ATR-72 MPA Pesanan Angkatan Udara Filipina Menjalani Uji Terbang, Tidak Dibekali Magnetic Anomaly Detector (MAD)

Setelah pengumuman Elbit Systems pada tahun 2023 yang meraih kontrak pengadaan dua unit pesawat intai maritim ATR 72-600 MPA untuk Angkatan Udara Filipina, maka belum lama ini ada kabar unit pertama pesawat tersebut tengah melakukan uji coba penerbangan di Turin, Italia.
Seperti dikutip dari akun Facebook MaxDefense Philippines, foto pertama ATR-72-600 MPA Angkatan Udara Filipina setelah konversi ke plaform MPA di Perancis, telah muncul dan diunggah oleh pengamat pesawat di Eropa. Pesawat dengan nomor registrasi CSX62349 tersebut telah menjalani uji terbang di Turin, Italia awal bulan ini.
Hal tersebut merupakan tanda bahwa pesawat tersebut mungkin akan dikirimkan ke Angkatan Udara Filipina dalam beberapa bulan atau minggu mendatang, tergantung apakah masih ada pekerjaan integrasi yang perlu dilakukan di Israel, mengingat kontrak untuk memasok pesawat ini adalah dengan Elbit Systems.
Proyek Akuisisi Long Range Patrol Aircraft (LRPA) melibatkan pengadaan dua pesawat menggunakan platform ATR-72-600, dan diberikan kepada Elbit Systems pada akhir tahun 2023, menjadi proyek modernisasi berbiaya besar pertama yang dikontrak selama pemerintahan Marcos.
Elbit Systems Raih Kontrak Pengadaan Dua Unit ATR 72-600 MPA untuk Filipina
Menurut Elbit Systems, nilai kontrak pengadaan kedua pesawat intai maritim mencapai US$114 juta. Perusahaan penyedian alat pertahanan kenamaan tersebut menyebut bahwa kontrak pengadaan akan dituntaskan dalam jangka waktu lima tahun.
Dengan dua unit pesawat intai maritim berbasis ATR 72-600 oleh Filipina, menjadikan Filipina sebagai operator ATR 72-600 MPA kedua di Asia Tenggara. Sebelumnya, Malaysia telah mengumumkan kontrak pengadaan dua unit ATR 72-600 varian intai maritim pada gelaran LIMA (Langkawi International Maritime and Aerospace Exhibition) 2023.
ATR-72 600 MPA, Berjaya di Regional Airliner Kini Bertarung di Pasar Intai Maritim
Berbeda dengan Filipina, Malaysia yang tidak berhubungan diplomatik dengan Israel, memasrahkan kontrak ATR 72-600 MPA kepada Leonardo dari Italia. ATR-72 MPA pesanan Malaysia akan dilengkapi dengan sistem misi modular Leonardo ATOS (Airborne Tactical Observation and Surveillance).
Elbit Systems menawarkan solusi pesawat patroli maritim (MPA) berbasis ATR 72-600 dengan integrasi sistem misi canggih. Namun, detail spesifik mengenai jenis radar dan sensor yang digunakan dalam konfigurasi ini belum diungkapkan secara publik.
Secara umum, pesawat ATR 72-600 MPA dari Elbit Systems dilengkapi dengan Mission Management System (MMS) yang mengelola dan mengoordinasikan data dari berbagai sensor untuk mendukung pengambilan keputusan. Kemudian ada Sensor Elektro-Optik (EO) yang kemungkinan menggunakan turret EO/IR seperti FLIR Star SAFIRE 380HD, yang menyediakan pengamatan siang dan malam hari.
Pakistan Terima Keseluruhan RAS 72 Sea Eagle, Jawara Turboprop ATR-72 di Lautan
Di bawah fuselage terdapat belly dome yang berisi radar maritim, ,eskipun jenis spesifiknya tidak disebutkan, radar maritim yang digunakan kemungkinan memiliki kemampuan multi-mode untuk deteksi dan pelacakan target permukaan dan udara. Tak lupa ada sistem SIGINT (Signals Intelligence) yang mengumpulkan dan menganalisis sinyal elektronik untuk intelijen dan pengawasan.
Bila dicermati pada foto yang beredar, nampak ATR-72 MPA Angkatan Udara Filipina tidak dilengkapi dengan sensor Magnetic Anomaly Detector (MAD), menjadikan pesawat intai maritim ini tidak punya kemampuan untuk mengendus keberadaan kapal selam Cina.
[the_ad id=”77299″]
Elbit Systems tidak menyertakan sensor MAD dalam konfigurasi ATR 72-600 MPA yang mereka tawarkan kepada Angkatan Udara Filipina. Keputusan ini merupakan hasil dari pertimbangan biaya dan fokus misi yang lebih diarahkan pada pengawasan permukaan laut daripada peperangan anti-kapal selam (ASW).
Sensor MAD memerlukan modifikasi struktural pada pesawat, seperti penambahan boom ekor untuk menempatkan sensor jauh dari interferensi magnetik pesawat. Modifikasi ini meningkatkan biaya dan kompleksitas integrasi sistem. (Gilang Perdana)



Kenapa Pinoy tidak ambil CN-235 MPA Pindad?