Atas Restu Washington, Malaysia Siap Terima 33 Unit F/A-18C/D Hornet Bekas Pakai Angkatan Udara Kuwait

Setelah melakukan pendekatan sejak tahun 2021, akhirnya baru di tahun ini, ada kepastian bagi Malaysia untuk bisa memborong jet tempur F/A-18C/D Hornet “Classic” bekas pakai Angkatan Udara Kuwait. Hal tersebut dapat terjadi setelah adanya persetujuan dari Washington yang mengizinkan penjualan alutsista produksi AS ke negara ketiga.
Kepala Staf Angkatan Udara Malaysia (RMAF) Jenderal Asghar Khan mengumumkan pada ulang tahun ke-67 RMAF bahwa Amerika Serikat telah menyetujui rencana Malaysia untuk memperoleh 33 unit F/A-18C dan F/A-18D Hornet bekas dari Kuwait. Izin AS ini (berdasarkan Undang-Undang Pengawasan Ekspor Senjata) menghilangkan rintangan hukum utama. Analis memuji langkah ini sebagai “terobosan besar” bagi kemampuan tempur udara Malaysia, terlebih adanya potensi terlambatnya pengiriman jet tempur FA-50M akibat masalah produksi.
Delegasi pertahanan Malaysia telah memeriksa kondisi F/A-18C Hornet milik Kuwait selama kunjungan pada bulan Oktober 2024. Proses pengalihan jet tempur akan dilakukan setelah Kuwait menerima 28 unit Eurofighter Typhoon (terdiri dari 22 unit varian kursi tunggal dan 6 varian tandem seat) terakhir yang dipesan pada tahun 2016.
Merujuk informasi dari wikipedia.org, saat ini Angkatan Udara Kuwait mengoperasikan 39 unit F/A-18C/D Hornet, terdiri dari 31 unit varian single seat (F/A-18C) dan 8 unit varian tandem seat (F/A-18D).

Angkatan Udara Kuwait saat ini telah menerima pengiriman 28 unit F/A-18E/F Super Hornet baru. Bila semua proses akusisi jet tempur baru (Typhoon) sukses dirampungkan, maka sekitar 30–33 Hornet warisan Kuwait dapat mulai dikrim ke Malaysia.
Sebuah komite Malaysia, Kuwai dan AS mengawasi perincian kesepakatan tersebut. Kuwait tidak keberatan dengan penjualan tersebut ketika Menteri Pertahanan Malaysia memeriksa jet tersebut tahun lalu, dengan memperhatikan bahwa rangka pesawat terawat dengan baik. Bila semua proses berjalan lancar, maka pengiriman diperkirakan akan dimulai pada kuartal terakhir tahun 2025 atau awal tahun 2026.
Radar AESA untuk F/A-18 Hornet “Classic” Uji Terbang Perdana, Bikin Siap Tempur Hingga 2030
Angkatan Udara Malaysia (TUDM) saat ini mengoperasikan delapan unit F/A-18D (tandem seat) dan 18 unit Su-30MKM. Malaysia juga telah mengorder 18 jet tempur ringan FA-50M dengan pengiriman (seharusnya mulai tahun 2026) karena pensiunnya jet MiG-29 dan Hawk telah meninggalkan kekosongan di angkatan udara Malaysia.
F/A-18C/D Hornet adalah jet tempur multiperan yang sempurna untuk misi udara-ke-udara dan udara-ke-darat. Jet ini memiliki dua mesin turbofan GE F404 (masing-masing menghasilkan daya dorong sekitar 17.700 lb) yang memungkinkannya terbang dengan kecepatan Mach 1,8. Setiap Hornet membawa kanon laras putar M61A1 Vulcan 20 mm (520 butir peluru) dan memiliki sembilan hardpoint.
Mahathir Mohamad: F/A-18D Hornet Hanya ‘Bebas’ Diterbangkan Saat Parade Udara
F/A-18C/D Hornet dapat membawa hingga sekitar 13.700 pon persenjataan eksternal. Pesawat ini memiliki avionik canggih dan pod penargetan untuk operasi di segala cuaca.
Akuisisi ini dipandang sebagai peningkatan signifikan bagi kemampuan tempur udara Malaysia. Hornet yang akan datang telah teruji dalam pertempuran di berbagai konflik dan latihan sebelumnya, dan akan menyediakan puluhan jet tempur tambahan bagi RMAF untuk mengisi kesenjangan kesiapannya saat ini. Dengan persetujuan ekspor AS yang telah diamankan, Malaysia kini dapat melanjutkan untuk menerima armada F/A-18 warisan Kuwait, yang akan memperkuat angkatan udaranya secara signifikan.
Bagi Angkatan Udara Malaysia, rencana pengadaan F/A-18 Hornet bekas pakai Kuwait merupakan bagian dari program RMAF Capacity Development Plan (CAP55) Phase 1. (Gilang Perdana)
Sempat Tertunda, AU Kuwait Resmi Terima Batch Pertama Jet Tempur Eurofighter Typhoon


