Identitas dan Spesifikasi Masih Misteri, Cina Uji Terbang Perdana Pesawat Tiltrotor Berawak

Pencapaian teknologi wahana tiltrotor Cina terbilang fantantis, bila pada bulan Oktober tahun lalu diumumkan produksi drone tiltrotor Zhang Ying R6000 yang berbobot enam ton, maka ada kabar terbaru, Negeri Tirai Bambu telah sukses menerbangkan perdana pesawat tiltrotor berawak (manned).
Baca juga: Korps Marinir AS Perluas Kemampuan MV-22B Osprey Dalam Misi Anti Kapal Selam
Nama pesawat tiltrotor baru ini, serta perusahaan perancangnya, masih belum diketahui. Namun, terdapat rumor yang belum dikonfirmasi bahwa pesawat dengan teknologi ala V-22 Osprey itu dikembangkan oleh Hafei Aviation Industry, yang dikenal sebagai produsen pesawat ringan dan helikopter. Sebagai informasi, Hafei adalah anak perusahaan Harbin, yang berbasis di kota dengan nama yang sama, tetapi juga memiliki cabang di Beijing.
Sebelumnya, model tiltrotor yang tampak serupa telah dipresentasikan oleh Aviation Industry Corporation of China (AVIC), konglomerat kedirgantaraan dan pertahanan milik pemerintah yang terdiri dari beberapa perusahaan.
Belum jelas juga kapan dan dari mana foto-foto yang tersedia berasal, tetapi foto tersebut mulai beredar di media sosial baru-baru ini. Salah satu gambar menunjukkan tiltrotor baru tersebut diparkir di hanggar, dengan prototipe lain dari pesawat yang sama diparkir tepat di belakangnya.

Secara keseluruhan, tiltrotor berawak ini memiliki konfigurasi dasar dan tampilan yang mirip dengan Leonardo AW609. Tata letaknya mencakup kabin yang tersampir di bawah sayap lurus, dengan mesin turboshaft di nacelle yang terpasang di ujung sayap. Setiap pod yang dapat diputar memiliki proprotor yang dapat diposisikan pada berbagai sudut untuk berbagai mode penerbangan.
Desainnya mengadopsi teknologi tiltrotor generasi baru Bell, seperti yang digunakan pada Bell V-280 Valor, di mana alih-alih seluruh nacelle berputar, hanya bagian depan yang berputar. Solusi ini diklaim dapat mengurangi kompleksitas dan meningkatkan keandalan, serta kinerja, dibandingkan dengan konsep tiltrotor sebelumnya di mana seluruh nacelle berputar, seperti pada V-22 Osprey — satu-satunya pesawat tiltrotor yang saat ini beroperasi penuh.
Cina Mulai Produksi Zhang Ying R6000 – Drone Tiltrotor Mirip ‘Osprey’ dengan Berat Enam Ton
Empennage (bagian ekor pesawat) pada desain tiltrotor ini terdiri dari ekor-T konvensional yang dipasang tinggi. Terdapat pintu kecil yang menyediakan akses ke dek penerbangan di setiap sisi badan pesawat, dengan pintu yang lebih besar di sisi kanan yang menyediakan akses kabin di sisi yang berlawanan. Ketiga sudut dapat ditarik, dengan satu roda pada setiap unit.
Dari segi ukuran, tiltrotor terbaru Cina ini tampaknya berada di kelas yang sama dengan AW609. Desain Italia ini jauh lebih kecil daripada V-22 buatan AS, dengan berat kotor maksimum 18.000 pon (8.164 kg) dibandingkan dengan 52.000 pon (23.586 kg) untuk Osprey (dalam mode VTOL).
Leonardo AW609 Mendarat Perdana di Kapal Induk Italia ITS Cavour, Saingan Tak Langsung Osprey
Dilengkapi kabin bertekanan, AW609 dapat menampung hingga 12 penumpang dalam konfigurasi kepadatan tinggi, sementara V-22 dapat menampung dua kali lipatnya, atau bahkan lebih, tergantung pada pengaturan tempat duduk. Osprey juga dilengkapi dengan ramp belakang, probe pengisian bahan bakar udara, dan kemampuan untuk mengangkut beban yang digantung. Kuartet MV-22B Korps Marinir AS terlihat terbang di atas Australia pada tahun 2022. Korps Marinir AS
Parameter kinerja AW609 meliputi kecepatan jelajah 270 knot, jangkauan hingga 1.000 mil laut dengan bahan bakar tambahan, dan kemampuan membawa beban 6.000 pon (2.800 kg), ditambah kerekan pintu seberat 600 pon (2.800 kg).
Angkatan Darat AS Pilih Bell V-280 Valor Sebagai Pengganti Helikopter UH-60 Black Hawk
Meskipun demikian, seperti yang telah dibahas sebelumnya, AW609 memiliki potensi militer yang jelas, terutama untuk misi-misi khusus tertentu, meskipun awalnya ditujukan untuk pekerjaan sipil. Misi militer yang sangat relevan dengan tiltrotor meliputi pencarian dan penyelamatan tempur (Combat SAR), operasi khusus, serangan amfibi, serta bantuan kemanusiaan dan bencana.
Meski kemunculan pesawat tilrotor Cina lebih dominan dengan aroma sipil (komersial), namun bukan tak mungkin bila uji coba lanjutan berhasil, maka pesawat tiltrotor ini akan memancing minat pengembangan dan pesanan dari Angkatan Bersenjata Cina. (Bayu Pamungkas)


