Update Krisis IranKlik di Atas

Jejak Sejarah ITS Giuseppe Garibaldi: Mengapa Calon Kapal Induk Indonesia Ini Menyandang Gelar Cruiser?

Kabar mengenai rencana akuisisi kapal induk eks Italia, ITS Giuseppe Garibaldi (551), oleh Indonesia semakin kencang berembus. Di tengah persiapan teknis yang dimatangkan oleh TNI AL dan pihak galangan Fincantieri, sebuah rumor menarik muncul mengenai penamaannya sebagai KRI Gadjah Mada yang diproyeksikan tampil pada HUT TNI 5 Oktober 2026.

Baca juga: Pengadaan Kapal Induk eks ITS Giuseppe Garibaldi, Pemerintah Indonesia Beri Lampu Hijau Pinjaman Luar Negeri Senilai US$450 Juta

Namun, di balik kemegahan dek terbangnya yang ikonik, terdapat sebuah anomali sejarah yang menarik untuk dikulik, mengapa Angkatan Laut Italia (Marina Militare) secara resmi mengklasifikasikan kapal ini sebagai Incrociatore Portaeromobili atau Penjelajah Pengangkut Pesawat, dan bukan murni sebuah kapal induk?

Akar dari pelabelan unik ini sebenarnya berasal dari batasan hukum domestik Italia pasca-Perang Dunia II. Hingga akhir tahun 1980-an, sebuah undang-undang di Italia melarang Angkatan Laut untuk mengoperasikan pesawat bersayap tetap (fixed-wing), karena wewenang tersebut sepenuhnya berada di bawah kendali Angkatan Udara (Aeronautica Militare).

Untuk menyiasati batasan legal tersebut saat Giuseppe Garibaldi dibangun pada awal 1980-an, militer Italia merancang kapal ini dengan kemampuan tempur penjelajah yang sangat kuat. Berbeda dengan kapal induk Amerika Serikat yang cenderung “telanjang” tanpa perlindungan rudal mandiri, Garibaldi dilengkapi dengan meriam 40mm, peluncur torpedo, hingga rudal anti-kapal jarak jauh Otomat. Dengan senjata-senjata ofensif tersebut, secara teknis Garibaldi memang berfungsi sebagai kapal penjelajah berat yang kebetulan memiliki dek untuk helikopter.

Kapal Induk Italia eks ITS Giuseppe Garibaldi Bawa Teknologi Propulsi COGAG, Ini Plus Minusnya!

Barulah pada tahun 1989, setelah melalui perdebatan politik yang panjang dan perubahan undang-undang, Italia akhirnya diizinkan mengoperasikan pesawat tempur lepas landas vertikal seperti Harrier II. Meski sejak saat itu Garibaldi mulai mengangkut jet tempur dan menjalankan fungsi sebagai kapal induk ringan, label “Cruiser” tetap melekat secara administratif sebagai bentuk penghormatan terhadap desain aslinya yang multifungsi. Struktur fisiknya yang dilengkapi ski-jump 6,5 derajat menjadikannya platform yang sangat efektif untuk operasi udara meski dalam dimensi yang ringkas.

Dalam perjalanan pengabdiannya di Laut Mediterania dan kancah internasional, ITS Giuseppe Garibaldi memegang peran sentral sebagai Flagship atau kapal markas utama Angkatan Laut Italia. Masa keemasannya sebagai simbol kekuatan laut Italia berlangsung sejak mulai bertugas pada tahun 1985 hingga tahun 2011.

Selama periode tersebut, Garibaldi menjadi pusat komando bagi berbagai operasi militer penting, termasuk keterlibatannya dalam intervensi di Kosovo pada 1999 dan operasi di Libya pada 2011. Perannya sebagai kapal bendera baru mulai dialihkan setelah kehadiran kapal induk yang lebih besar dan modern, ITS Cavour (550).

KRI Arun 903, Jauh Sebelum Isu “Garibaldi”, Kapal Tanker TNI AL Ini Sudah Terbukti Mampu Didarati Jet Harrier

Kini, saat kapal ini menatap babak baru menuju perairan Nusantara, ia membawa warisan teknologi sebagai kapal yang lincah namun mematikan. Jika benar ia akan menyandang nama KRI Gadjah Mada, Indonesia tidak hanya mendapatkan sebuah kapal dengan dek terbang, tetapi juga sebuah pusat komando bergerak yang memiliki sejarah panjang sebagai pemimpin di tengah samudera.

Transformasi dari flagship Italia menjadi penjaga kedaulatan Indonesia tentu akan menjadi catatan sejarah paling signifikan bagi diplomasi pertahanan kedua negara di tahun 2026 mendatang. (Gilang Perdana)

Jangan Lupakan Sejarah, Detailing RI Gajah Mada – Flagship Pertama ALRI dengan Komandan Mayor RE Martadinata

6 Comments