Bebas Regulasi ITAR, Intip Kecanggihan Meriam CIWS 40L70 DARDO di Kapal Induk ITS Giuseppe Garibaldi

Kabar mengenai potensi akuisisi kapal induk eks ITS Giuseppe Garibaldi oleh Indonesia membawa angin segar bagi modernisasi kekuatan laut TNI AL, terutama karena kapal ini tidak terikat pada batasan ketat regulasi ITAR (International Traffic in Arms Regulations) Amerika Serikat.
Salah satu elemen pertahanan paling vital yang melekat pada kapal yang di Italia dikategorikan sebagai penjelajah pengangkut pesawat ini adalah sistem senjata pertahanan diri berupa tiga unit meriam CIWS (Close-In Weapon System) Leonardo Oto Melara 40L70 DARDO.
Sistem senjata ini merupakan hasil pengembangan strategis dari perusahaan pertahanan ternama Italia, Oto Melara, yang dirancang khusus untuk memberikan perlindungan lapis terakhir terhadap ancaman rudal anti-kapal, pesawat terbang, hingga target permukaan kecil yang mendekat dengan kecepatan tinggi.
Sebagai sebuah sistem senjata yang terintegrasi secara penuh, pengembangan Oto Melara 40L70 DARDO difokuskan pada penggabungan antara daya pukul meriam kaliber 40 mm yang legendaris dengan sistem kendali tembakan yang sangat presisi.

Di atas dek Giuseppe Garibaldi, ketiga unit meriam ini ditempatkan pada posisi strategis untuk memberikan cakupan perlindungan maksimal di sekeliling kapal, yakni dua unit di bagian lambung samping (port dan starboard) serta satu unit di bagian belakang (buritan) kapal. Penempatan ini memastikan tidak ada zona mati bagi ancaman yang mencoba menembus pertahanan kapal dari berbagai sudut serangan.
Kecanggihan utama dari sistem DARDO terletak pada sistem pemandu tembakannya yang menggunakan unit radar pelacak RTN-20X Dardo. Radar ini bekerja dengan sangat akurat untuk mengarahkan laras meriam secara otomatis ke arah target yang terdeteksi. Sistem radar ini mampu mengunci target dengan kecepatan respons yang sangat singkat, yang kemudian diolah oleh komputer balistik untuk melepaskan tembakan penghancur.

Laras ganda kaliber 40mm yang digunakan memiliki kecepatan tembak yang sangat tinggi, yakni sekitar 600 peluru per menit, yang memungkinkan terciptanya “tirai proyektil” di udara untuk menghentikan rudal lawan sebelum mencapai lambung kapal.
Dalam hal daya gempur, meriam ini dibekali dengan amunisi jenis PFHE (Pre-Fragmented High Explosive) atau amunisi pintar lainnya yang dirancang untuk meledak di dekat target dan menyebarkan ribuan pecahan logam tajam. Kapasitas amunisi yang tersedia di dalam magasin sistem ini sangat besar, mencapai 736 butir peluru yang siap ditembakkan kapan saja.
Dengan jarak tembak efektif untuk sasaran udara mencapai 4.000 meter dan jarak maksimal hingga 12.500 meter untuk sasaran permukaan, DARDO memberikan zona aman yang cukup luas bagi ITS Giuseppe Garibaldi. Kemampuan meriam ini untuk memuntahkan volume tembakan yang besar dalam waktu singkat menjadikannya benteng terakhir yang sangat mematikan, sekaligus menegaskan bahwa teknologi Italia dalam hal sistem persenjataan maritim tetap menjadi salah satu yang terbaik dan paling andal di kelasnya. (Bayu Pamungkas)
KRI Surabaya 591 Dipersenjatai Meriam ‘Stealth’ Leonardo OTO Twin 40L70 Compact, Ini Kecanggihannya



Walau pun ada yang bilang ini obsolete tapi masih bisa digunakan dan kita pun masih belum bisa bikin yang seperti ini.
CIWS ini ada dikendali oleh angkatan laut malaysia di laksamana class corvettenya. Udah obsolete tuh