Shahed Drone SeriesKlik di Atas

Bukan Dua, Idealnya TNI AU Operasikan Minimal Enam Unit Airbus A400M, Ini Sebabnya!

Serah terima unit pertama pesawat angkut berat Airbus A400M Atlas A-4001 tentu harus disyukuri, bahwa ada penguatan signifikan pada kemampuan angkut taktis dan strategis, ditambah inilah pesawat kedua TNI AU yang punya kemampuan air refueling. Dan pada Februari 2026, maka TNI AU akan genap mengoperasikan A400, setelah unit keduanya akan tiba di bulan tersebut. Namun, apakah dua A400M adalah jumlah ideal?

Baca juga: Penyerahan Airbus A400M Atlas: Setelah 65 Tahun, TNI AU Punya Pesawat Baru dengan Kemampuan Tanker Udara

Dalam acara media roundtable di Kantor Airbus Indonesia (3/11/2025) di Jakarta Pusat, Gerd Weber, Head of A400M Program menyebut, bahwa pengoperasian dua unit A400M tentu tidak ideal. Pandangan pihak Airbus bahwa kepemilikan dua unit A400M itu tidak ideal adalah pandangan yang rasional dan didasarkan pada logika operasional serta ekonomi alutsista modern.

Berikut adalah pandangan mengenai mengapa dua unit A400M (atau pesawat transport strategis kelas berat manapun) dianggap tidak atau belum ideal untuk kebutuhan Indonesia.

1. Skala Ekonomi Perawatan (Maintenance Cost)
Biaya mahal untuk unit sedikit. A400M adalah pesawat baru dengan teknologi canggih (mesin Europrop TP400, fly-by-wire). Biaya pelatihan teknisi, pengadaan suku cadang spesifik, dan infrastruktur perawatan sangat tinggi.

Dengan hanya dua unit, maka negara pengguna harus membangun seluruh rantai pasok dan fasilitas perawatan yang kompleks hanya untuk dua aset. Biaya overhead ini tidak akan terdistribusi secara efisien. Jika Indonesia memiliki 6, 8, atau 10 unit, biaya logistik dan pelatihan per unit akan jauh lebih murah.

2. Tantangan Operasional (High Attrition Rate)
Dalam konteks militer dan logistik yang luas seperti Indonesia, rumus operasional yang umum adalah Total Unit = Unit yang Bertugas + Unit Siaga + Unit dalam Perawatan (Harwat).

Inilah 2 Jenis Helikopter Andalan TNI yang Muat Sekaligus di Perut Airbus A400M Atlas

Dengan hanya dua unit, jika satu unit sedang dalam jadwal pemeliharaan (yang bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk heavy maintenance), dan satu unit lagi mengalami kerusakan mendadak (AOG – Aircraft on Ground), maka kemampuan transport strategis TNI AU menjadi nol.

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Dua unit A400M, meskipun memiliki jangkauan jauh, tidak akan cukup untuk memberikan dukungan logistik dan SAR/bantuan kemanusiaan secara serentak di dua wilayah berbeda (misalnya, mengirim logistik ke Papua dan membawa bantuan bencana dari Sumatera pada waktu yang sama).

Gerd Weber, Head of A400M Program 

Gerd Weber berpendapat bahwa jumlah minimum ideal untuk operasi penuh adalah 6 unit. Ini memungkinkan 2 unit beroperasi, 2 unit siaga/pelatihan, dan 2 unit dalam perawatan ringan hingga berat.

Pernyataan tersebut bukan sekadar upaya pemasaran, melainkan refleksi dari kenyataan operasional pesawat berteknologi tinggi. Dua unit A400M saat ini berfungsi sebagai jembatan teknologi dan demonstrator kapabilitas

Indonesia Resmi Pesan Dua Unit Airbus A400M Atlas, Plus Empat Unit Tambahan

Dan Indonesia telah menunjukkan minat serius untuk menambah opsi pengadaan 4 unit tambahan, yang akan membuat total kepemilikan menjadi 6 unit. Presiden Prabowo Subianto yang menghadiri acara serah terima A400M A-4001 di Lanud Halim Perdanakusuma pada 3 November lalu, menyebut “Kita sudah aktif dua unit, kita sudah ada opsi empat unit, kita mungkin negosiasi untuk kita tanda tangan empat unit lagi. Sementara itu.”

Yang menarik, dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo mengungkapkan niat untuk melengkapi A400M TNI AU dengan modul ambulans udara dan perangkat untuk menghadapi kebakaran hutan. (Haryo Adjie)

Airbus A400M Atlas Sukses Uji Coba Removable Firefighting Kit, Siap Atasi Kebakaran Hutan

One Comment