Batal Dibeli Filipina, Frigat Maestrale Class Justru Diakuisisi Indonesia

Bagi Angkatan Laut Filipina, keberadaan frigat multirole semi stealth Jose Rizal Class adalah sebuah kebanggaan, betapa tidak, dua unit kapal perang produksi Hyundai Heavy Industries (HHI) ini, statusnya dibeli dalam kondisi baru dari Korea Selatan, sesuatu yang terbilang langka dalam pengadaan alutsista di Negeri Pinoy.
Baca juga: AL Filipina Resmi Operasikan BRP Antonio Luna, Unit Kedua Frigat Jose Rizal Class
Namun, tahukan Anda, bahwa sebelum akhirnya memutuskan mengakuisisi dua unit frigat Jose Rizal Class, Filipina terlebih dahulu melirak-lirik frigat second alias bekas pakai. Nah, salah satu yang sempat menjadi kandidat Filipina adalah frigat Maestrale Class buatan Fincantieri, Italia.
Dalam konferensi pers yang digelar pada 2 Agustus 2012, Departemen Pertahanan Filipina mengumumkan bahwa saat itu tengah melakukan negosiasi dengan Pemerintah Italia untuk pembelian dua unit frigat Maestrale Class. Anggaran yang disiapkan untuk pembelian kedua frigat mencapai US$240 juta, dengan jadwal pengiriman mulai tahun 2013, setelah kapal melewati fase perbaikan. Bahkan, pada 22 September Kongres Filipina menyetujui anggaran yang mencakup pendanaan untuk dua frigat tersebut.

Namun, negosiasi untuk frigat Maestrale Class diselesaikan tanpa kesepakatan, dan justru Pemerintah Filipina akhirnya memilih untuk membeli frigat baru sebagai gantinya. Dan pada 4 Juli 2013, diumumkan bahwa Filipina akan mengakuisisi dua fregat baru dari Korea Selatan.
[the_ad id=”12235″]
Yang menarik, ternyata Maestrale Class dikabarkan akan diakuisisi oleh Indonesia, di mana dua unit frigat ini akan direkondisi dalam paket pembelian enam unit frigat FREMM Bargamini Class yang diakuisisi Indonesia dalam kondisi beli baru.
Bagi warganet di Indonesia, nama frigat Maestrale Class terasa asing, lantaran kapal perang ini hampir tidak pernah disebut-sebut dalam tajuk pembicaraan di forum-forum pemerhati alutsista.
Tupoksi dari frigat Maestrale Class adalah menjalankan peran anti kapal selam, maklum frigat rancangan era perang dingin ini, digadang untuk menghadapi kapal selam Uni Soviet. Meski begitu, frigat Maestrale Class dapat fleksibel menjalankan peperangan anti permukaan dan anti serangan udara.
Total ada delapan unit frigat Maestrale Class yang telah dibangun, dimana peluncuran unit perdana, yaitu ITS Maestrele berlangsung pada tahun 1981, dan kemudian masuk kedinasan angkatan laut Italia pada tahun 1982. Dari kedelapan kapal yang telah diluncurkan dan diserahkan untuk angkatan laut italia, saat ini tinggal empat unit yang beroperasi.
[the_ad id=”77299″]
Keempat kapal yang masih beroperasi adalah ITS Gracale, ITS Libbecio, ITS Espero dan ITS Zeffiro. Nah, dari keempatnya, dua di antaranya nanti akan direkonsisi untuk kebutuhan TNI AL.
Deretan persenjataan utama yang melengkapi frigat ini adalah, 4 peluncur rudal anti kapal TESEO Mk-2, 1 unit Albatross octuple Aspide SAM launcher, 1 pucuk meria Otobreda 127 mm, dua unit Oto Melara Twin 40L70 DARDO CIWS, serta 2 peluncur torpedo 324 mm dalam triple tubes.
[the_ad id=”12235″]
Mengandalkan propulsi yang mengkombinasikan mesin diesel atau gas – combined diesel or gas (CODOG), frigat Maestrale Class sanggup berlayar dengan kecepatan maksimum 33 knots dan menjelajah sejauh 11.000 km dengan kecepatan jelajah 15 knots.
Frigat ini dilengkapi helipad berukuran 27 meter, menjadikannya mampu didarati helikopter berukuran sedang. AL italia menempatkan helikopter AS-212 untuk misi anti kapal selam, ini artinya helikopter Nbell-412 Puspenerbal dapat beroperasi dengan mudah di frigat ini.
Dari spesifikasi, frigat Maestrale Class dengan 225 personel, punya panjang lambung 122,7 meter, lebar 12,9 meter dan bobot penuh mencapai 3.040 ton. Nah, mungkinkah frigat Maestrale Class bakal benar-benar hadir memperkuat arsenal Satuan Kapal Eskorta TNI AL? Kita tunggu saja update selanjutnya. (Gilang Perdana)



2 bekas 4 baru…
Emmmm…..
2 bekas, 6 baru om……
Bismillah jangan lupa tambah kapal selam reis kelas 214 AIP jika dapat coba dikerjakan tenaga putera puteri indonesia di PT.PAL galang ToT Dengan turki maupun jerman untuk partner teknologinya.untuk polairud polri tambahkan saja kapal kelas KRIVAK III sebanyak 5 unit untuk patroli maritim jadi patrolinya tambah sangar.
Kalau nanti mau lanjut kelas REM nya jangan lupa lobby HNMS Fregat kelas Karel Dorman bekasan kayaknya lebih mumpuni ini dr pd maestrale.. kalau di video2 youtube gahar amat nerjang ombak nya, sensor ama senjata okelah pasti
ad 4 kapal MAESTRALE y tersisa ,dan dua di akuisisi Al.
2 lg minat ngak ya
nggak om, 2 second hanya utk stop gap sampai yg baru meluncur. Semoga Iver 2 unit juga jadi kan sudah kontrak duluan…
terima bekas apa adanya … anggap bonus dan kalo mau upgrade biar PAL yg kerjakan, kan sdh pengalaman bikin baru, lumayan nambah ilmu dan duit manhour nya buat orang kita.
Pas sampai ke Indonesia.
Seperti biasanya persenjataan nya sudah dilucuti semua paling menyisakan meriam Otobreda 127 mm sama dua unit Oto Melara DARDO disamping kapal.
Rudal/Missile mah pasti ditinggal disana gak diikutin..
Gak masalah Meriamnya diganti jadi cal 76mm, selain bisa dipake buat bantuan tembakan juga bisa dipake buat CIWS. Udah gak jaman lagi pertempuran dg meriam sejak Perang Di Pasifik.
Klo senjata ny masih ad pasti ngak user friendly lg lah.
Alias emang harus di ganti 🤣.
Masak senjata tua masih di bawa.
Percuma dong radar, sonar,d jeroan lain di update
Aspide alias Sea sparrow sang rudal tuwir Maestrale kalah segalanya dibandingkan Mica KRI REM
Mengingat armada Kombatan utama TNI AL banyak y akan memasuki Purna tugas .
Dan armada y relatif baru jga tidak seberapa maka menuntut Kemhan melakukan pengawasan kapal baru.
3 KRI BUNG TOMO
4 KRI DIPONEGORO
3 KRI RADEN EDI MARTADINATA
3 UNTUK PENGADAAN TAMBAHAN.
10 UNIT REM versi y di konvensi kan menjadi
ASW
3 KS NAGA PASA
8 KCR 40 M
8 KCR 60 M
10 KCR 60 M
2 MAESTRALE
6 FREMM
6 KS Bru tipe 214-216😅
Sedangkan dalam waktu dekat ,cukup banyak armada AL y akan masuk purna tugas.
2 KRI NANGGALA
14 PARHCIM CLASS
3 FATAHILLAH CLASS
6 Van Speijk
Y pasti² aj lah
Paling tidak frigate ini bisa menakut nakuti nelayan milisi chipeng yg coba2 berkeliaran di laut Natuna. 1 pucuk meria Otobreda 127 mm, dua unit Oto Melara Twin 40L70 DARDO CIWS siap merobek robek lambung kapal nelayan milisi Chipeng. Dan bahkan merontokkan kapal CG chipeng junjungan dek distanata sang sales quadpack gagal.
Kalo buat OPV Bakamla sih iya, kalo buat Type 051 apalagi, Type 055 jelas mundur tuh kapal.
Berharap dapat bekasan itu sekelas Lafayatte class, atau Dutch M Class frigate. Masih gak terlalu bnyak upgradenya. Tapi tetep bersyukur lah dapat frigat “STW’ ini. Sebenarnya klo di upgrade sama Gang Leonardo Company sperti radar baru cronos series, CMS Athena sama new bow sonar (thales etc) masih lumayan menggigit utk ukuran kapal lawas. Klo SAM setau sy albatros itu udh gak produksi lg. Jadi yaa pasti minus di posisi SAM nya.
Sambil menunggu kedatangan FREMM, maestrale bakal jadi stop gap yg ‘decent’ buat TNI AL
2 unit Maestrale class itu bonus dari pembelian 6 unit carlo Bergamini class. Hanya saja untuk rekondisi/upgrade Maestrale class kudu bayar ongkosnya. Lagipula Maestrale class itu untuk stop gap saja sebelum target 16 real fregat tercapai.
masih sekelas dengan Martadinata class, kenapa gak lanjut di galangan PAL dengan nambah martadinata class, waaupun tonase lebih ringan tetapi mendapat unit yang lebih baru dan mematangkan skill teknisi PAL.
Betul mas sepikiran sama saya.. kita lebih bijak beli pkr krn duit kita terbatas banget…. pkr dan cangbogo diteruskan saja…
Yg sekelas REM itu yg mana ya?? Kalo Bergamini jelas jauh diatasnya, kalo Maestrale itu beda tupoksi sama REM. REM itu general Purpose aka Multirole sedangkan Maestrale itu khusus buat anti kasel atau ASW. Kalo mau bandingin sesuai purpose ya sama Parchim.
Kekecilan martadinata…
Bisa jadi kapal ini adalah bonus karena membeli 6 fremm.. Strategi marketing
Mereka tau kita butuh kapal dlm waktu cepat hrs hadir di nkri. Kapal baru tentu butuh waktu.
Tp diupgrade jadi ada biaya tambahan
Dulu Indonesia pernah memakai kapal perang buatan Italia yaitu kapal destroyer Almirante Clemente Class.
Berharap Mogami class yang datang malah …. 8 biji kirain baru semua eh ternyata 2 biji …. entah apa pertimbangangan dari kemenhan. Mbah berharap tidak tau pertimbangannya😂😂😂
Liat dulu..ntar : Aspide SAM, Otobreda 127 mm, Oto Melara 40L70 DARDO, CODOG…di pretelin/gak…?
Belum elektroniknya..
Jadulan lawas tuu…parts’nya ga ada di logistiknya TNI AL pula…
😛
Meriam diganti Ama cal 76 mm, bagus buat bantuan tembakan dan CIWS. Kalo oto melara 40L70 DARDO, bisa diganti dg Millenium gun. Kalo mesin mungkin diganti.
Lihat dulu anggaran kita berapa…. Lanjutkan saja program PKR, CHANGBOGO jilid 2…. ga usah muter2 politik bikin bingung rakyat. Nawar banyak barang ujung2nya ga jadi, bikin senewen rakyat dan pabrik kapal perang nya… Beli f16 Viper minta bonus f16 gurun… Itu baru smart
Changbogo kemampuan kedalaman selamnya payah dibandingkan yg ORI. Daya tahan dalam air juga kurang. PKR kurang cocok untuk endurance di wilayah yg luas seperti LCS, Pasifik dan Hindia. Udah tepat milih yg gede. Viper itu bagus tapi lebih cocok buat second line, First line harus diisi pespur yg mumpuni dari segi jelajah, jumlah senjata dan kemampuan serang maritim yg nyata kayak Rafale dan F-15EX. Beda cerita kalo bisa dapet F-35 karena F-35 bisa berperan sebagai play maker dan recon.
Ini kapal hampir seumuran parchim class yg rencananya mau dipensiunin bertahap..la ini malah baru mau dibeli..mending kyk pinoy aja beli baru dgn sensor n weapon yg lebih tinggi..klo ngga pnya duit ya ngga usah dipaksain beli level mercy
Buat tambal sulam. Parchim gak cocok dipake di LCS. Buat ngejar kasel langsung oleng parah, itu karena Parchim di desain buat laut Baltik yg sempit dan area pesisir. Beda Ama Maestrale yg gede, bisa dipake di laut yg luas dan endurance lama.
Ini menurut ane. Jadi Maestrale ini fungsinya buat pelatihan FREMM. Karena FREMM ini bisa dibilang produk Itali, sistem elektronik Itali, dan persenjataan Itali. Fungsi Maestrale akhirnya sebagai kapal pelatihan sebelum kapal FREMM datang karena kapal ini cuman butuh sedikit moderenisasi. Jadi kl menurut ane, ini juga kapal sebagai pengganti Ki Hajar Dewantara class
Maestrale buat gantiin peran parchim buat sementara selama Mogami atau Bergamini varian ASW siap dibuat.
Masih boleh beli barang second kah? Adakah batasan usia/kualitas barang second yg boleh dibeli
Selama barang second itu ga terbang => boleh.
😂😂😂😂😂
Seumur sm korvet fahilah class. Tp ngga ada msh punya taring buat mengusir cg cina.
Unit perdana dibangun tahun 1981, berarti seumuran dengan Fatahilah class dan Cakra class
Chanel lain pake music rock, IM pake EDM.
Chanel militer generasi 5 dah.
Top pokokmen
Lhahh kapal perang rancangan era perang dingin ngapain dibeli ???? Sudah kuno
Karena FREMM dan Iver masih lamaaa mulai masuk dinasnya. Sedangkan kita sedang butuh cepet buat ngeronda. Maka dibeli sekonan sebagai interim. Lagian ini “bonus” (walaupun nggak gratis) dari pembelian 6 ekor FREMM.
Kuno tidaknya kapal tidak menjadi syarat mutlak dalam pertempuran Dhek, itu bergantung dg strategi yg dipake dan jaringan komunikasi/deteksi yg dimiliki.
Lumayan juga persenjataannya setidaknya lebih gahar dari KRI Ahmad Yani class
Lumayan buat nambah kekuatan Armada Laut buat menghadapi Tiongkok yang semakin arogan..
Mengingat armada Kombatan utama TNI AL banyak y akan memasuki Purna tugas .
Dan armada y relatif baru jga tidak seberapa maka menuntut Kemhan melakukan pengawasan kapal baru.
3 KRI BUNG TOMO
4 KRI DIPONEGORO
3 KRI RADEN EDI MARTADINATA
3 UNTUK PENGADAAN TAMBAHAN.
10 UNIT REM versi y di konvensi kan menjadi
ASW
3 KS NAGA PASA
8 KCR 40 M
8 KCR 60 M
10 KCR 60 M
2 MAESTRALE
6 FREMM
6 KS Bru tipe 214-216😅
Sedangkan dalam waktu dekat ,cukup banyak armada AL y akan masuk purna tugas.
2 KRI NANGGALA
14 PARHCIM CLASS
3 FATAHILLAH CLASS
6 Van Speijk
apa pun bagus adanya bila sejalan dengan kemandirian bangsa… termasuk pengadhaan alutsista…!!!
mau ngelola uang ribuan triliun itu engak gampang kalou konsep saja engak memadai…lantas akan buat beban negara kian berat kedepanya…hutang untuk komsumsi itu sama saja buat jerat dileher sendiri…dan pada akhirnya yang susah 300 juta penduduk dan rakyat indonesia akibat kebijakan yang salah…lah enak yang buat kebijakan kebagian bayar juga sama dengan rakyat lainya…tanpa harus takut dipidana dan diperkarakan…karna kebijakan itu bagai sabda tuhan dan engak boleh dipertanyakan apa lagi diperkarakan…😅
samiun samiun😆
Kok bisa disebut konsepnya tidak memadai? Emangnya konsep yg memadai itu seperti apa?
masak pengamat internasional berkelas engak paham scomment diatas sih…😅 padahal jelas loh itu…liat kata kuncinya “kutang untuk kosumsi” dalam lingkup a kemandirian dan cakupan beban angaran kedepan…cari deh di google yah yang rajin search…😅🤣
Itu kan pendapat ente yg mengira kalo nih perencanaan Kemenhan sekarang kayak orang belanja di Giant. Kan udah ada MEF udah ada perencanaan pertahanan yg ada sebelumnya. Makanya itu yg udah lama masuk kabinet dikeluarkannya lagi ditelaah dan dikoreksi selama 1 tahun ini, di cek langsung ke produsen baru kalo dah dapet gambarannya baru dieksekusi ngajuin pinjaman Segede 1700T. Cara kayak gini sama kayak eksekusi MRT. MRT itu perencanaan aja udah lebih dari puluhan tahun, dana dan model pembiayaannya itu dah ada yg kurang tinggal keberanian eksekusinya aja. Sama kayak alutsista sekarang. Paham???
yasalam dek…engak nyambung dong kalou gitu…perencanaanya…dengan cita cita kemandirian aka omong kosong semata…😅
padahal kata tot itu kita sendiri yang publikasi…dan kamu engak paham maksud komen saya diatas….!!!!
saya engak mempermasalahkan pengadaan sesuai dengan kebutuhan dokrin yang dianut tni tapi lebih pada skema nya pengadaan tersebut…saya contohkan biar lebih jelas lagi yah…
tni memerlukan 20 frigate dan itu sah, tapi bagai mana skema penggadaanya….???
barang bekas kah atau barang baru…lantas bagai mana bentuk offset atau tot tersebut…???
lalu bagai mana mengoptimalkan inhan dalam negri untuk kedepanya…termasuk amunisi senjata bahkan suku cadang nya…??!?!
kalou membeli saja sesuai kebutuhan saat ini tanpa mempertimbangkan kedepanya…emak emak juga bisa…lantas kenapa kita butuh ahli ahlinya…???
Ya tidak mudah donk dek utk menerapkan sekali dayung 3 pulau terlewati sementara potensial ancaman sdh semakin nyata.
Konsep pengadaan baru pastinya spt mekanisme martadinata class jika kapal perang, kalo pespur diharapkan ada offset dr rafale spt saat pengadaan F-16 block 15 kita dulu. Sementara utk imbal dagang, sptnya ini yg dikedepankan utk memperkecil hutang dan menggerakkan ekonomi nasional.
Nah utk pengadaan bekasnya, itu.merupakan cara cepat utk didatangkan dan langsung bisa menambah kemampuan TNI selama stop gap.
Kalo masalah transper teknologi, kita flash back ke pengadaan BMP- 3 yg TOTnya berupa sistem dan senjata BMP-3F (Amunisi) akan diproduksi di PT. Pindad. Begitupula dng pengadaan rafale dan Fremm yg disertai kebijakan TOT, maka pemerintah selanjutnya diikat komitmen utk melaksanakan kebijakan TOT yg sdh didapat sehingga sedikit demi sedikit mengurangi kebergantungan terhadap produsennya. Nah itu dimain pemerintah dr 2024 sampai 2045. Yakinlah spt itu dek konse mereka…😁😁
Ya. Salaamm…😄😄😄
Gini ya Dhek Lugas aka Mbah Hari, mengapa pengadilan itu di percepat, kalo kata Dhek Rukimin di Akselerasi. Karena pengadaan alutsista itu akan lebih efektif dan efisien jika dilakukan secara serentak. Apa acuannya? 1.) Terlalu banyak alutsista tua yg harus segera diganti. Kalo ada yg beli bekas kayak Maestrale, itu hanya sebagai penutup sementara buat Parchim sekaligus menyiapkan alutsista dg kemampuan serupa Parchim atau Maestrale. 2.) Kondisi saat ini yg susah diprediksi (wabah pandemi dan agresivitas China di Kawasan). Semua pergerakan agresif China sebenarnya lebih ditujukan untuk menguasai wilayah yg menurut mereka itu menjadi hak mereka dimasa lalu. Tapi masalahnya, sekarang wilayah-wilayah tersebut sangat penting bagi konektivitas seluruh dunia baik untuk perdagangan maupun telekomunikasi. Tentunya bakal banyak yg terancam dan penguatan otot tetap harus diperkuat. Siapa yg akan menjamin perang tidak akan terjadi di kawasan dalam rentang 20 tahun kedepan?? 3.) Efisiensi anggaran, pengadaan yg besar untuk alutsista akan menyelamatkan anggaran dari ancaman inflasi. Anggap pendapatan dan GDP kita naik, tapi inflasi diseluruh dunia juga akan tetap naik termasuk harga alutsista karena kalo kita bicara alutsista berarti kita bicara seluruh komponen dan spareparts nya juga, tidak hanya bodinya saja. Selain itu pengadaan untuk 25 Tahun kedepan itu sudah sangat tepat karena masa pakai dan out of date suatu alutsista itu biasanya antara 20-30 tahun. So, takkan percuma pembelian saat ini dan diganti 25 tahun lagi karena tentu alutsista seperti pespur generasi keenam tentu sudah siap dan banyak di pasaran. Jadi Indonesia tidak ketinggalan jaman lagi dalam pengaplikasian penggunaan alutsista.
4.) Ingat, sesuai UU, kita memang membutuhkan ToT untuk kemandirian. Dengan anggaran yg besar juga tentu kita bisa minta ToT seperti cara India yg make “Made in India” untuk mendapatkan keahlian dan kemandirian dalam produksi alutsista lewat ToT. Semua itu bisa dilakukan kalo belinya borongan. Ente kira kalo beli ngetengan kayak yg sering dilakukan Indonesia sebelum-sebelumnya bakal bisa dengan mudah dapet TOT???
Pengadaan alutsista walopun punya budget setara 2% GDP sekalipun tetap tidak akan membantu kalo mau nyicil beli per 5 tahun kayak yg ente pengen jika dihadapkan dengan problematika yg ada diatas. Alutsista 60% sudah tua, ancaman yg tidak dapat diprediksi, keinginan dapet ToT, Inflasi, ngejar MEF. Dari sini paham??
Ralat: pengadaan bukan pengadilan.
Sebenarnya klo ente mau mendalami lagi, di menhan yg ini justru beban berat yg dipikul. Yg pertama menuntaskan MEF 2 yg blom rampung dan MEF 3. Kendala yg dihadapi utk menuntaskan itu, dana PLN yg tersedot di infrastruktur, lalu disusul ada CAATSA yg menghadang namun harus tetap bermanis muka dng Rusia Dan terakhir agresifitas China dng pengerahan nelayan milisinya.
Satu contoh, tdk gampang utk memutuskan pilihan pespur yg dianggap mampu mengimbangi kemampuan pespur china sekaligus jg msh mampu berhadapan dng kekuatan pespur gen 5 milik si upil dan tetangga selatan, namun masih tetap bisa membuat paman SAM tersenyum disaat lampu hijau pengajuan pembelian F-35 tdk diperoleh. Sementara dr dalam negeri begitu gencarnya kaki tangan produsen pespur dr negara sono meneriakan utk mengakuisisi jenis pespur yg notabene sdh usang dan inferior jika berhadapan dng musuh utara dan selatan yg sdh mengadopsi teknologi gen 5.
Kalo bicara soal Dana, seandainya dirunut hutang pembelian alutsista, jika dilakukan perrenstra 5 tahunan dr 2024 sampai 2045 mungkin nilainya bisa melebihi apa yg diajukan sekarang. Dan itu blom tentu menuntaskan arah kebijakan alpahankam kita, mengingat ala kebiasaan berganti pemimpin maka berganti pula kebijakan.
Sementara dng adanya akselerasi pemgadaan alpahankam ini setidaknya, suka atau tidak suka akan selalu ditaati hingga 2045. Pertanyaannya jika sdh dibeli skrng dlm jumlah ideal, emang pemimpin yg akan datang mau beli apalagi jika semua sdh didapat melalui pola akselerasi hingga 2024.?
Lalu pertanyaan selanjutnya konsep spt apaagi yg ente maukan.? Sementara pengadaan Alpahankan dng nilai sebesar itu merupakan usulan bottom up dan mengacu pada renstra. Bukan daftar belanja sesuai kemauan Menhan. Dan itu tetap pada rule MEF dan dilanjutkan kebutuhan idealnya lho. Ente harus ingat belanja militer ini merupakan belanja investasi. Yaitu investasi peningkatan ekonomi dng banyak masuknya investasi asing akibat adanya kepastian dan jaminan keamanan …😁😁
Ya Salaamm….😄😄😄
Jangan bilang pespur inferior bang, ntar mbah gatolnya marah 😂
dari sekian panjang komentar kedua sepuh ini pada dasarnya sama dan satu ide garis besarnya,yaitu mutar diseputar masalah clasic aka retro…😅
dan yang engak ngecun ini mef,padahal sudah dibilang berulang kali engak ngebahas buku putih pengadaaan sista…masih makai istilah MEF….😏
jadi gini ya dek paijo sama dek paiji…biar sekalian biar jelas nah kita bahas sekalian ….kata MEF itu berawal saat pemerintahan susilo banbang yudoyono(sby) dibawah menhanya purnomo yusgiantoro istilah itu adalah teori acuan yang dikejar dan ditargetkan dalam pengadaan sista yang mendukung doktrin….oke
setelah pemerintahan selesai diganti kepemerintahan baru itu sudah di lagi jadi acuanya…oke
mengapa…???
karna setiap pemerintahan punya sekala prioritasnya dan banyak lagi alasan lainya…!!!
jadi simbah bilang berulang males bahas nya…tapi masih ngeyel nya…😅
tapi dari sekian panjang ada yang menarik dari isi komentar yaitu:
“Sementara utk imbal dagang, sptnya ini yg dikedepankan utk memperkecil hutang dan menggerakkan ekonomi nasional”.
ini engak nyambung antar imbal dagang dengan pengurangan hutang dan mengerakan ekonomi…😅
satu kalimat saja sudah engak ngenah…apa lagi gitu panjang coba…😁
Menarik, mau Head2head sama Mogami class buat peran ASW ya. Kalo 2 jelas kurang loh minimal 6 biji.
Lha unitnya aja tinggal 4 kok, malah ngarep 6 biji mbaaah…mbah..😌
6 biji itu kebutuhan idealnya, bukan minta beli Maestrale 6 biji. 6 biji itu kalo bisa dicarikan yg baru dg penggunaan yg sama yaitu sebagai AKS/ASW. Dari sini paham??
Maksud si mbah kapal dgn peran ASW nya yg 6 biji. Ga hrs mistrale. Lha ini kapal jg ane yakin bwt ngisi kekosongan sampe yg baru dtg kecuali gnt pejabat gnt lg arah kebijakan nya br runyam.
Yg bener aja frigat asw era akhir perang dingin masa dibandingin sama mogami buat peran asw modern.
Buat tambal ban sementara.
Kan mw di modernisasi om. Kita lht aja dl jeroannya gmn setelah di modernisasi apakah sekelas dgn FREEM nya perancis ? Klu sdh jls yg bakal di modernisasi silahkan bandingin, cm jgn bandingin chasingnya ya pst jls klh mistrale yg dibwt zaman perang dingin.