AS Cemas, Cina Revitalisasi Landasan Udara eks Perang Dunia II di Pasifik Barat, Hanya Berjarak 500 Km dari Guam 

Sibuk mempersiapkan invasi ke Venezuela, rupanya Amerika Serikat dibuat ketar-ketir atas Cina di Pasifik Barat, tapi yang membuat gusar Washington bukan aksi militer langsung, melainkan buntut dari pembangunan kembali (rebuild) landasan udara eks Perang Dunia II, oleh perusahaan sipil Cina di Atol Woleai, Micronesia, yang jaraknya hanya beberapa ratus kilometer dari Guam, yang terkenal sebagai basis penting militer AS di Indo Pasifik.

Baca juga: C-130J Super Hercules TNI AU Bawa Materiel ‘Classified’ dari Guam, Terungkap Peran Tunner Loader Support

Mengutip Newsweek, laporan yang didukung oleh citra satelit mengungkapkan bahwa Cina tengah merehabilitasi dan memperluas landasan udara era Perang Dunia II di Pasifik, khususnya di lokasi strategis yang terletak hanya 500 – 600 km dari Guam. Proyek ini memicu kekhawatiran besar di kalangan analis AS dan Barat, karena letaknya yang berada di sepanjang apa yang disebut “Rantai Pulau Kedua” (Second Island Chain).

Pekerjaan tersebut berpusat di landasan udara di Atol Woleai, yang terletak di Yap State, Federated States of Micronesia (FSM). Citra satelit menunjukkan kemajuan signifikan pada landasan pacu di Bandara Woleai, yang pekerjaan pemulihannya dimulai pada bulan Mei tahun ini dan dijadwalkan selesai pada akhir tahun ini.

Secara geopolitik, lokasi ini sangat sensitif. FSM, bersama dengan Kepulauan Marshall dan Palau, adalah anggota Freely Associated States (FAS), yang sangat bergantung pada AS untuk bantuan ekonomi dan keamanan, sebagai imbalan atas akses militer Amerika ke wilayah mereka.

Landasan pacu di Woleai ini awalnya dibangun oleh pasukan Kekaisaran Jepang pada akhir tahun 1942. Pangkalan tersebut kemudian dihancurkan oleh pesawat pengebom Amerika selama Perang Pasifik. Meskipun Angkatan Laut AS merehabilitasi jalur tersebut pada tahun 1970-an, landasan itu rentan terhadap banjir dan akhirnya rusak hingga tidak dapat digunakan.

Nah, pekerjaan pembangunan ulang landasan udara sipil Woleai saat ini dilakukan oleh perusahaan milik pemerintah Cina, Shandong Hengyue Municipal Engineering Co.

Secara resmi, proyek bandara ini bertujuan untuk memberikan dorongan besar bagi 1.000 penduduk atol Woleai. Saat ini, penduduk setempat sangat bergantung pada transportasi laut yang jarang untuk mencapai landasan pacu terdekat dan mengakses penerbangan ke bagian lain negara bagian tersebut.

Duta Besar Cina untuk Micronesia, Wu Wei, mendukung narasi sipil ini, menyatakan bahwa Cina bersedia memperluas kerja sama di berbagai bidang seperti infrastruktur dan melanjutkan pendalaman pertukaran untuk memajukan kemitraan strategis komprehensif.

Bagi analis Barat, pembangunan kembali di Woleai adalah bagian dari strategi Cina untuk memperkuat posisinya di Pasifik Tengah. Rantai Pulau Kedua adalah garis strategis yang dianggap penting oleh Departemen Pertahanan AS untuk menahan militer Cina jika terjadi konflik.

Lindungi Guam Lawan Pengaruh Cina di Pasifik, AS Hidupkan Kembali Pangkalan Udara di Pulau Tinian

Meskipun tujuan saat ini adalah sipil, landasan udara yang diperpanjang dan diperkuat dapat dengan mudah dikonversi untuk penggunaan militer oleh Angkatan Udara Cina dalam skenario krisis. Ini adalah kekhawatiran utama analis Barat.

Menanggapi nilai strategis kawasan ini, Amerika Serikat telah meningkatkan investasinya, menjanjikan US$2 miliar untuk mendukung proyek-proyek yang bertujuan meningkatkan mobilitas militer, termasuk US$400 juta untuk peningkatan Bandara Internasional Yap. Namun, pulau-pulau terluar seperti Woleai tetap kurang terlayani oleh investasi

Hadapi Potensi Serangan dari Cina, Guam Akan Dilengkapi Sistem Rudal Hanud Jarak Jauh

Federated States of Micronesia (FSM)
FSM mendeklarasikan republiknya pada tahun 1979 dan secara resmi menjadi negara anggota PBB pada tahun 1991. Mereka menjalankan urusan domestik dan luar negeri mereka sendiri.FSM dulunya adalah bagian dari Trust Territory of the Pacific Islands yang dikelola oleh Amerika Serikat atas nama PBB hingga tahun 1986.

Meskipun merdeka, FSM memiliki hubungan khusus dengan AS yang diatur oleh perjanjian yang disebut Compact of Free Association (COFA), yang mulai berlaku sejak tahun 1986. AS bertanggung jawab penuh dan eksklusif atas pertahanan FSM. FSM tidak memiliki militer sendiri. AS selama ini menyediakan bantuan finansial dan hibah yang signifikan (sebagian besar pendapatan FSM). (Bayu Pamungkas)

6 Comments