Jelang Indo Defence – Indonesia Disebut Kepincut Chengdu J-10 dan Berniat Lanjutkan Rencana Pembelian Sukhoi Su-35

Ada dua simpul pemberitaan tentang alutsista di Indonesia, yang pertama kedatangan Presiden Perancis Emmanuel Macron yang dikaitkan dengan potensi pesanan tambahan jet tempur Rafale dan finalisasi kontrak kapal selam Scorpene class, dan yang kedua adalah perhelatan pameran militer Indo Defence yang akan berlangsung 11-14 Juni 2025.
Dan untuk Indo Defence, sudah bukan rahasia lagi, selama ini menjadi ajang yang identik dengan seremoni untuk kesepakatan akuisisi alutsista baru yang dipesan Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI.
Lantaran publik di Indonesia kini tengah ‘gandrung’ atas berita keunggulan jet tempur buatan Cina dalam perang udara di Kashmir, muncul suara di masyarakat yang menginginkan Indonesia bisa mengakuisisi jet tempur Chengdu J-10CE (varian ekspor J-10), seperti yang telah digunakan Angkatan Udara Pakistan.
Meski bukan perkara mudah untuk mengakuisisi jet tempur yang berbeda platform, menjawab pertanyaan mediadi Mabes TNI AU Cilangkap, KSAU Marsekal TNI mengatakan, “Ada pandangan kesana. Jadi untuk penentuan alat utama sistem senjata (alutsista) juga tidak hanya, ‘ya saya beli’,” kata Tonny.

Menurut Tonny, penentuan pembelian alutsista TNI AU harus melalui beberapa tahap dan pertimbangan di Dewan Penentu Alutsista (Wantuwanda). Di forum tersebut, pemerintah akan mempertimbangkan segala aspek dari mulai kecocokan alutsista untuk pertahanan negara hingga pertimbangan hubungan politik antar negara.
Indonesia sendiri, kata KSAU, merupakan negara non blok yang tidak terlibat konflik dengan negara manapun. Kondisi tersebut membuat Indonesia, dalam hal ini TNI AU, memiliki keleluasaan dalam membeli alutsista.
Terkait dengan riuhnya pemberitaan tentang Chengdu J-10CE, situs alert5.com punya ‘bocoran’, dikatakan bahwa Indonesia berencana untuk membeli 42 unit jet tempur Chengdu J-10, tapi yang menarik bukan soal jumlahnya, melainkan yang akan dibeli Indonesia disebut berstatus jet tempur bekas pakai. Tidak itu saja, Alert5.com mengatakan Indonesia akan melanjutkan kesepatakan atas rencana pembelian 11 unit jet tempur Sukhoi Su-35 dari Rusia.
Sumber alert5.com mengatakan dua kesepakatan di atas ada kemungkinan akan diumumkan secara resmi saat Indo Defence bulan Juni mendatang.
[the_ad id=”77299″]
Pengadaan potensial tersebut merupakan perubahan signifikan dari fokus Indonesia baru-baru ini pada alternatif Barat dan terjadi di tengah penyelarasan strategis negara yang lebih luas terhadap Cina. Perkembangan ini terjadi saat Indonesia memposisikan dirinya sebagai pialang kekuasaan regional sambil mengelola persaingan geopolitik yang semakin ketat antara Amerika Serikat dan Cina yang telah mendorong beberapa negara di kawasan tersebut untuk mengkalibrasi ulang penyelarasan strategis dan ekonomi mereka.
Upaya modernisasi pesawat tempur Indonesia telah melalui jalan yang berliku selama dekade terakhir, yang mencerminkan tekanan geopolitik kompleks yang dihadapi Jakarta saat menyeimbangkan hubungan dengan negara-negara besar yang bersaing.
Rusia Bulatkan Tekad (Lagi) untuk Kirimkan Sukhoi Su-35 ke Indonesia
Perjalanan tersebut dimulai pada September 2015 ketika Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengumumkan rencana untuk mengganti satu skuadron pesawat F-5E/F Tiger dengan Su-35 dari Rusia. Jadwal awal terbukti terlalu optimis, dengan kontrak aktual yang baru terwujud pada Februari 2018, yang mencakup 11 pesawat. Pengiriman pertama dijadwalkan pada Oktober 2018 untuk berpartisipasi dalam parade militer tahunan Indonesia.
Pada Desember 2021, KSAU Laksamana TNI Marsekal Fadjar Prasetyo mengumumkan pembatalan pengadaan Su-35 selama pertemuan media di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Meskipun awalnya dikaitkan dengan keterbatasan anggaran, gambaran lengkapnya muncul pada Juni 2023 ketika Kementerian Pertahanan mengungkapkan bahwa ancaman sanksi AS, bukan keterbatasan anggaran, telah mendorong keputusan pembatalan tersebut. Kementerian tersebut secara khusus mengutip kekhawatiran tentang sanksi CAATSA dan potensi pencantuman dalam daftar pantauan Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri.
[the_ad id=”77299″]
Setelah penghentian Su-35, Indonesia beralih ke alternatif Barat. Pada Februari 2022, Indonesia menandatangani kontrak dengan Dassault Aviation untuk gelombang pertama jet tempur Rafale, dengan pengiriman pertama dijadwalkan pada Januari 2026. Komitmen ini meningkat secara signifikan pada Agustus 2023 ketika gelombang kedua dari 18 Rafale tambahan memasuki daftar pesanan, sehingga total komitmen Rafale Indonesia menjadi 42 pesawat.
Pemerintah Indonesia juga berencana untuk membeli 12 pesawat Mirage 2000-5 bekas dari Qatar sebagai solusi sementara, dengan pengiriman dijadwalkan dalam waktu 24 bulan ke Pangkalan Udara Pontianak di Kalimantan Barat. Namun, rencana ini kemudian dibatalkan.
Batal Dibeli Indonesia, Qatar Kini Tawarkan 12 Unit Jet Tempur Mirage 2000-5 ke India
Sejalan dengan komitmen Rafale, Indonesia mempertahankan negosiasi aktif untuk jet tempur Boeing F-15EX dari AS melalui prosedur Foreign Military Sales (FMS), dengan diskusi awal yang menargetkan pengiriman pada tahun 2027.
Program F-15EX memperoleh momentum setelah keterlibatan diplomatik tingkat tinggi, termasuk kunjungan kepala Pentagon saat itu, Lloyd Austin, ke Jakarta pada November 2022 dan kunjungan Menteri Pertahanan saat itu, Prabowo Subianto, ke fasilitas produksi Boeing di St. Louis, Missouri.
Pergeseran yang tampak ke arah jet tempur Cina dan kemungkinan Rusia terjadi dengan latar belakang hubungan Indonesia yang semakin dalam secara dramatis dengan Cina. Pada Januari 2025, Indonesia menjadi negara Asia Tenggara pertama yang bergabung dengan kelompok BRICS yang dipimpin Cina memposisikan dirinya sebagai pendukung vokal untuk keterlibatan ASEAN yang lebih besar di blok yang berfokus pada masalah perdagangan, pembangunan, dan tata kelola global.
Terkhusus Cina mempunya pengaruh sangat besar, terlebih Cina adalah mitra dagang terbesar Indonesia, dengan perdagangan bilateral meningkat lebih dari dua kali lipat dari $52,45 miliar pada tahun 2013 menjadi $135,17 miliar pada tahun 2024. Cina juga merupakan investor asing terbesar Indonesia, dengan total investasi sebesar $8,1 miliar pada tahun 2024. (Gilang Perdana)



Indonesia strategis secara politik, perdagangan, dan wilayah, jadi ya diperebutkan banyak negara, contoh terbaru ya simpel, Amerika maksa produknya dibeli, saat Indonesia condong ke cina, begitupun soal Rafale, indonesia sampe ditawari varian tercanggih f-15 yang notabene jet tempur utama Amerika (disamping f-35 dan f-16 sudah terlalu umum, jadi biasa), padahal ya bukan negara sekutu dekat kayak Singapore atau Taiwan atau Israel.
Sudah terbuka berita nya dari dubes ambil J10 bekas PLA, & pasti nya ada iming2 PL15 dll ori dong maka mau dibeli,
Untuk penempatannya ya selain LCS lah, bisa perbatasan Malay atou Ausi😁
kalau bekas…berarti bukan varian export ya …..
betul
Berkaitan dengan J-10, tadi ada orang terkenal yang keceplosan ngetik di akun eks dan kemudian direvisi dihapus 1 paragraf. Tapi apa isi paragraf yang sudah keceplosan itu terlanjur discreenshot dan dibagikan di kalangan formil dan banyak yang sudah baca isi keceplosannya itu.
Hihihihi.
Agato,
Pesawat tempur dari China tidak akan meng-cover wilayah-wilayah yang anda sebut tadi (Natuna, Anambas, Morotai dan Miangas) bahkan Biak sekalipun. Wilayah tersebut akan dicover oleh 4 skuadron Rafale, Mirage dan F-15.
J-10 pun jika jadi dibeli hanya akan mengcover daerah-daerah yang berpotensi untuk ancaman separatisme (sebagian Sumatera dan sebagian wilayah bagian Indonesia timur). J-10 bisa jadi akan berkolaborasi bersama-sama dengan Sukhoi.
Ngapain beli bekas, udah ketinggalan zaman, membak kampret aja ga kena. Ga punya duit, ngutang, yg penting komitmen untuk bayar, jangan kaya india. Ngutang ga mau bayar, pake jurus beribu alasan.
J10c Pakistan konek dgn satelit militer china. Sehingga peralatan elektronik nya bisa di non aktifkan. Kenapa Indonesia tidak meniru Pakistan?
Jgn terpengaruh dg kemenangan j-10 atas Rafale, ada beberapa faktor kemenangan Pakistan atas India, pertama integrasi sistem yg dipakai Pakistan lbh bagus, krn mulai dari sistem penjejakan, penindakan dan rudal yg dipakai sama2 buatan cina, jd lbh gampang buat link datanya. Sedangkan India, dg banyak jenis alutsista yg dipakai menyebabkan koordinasi sistem malah kacau. Ini yg hrs jd perhatian petinggi TNI dlm mengakuisisi alutsista. Saat ini pespur yg digunakan didatangkan dri berbagai negara, mulai dari AS, Korea, Inggris, Rusia, Prancis yg termuktahir. Ini akan menyulitkan pengintegrasian sistem, di tambah lagi andai j-10 jd diakuisisi. Apa iya data link f-16 bisa saling terkoneksi dg j-10, su-30, Hawk 209…?
Yang harganya paling mahal yang belum pernah menembak jatuh pesawat tempur musuh. Yang paling murah malah menembak jatuh yang paling mahal. Yang harganya biasa2 saja malah yang paling strong dan terbukti bisa menembak jatuh pesawat2 musuh (ura nggak nih?). Yang paling mahal konon berjaya di Afghanistan, Suriah, Libya.
@TN: Indonesia beli pespur itu tidak hanya untuk jangka pendek atau menengah tapi juga arah strategis negara. Jika Indonesia membeli banyak pespur buatan China maka akan sangat riskan jika nantinya digunakan untuk melawan China saat konflik Natuna meletus. Itu artinya pembelian pespur dan alutsista dari China bisa diterjemahkan bahwa Indonesia tidak akan ikut campur dalam aksi dan Konflik China baik di Laut China Selatan atau Taiwan. Indonesia akan bersikap netral jika konflik itu meletus dg resiko sikap netralitas Indonesia akan memicu tanggapan negatif dan bahkan serangan dari negara sekutu termasuk USA yg punya kepentingan berseberangan dg China. Kalo itu yg terjadi, alutsista dari China cocok buat menghadapi ancaman tersebut.
Tapi jika Indonesia membeli alutsista termasuk pespur dari Barat termasuk dari USA maka Indonesia kemungkinan akan bersikap cenderung berada di pihak Barat di mana senjata tersebut sangat cocok bila digunakan melawan China jika China mulai mendesak lewat Natuna, Anambas, Miangas dan Morotai.
Jadi pemilihan alutsista khususnya pespur harus dilihat kalkulasi politik strategisnya, jangan sampai kita salah ambil senjata ternyata tidak berguna dalam perang nyata.
Catatan saya, jika Indonesia ambil J-10 bekas China maka pertanyaannya apakah China mau menjual PL-15 atau PL-21 ori mereka kepada Indonesia?
Dan kedua, apakah China mau menjual juga radar anti Pesawat Siluman yg dikembangkan oleh mereka?
Sebaiknya tidak usah direalisasikan,tidak efisien,tidak usah latah.lebih baik j-35 atau J-50 sekalian sebagai mitra kerjasama produksi dengan tiongkok.rafale tidak perlu ditambah dan F-15 Perlu dilanjutan,semua tentu didukung teknologi radar dan AEW yang mumpuni.hawk alihkan saja pada TNI AL,untuk sementara megisi wing tempurnya TNI AL yang lama kosong
Agato,
Buat apa beli J-10 bekas ?
Sama seperti Mirage Qatar, J-10 bekas buat kejar target 14 skuadron jet tempur untuk optimum force sedangkan target MEF cuma 11 skuadron.
1 skuadron sukhoi 27/30
2 skuadron F-16
4 skuadron Rafale
2 skuadron F-15
3 skuadron J-10
1 skuadron Mirage
1 skuadron Su-35
1+2+4+2+3+1+1 = 14
TA/FA-50 dan Hawk hanyalah jet tempur yang sangat ringan. Mirage dan J-10 adalah jet tempur medium. Hawk harus segera diganti. F-16 karena akan diupgrade dengan cara Turki belum tahu performanya. Sedangkan KFX kita masih eyel-eyelan sama Korsel. Kalopun jadi ambil KFX masih nunggu lama begitu juga dengan KHAAN belum produksi. Bagaimana pun untuk kejar target perlu pesawat bekas yang tidak hanya 1 skuadron. Dan Mirage serta J-10 bekas yang jadi jawabannya.
Kemarin saya bikin simulasi 14 skuadron tersebut ditempatkan di mana saja dan hasilnya paling banyak skuadron ditempatkan bukan untuk menghadapi China tetapi untuk menelan tetangga yang suka klaim budaya dan bahasa milik kita. Si tetangga ini yang bikin Asean tidak kondusif, bahkan Singapore dan Filipina pun nggak suka sama tetangga yang satu itu.
Sisa skuadron-skuadron lainnya untuk mengisi sebelah timur yang masih kosong.
F-15EX sepertinya tidak jadi dibeli sedangkan penambahan Rafale berkaitan dg akuisisi senjata secara lengkap termasuk Meteor dan Strom Shadow serta Airbus A330 AEW untuk pemandu serta kemungkinan varian tankernya juga untuk memperkuat.
Jika F-15EX dibeli, maka rencana beli J-10 bekas dan Su-35 takkan diambil. Hanya saja beli J-10 bekas buat apa? Dan Su-35 hanya 11 unit buat apa juga? Kalo 42 unit yg diakuisisi jelas itu bagus Walopun secara teknologi masih kalah dari Pespur yg tersedia di Kawasan di mana Aussie dan Spore punya F-35.
Akan sangat luar biasa jika Indonesia mengakuisisi J-35 atau KAAN Turkiye Walopun saya lebih merekomendasikan F-35 untuk Indonesia.
*langsung scroll ke bagian komen menunggu ‘pendapat-pendapat’ ahli & sales 🙂