Aselsan Sukses Uji Tembak Dinamis Self Propelled KORKUT 35mm Lawan Serangan Drone

Dunia pertahanan sedang menyaksikan pergeseran paradigma di mana drone murah, seperti tipe FPV (First Person View), mampu melumpuhkan aset militer bernilai jutaan dolar. Menanggapi realitas ini, Aselsan melalui sistem pertahanan udara (hanud) KORKUT 140/35 baru saja membuktikan efektivitasnya dalam uji tembak dinamis yang sukses menghancurkan target drone di udara.

Baca juga: Dilirik Indonesia, Inilah Sosok Kanon Hanud Self Propelled KORKUT Kaliber 35mm

Berbeda dengan sistem rudal yang mahal dan terbatas jumlahnya, KORKUT menawarkan solusi “hard-kill” berbasis kanon yang jauh lebih ekonomis namun sangat mematikan.

Salah satu kunci utama keunggulan KORKUT terletak pada penggunaan kanon ganda kaliber 35 mm. Dengan laju tembakan mencapai 1.100 peluru per menit, sistem ini mampu menciptakan “dinding api” yang sulit ditembus oleh objek terbang apa pun dalam radius 4 kilometer.

Namun, yang membuat KORKUT benar-benar menonjol adalah integrasi amunisi pintar ATOM. Amunisi airburst ini dirancang untuk meledak tepat di depan target, menyebarkan partikel pecahan logam yang secara efektif melumpuhkan drone kecil yang lincah—sebuah metode yang jauh lebih pasti dibandingkan mengandalkan tabrakan langsung (direct hit) yang sulit dilakukan pada target sekecil FPV.

Dalam uji coba terbaru, KORKUT dipasang pada platform ranpur lapis baja 8×8 yang memberikan mobilitas tinggi untuk mengawal konvoi mekanis yang sedang bergerak. Kemampuan untuk menembak sambil bergerak (firing on the move) adalah fitur krusial yang memastikan unit lapis baja tetap terlindungi tanpa harus berhenti dan menjadi sasaran empuk.

Didukung oleh radar pencari 3D dan sensor elektro-optik pada kendaraan komandonya, KORKUT dapat beroperasi dalam satu ekosistem yang terintegrasi, di mana data target dibagikan secara real-time ke unit penembak.

Keberhasilan ini secara otomatis menempatkan Aselsan KORKUT dalam radar persaingan ketat dengan pemain lama asal Eropa, terutama Rheinmetall dari Jerman dengan sistem Skyranger 35. Selama bertahun-tahun, Rheinmetall dianggap sebagai standar emas dalam sistem pertahanan udara kanon kaliber 35 mm. Namun, KORKUT muncul dengan beberapa nilai tawar yang sulit diabaikan. Dari sisi teknologi amunisi, ATOM milik Aselsan terbukti memiliki performa yang setara dengan amunisi AHEAD milik Rheinmetall dalam hal presisi fragmentasi.

Secara strategis, KORKUT memiliki potensi besar untuk menjadi penantang utama produk Rheinmetall di pasar ekspor. Turki memiliki keunggulan dalam kecepatan produksi dan fleksibilitas integrasi pada berbagai jenis kendaraan lapis baja lokal maupun internasional. Selain itu, pengalaman tempur (battle-proven) yang didapatkan dari berbagai konflik regional di mana sistem pertahanan Turki terlibat, memberikan kepercayaan diri lebih bagi calon pengguna.

KORKUT menawarkan paket yang lebih kompetitif secara biaya operasional dibandingkan sistem buatan Barat, tanpa mengorbankan kecanggihan sensor radar dan optik yang sudah menjadi spesialisasi Aselsan selama dekade terakhir.

Dengan suksesnya uji coba dinamis ini, Aselsan tidak hanya mengamankan wilayah udara Turki dari ancaman drone, tetapi juga mengirimkan pesan jelas ke pasar global, era dominasi tunggal produsen pertahanan Eropa dalam sistem pertahanan udara jarak pendek telah berakhir. KORKUT kini berdiri sejajar sebagai solusi modern yang siap mengawal garis depan medan tempur masa depan.

Integrasi Skyspotter dan Skyshield MK3: Standar Baru Rheinmetall dalam Pertahanan Anti-Drone

Head-to-Head: ATOM vs AHEAD
Meskipun keduanya sama-sama menggunakan basis kaliber 35×228 mm, cara mereka menetralisir target memiliki karakteristik teknis yang sedikit berbeda:

AHEAD (Jerman) menggunakan sensor pada moncong meriam untuk mengukur kecepatan peluru secara instan, lalu memprogram timer di dalam peluru tepat saat ia meninggalkan laras. Sangat presisi dalam menghitung waktu ledak.

ATOM (Turki) menggunakan teknologi smart fuse yang diprogram secara induktif melalui sistem kendali tembak KORKUT. Aselsan mengklaim sistem ini sangat stabil dan memiliki integrasi data yang sangat cepat dengan radar pelacak internal mereka.

Tembak Jatuh Beberapa Drone Shahed, Angkatan Udara Ukraina Unjuk Kinerja Efektif Sistem Hanud Rheinmetall Skynex

AHEAD melepaskan muatan berupa 152 sub-proyektil tungsten berbentuk silinder. Saat meledak, sub-proyektil ini membentuk “awan partikel” mematikan yang menghancurkan struktur aerodinamis atau mesin drone.

ATOM juga menggunakan fragmen logam berat, namun Aselsan mengoptimalkan pola sebarannya agar lebih luas (lebar), yang dirancang khusus untuk menghadapi swarm drone (kawanan drone) yang terbang dalam formasi tidak teratur.

ATOM diproduksi secara mandiri oleh industri pertahanan Turki (MKE dan Aselsan), sehingga biaya per butirnya cenderung lebih rendah dibandingkan AHEAD, menjadikannya pilihan yang lebih ekonomis untuk dikonsumsi dalam jumlah besar saat menghadapi serangan drone murah yang masif. (Gilang Perdana)

Tandingi Produk Jerman, “Turkish Skyranger” Tawarkan Sistem Hanud Self Propelled 8×8 dengan Radar AESA