Sudah Pernah Terbang, Mengapa Drone Tanker MQ-25A Stingray Kembali Jalani Uji Taksi di 2026

Dunia penerbangan militer baru-baru ini dikejutkan dengan kabar bahwa drone tanker milik Angkatan Laut AS (US Navy), MQ-25A Stingray, baru saja memulai serangkaian uji taksi (taxi test) di fasilitas Boeing di St. Louis. Kabar ini sempat memicu keraguan di kalangan pengamat, mengingat drone ini sebenarnya sudah sering terlihat mengudara sejak tahun 2019.
Pertanyaan yang muncul pun sangat mendasar, jika MQ-25A sudah sukses mengisi bahan bakar jet tempur F/A-18 Super Hornet dan E-2D Advanced Hawkeye di udara bertahun-tahun lalu, mengapa sekarang harus kembali melakukan prosedur dasar seperti berjalan di landasan pacu?
Kunci untuk memahami teka-teki ini terletak pada identitas pesawat yang sedang diuji. Pesawat yang selama ini kita saksikan melakukan berbagai manuver spektakuler adalah unit demonstrator berkode T1. Ibarat sebuah mobil konsep, T1 bertugas membuktikan bahwa teknologi drone tanker bisa bekerja secara mekanis.
Namun, unit yang baru saja menjalani uji taksi pada penghujung Januari 2026 ini adalah sesuatu yang jauh lebih serius. Ini adalah unit Production Representative pertama, yakni pesawat dengan spesifikasi final yang akan benar-benar dikirim ke kapal induk untuk bertugas secara permanen.
The first operational MQ-25A Stingray™ for the @USNavy has successfully completed its first taxi test.
At the push of a button from Air Vehicle Pilots the Stingray autonomously taxied and executed a series of maneuvers to validate its functionality. pic.twitter.com/bNHGKIYsPa
— Boeing Defense (@BoeingDefense) January 30, 2026
Meski secara sekilas tampak identik dengan prototipe lamanya, unit produksi ini membawa perubahan arsitektur yang sangat signifikan. Salah satu yang paling mencolok adalah desain saluran udara atas yang kini dibuat rata dengan bodi atau flush inlet. Perubahan ini bukan sekadar estetika, melainkan upaya serius untuk meningkatkan fitur low observable atau kemampuan siluman agar tidak mudah terdeteksi radar lawan.
Selain itu, unit terbaru ini sudah dilengkapi dengan kubah sensor yang dapat ditarik masuk di bawah hidungnya, serta perangkat lunak kendali yang jauh lebih matang untuk menghadapi dinamika dek kapal induk yang sangat padat dan berbahaya.

Langkah kembali ke landasan pacu untuk uji taksi bukanlah sebuah kemunduran, melainkan prosedur wajib dalam dunia dirgantara bagi setiap unit baru yang keluar dari lini perakitan. Sebelum diizinkan melakukan penerbangan perdana dalam beberapa bulan ke depan, para teknisi harus memastikan bahwa sistem kemudi, pengereman, dan sinkronisasi antara operator di darat dengan mesin pesawat berfungsi sempurna tanpa celah sedikit pun. Ini adalah masa transisi dari sebuah eksperimen teknologi menjadi sebuah alat perang yang siap pakai.
Pada akhirnya, kehadiran unit produksi MQ-25A ini membawa pesan kuat mengenai masa depan armada udara laut. Dengan segera beralihnya peran pengisian bahan bakar dari jet tempur manusia ke tangan drone, Angkatan Laut AS tidak hanya memperpanjang jangkauan serang armada mereka, tetapi juga membebaskan jet-jet tempur utama untuk kembali fokus pada misi inti mereka: bertempur.
Perjalanan dari uji taksi menuju operasional penuh di atas kapal induk pada tahun 2027 kini menjadi babak baru yang sangat dinantikan dalam sejarah penerbangan tak berawak. (Gilang Perdana)
Drone Tanker MQ-25A Stingray Sukses Uji Air Refueling dengan E-2D Advanced Hawkeye


