidrosal tentunya dapat memberikan informasi dasar laut yang lebih detail mengingat kemampuan Multibeam Echosounder yang digunakan menghasilkan sapuan batimetri full coverage. Jadi setiap perubahan topografi dasar laut dapat digambarkan dengan lebih jelas.

Khususnya tentang perangkat Multibeam Echosounder EM-302, memang menjadi salah satu dari serangkaian perangkan dan sensor canggih pada kapal yang punya panjang 60 meter ini. Echosounder EM-302 merupakan produksi Kongsberg Maritime, Denmark. Perangkat sensor ini berperan untuk melakukan pemetaan beragam permukaan dasar laut, namun tidak termasuk pemetaan kontur parit di dasar laut. Hasil pancaran echosounder ini dapat ditampilkan dengan resolusi dan tingkat akurasi tinggi. Dibanding perangkat multibeam echosounder jenis lain, EM-302 dapat memetakan dasar laut sampai kedalaman 7 ribu meter.

EM-302 bekerja menggunakan gelombang suara, persisnya mengadopsi ping akustik 30 Khz. Sinyal suara yang memantul dari dasar laut diterima kembali di kapal pada waktu yang berbeda. Komputer di kapal kemudian memproses informasi ini untuk menentukan kedalaman air, yang kemudian digunakan oleh para ilmuwan untuk memetakan peta batimetri. Selama pelayaran, data yang dikumpulkan dengan survei EM302 akan digunakan untuk menghasilkan peta dari situs penelitian utama observatorium. Perangkat Multibeam Echosounder EM-302 umumnya dipasang pada bagian bawah lambung kapal.

Baca juga: Hugin 1000 AUV – Drone Bawah Laut TNI AL, Mampu Menyelam Hingga 3.000 Meter

Selain EM-302, KRI Spica 934 dan KRI Rigel 933 juga dilengkapi beberapa solusi dari Kongsberg, sebut saja seperti Hugin 1000 AUV (Autonomous Underwater Vehicle), yaitu jenis drone bawah laut yang dapat riset dan observasi sampai kedalaman 3.000 meter. (Gilang Perdana)

4 Comments