Korps Marinir AS Perluas Kemampuan MV-22B Osprey Dalam Misi Anti Kapal Selam

Kemampuan pesawat tiltrotor MV-22B Osprey milik Korps Marinir AS (USMC) kini bertambah, selain sebagai wahana angkut taktis, kini MV-22B Osprey ketambahan peran dalam misi peperangan anti-kapal selam (anti submarine warfare).
Dalam palagan Indo-Pasifik, sebuah Osprey bekerja sama dengan dua unit helikopter MH-60R Sea Hawk milik Angkatan Laut AS, mendistribusikan sonobuoy di Laut Filipina dalam sebuah latihan pada 8 Agustus 2025. Osprey dari Marine Medium Tiltrotor Squadron (VMM) 265 (Diperkuat) bersama 31st Marine Expeditionary Unit (MEU) ditempatkan di kapal serbu amfibi USS America (LHA-6).
Meskipun Korps Marinir telah menguji penggunaan Osprey untuk menyebarkan sonobuoy dalam Latihan Aliansi Atlantik pada pertengahan Juli, latihan terbaru di Filipina merupakan pertama kalinya Osprey yang dikerahkan ke garis depan dan ditugaskan ke MEU ke-31 beroperasi dalam peran peperangan anti-kapal selam (ASW) di medan Indo-Pasifik.
“Korps Marinir telah menghabiskan lima tahun terakhir untuk mempersiapkan diri bertempur di Pasifik, dan ancaman kapal selam tidak dapat diabaikan. MV-22B melengkapi kemampuan Angkatan Laut dengan sangat baik sehingga sulit dipercaya hal ini tidak terpikirkan sebelumnya,” ujar Kolonel Chris Niedziocha, komandan 31st MEU, dalam siaran pers.

Mengintegrasikan Osprey ke dalam operasi anti-kapal selam memperluas kemampuan MEU untuk mendeteksi, melacak, dan mencegah musuh potensial yang beroperasi di wilayah maritim. Kemampuan ini memanfaatkan jangkauan, kecepatan, dan daya angkut Osprey yang unik melalui penerapan sensor canggih dan integrasi dengan kemampuan Angkatan Laut AS, yang memungkinkan respons cepat dan pengawasan berkelanjutan.
31st MEU yang berangkat dari Amerika Serikat melakukan latihan gabungan sejak 4 Agustus di Laut Filipina bersama dengan Carrier Strike Group (CSG) George Washington, CSG Inggris, dan Kelompok Tugas Kaga Pasukan Bela Diri Maritim Jepang (JMSDF), yang mencakup sebuah kapal selam Jepang.
Cina Mulai Produksi Zhang Ying R6000 – Drone Tiltrotor Mirip ‘Osprey’ dengan Berat Enam Ton
Sonobuoy diluncurkan dari pesawat melalui tabung atau dispenser khusus. Saat dilepaskan, sebuah parasut kecil akan terbuka untuk memperlambat penurunannya, memastikan alat ini mendarat dengan aman di permukaan air.
Setelah menyentuh air, sonobuoy akan mengaktifkan dirinya secara otomatis. Sebuah pelampung akan mengembang dan menahan alat di permukaan, sementara antena radio akan naik ke atas. Di saat yang sama, sebuah hidrofon (mikrofon bawah air) atau sensor sonar akan turun ke kedalaman yang telah ditentukan.
Thales SonoFlash – Integrasikan Sonobuoy Aktif dan Pasif untuk Operasi Anti Kapal Selam Lebih Akurat
Ada dua jenis utama sonobuoy yang digunakan untuk mendeteksi kapal selam. Sonobuoy pasif, hanya berfungsi sebagai “telinga”. Ia diam-diam mendengarkan suara yang dihasilkan oleh kapal selam, seperti suara mesin, baling-baling, atau suara kru. Keunggulannya adalah tidak terdeteksi oleh kapal selam karena tidak memancarkan sinyal apa pun.
Kemudian ada Sonobuoy aktif, berfungsi sebagai “mulut dan telinga”. Ia memancarkan pulsa suara (dikenal sebagai ping) ke dalam air dan mendengarkan gema yang dipantulkan kembali dari lambung kapal selam. Cara ini lebih akurat untuk menentukan posisi kapal selam, tetapi juga dapat terdeteksi olehnya.
Nah, data akustik yang dikumpulkan oleh hidrofon akan diubah menjadi sinyal radio dan ditransmisikan secara nirkabel melalui antena ke pesawat atau helikopter yang meluncurkannya. Operator di pesawat kemudian menganalisis data ini untuk mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan menentukan lokasi kapal selam.
Dengan menjatuhkan beberapa sonobuoy dalam pola tertentu (misalnya, melingkar atau dalam garis lurus), pesawat dapat menggunakan teknik triangulasi untuk secara akurat menentukan posisi kapal selam di dalam area tersebut. (Gilang Perdana)
Bell-412 TNI AL Akan Dimodifikasi Pemasangan Dipping Sonar HELRAS, Jadi yang Kedua Setelah Maroko


