Shahed Drone SeriesKlik di Atas

Ada Potensi Peretasan Data CMS Kapal Selam, Naval Group Gelar Investigasi

Fasilitas galangan kapal selam Naval Group di Cherbourg, Perancis.

Setelah kebocoran data dan dokumen rahasia kapal selam Scorpene India (Kalvari class) pada tahun 2016, praktis galangan kapal ternama Perancis, Naval Group (d/h DCNS) harus ekstra waspada terkait serangan siber. Namun, potensi akan selalu ada, mengingat teknologi tinggi kapal selam yang menarik minat komunitas intelijen.

Baca juga: Kebocoran Data dan Dokumen Rahasia Kapal Selam Scorpene India (Kalvari Class), Guncang Reputasi Naval Group

Seperti belum lama ini, Naval Group, mengungkapkan bahwa data sensitif terkait kapal permukaan dan kapal selamnya mungkin telah menjadi target serangan siber. Investigasi saat ini sedang dilakukan untuk memastikan kredibilitas klaim tersebut dan memverifikasi keaslian, asal, dan kepemilikan data secepat mungkin.

“Pada tahap ini, tidak ada intrusi ke lingkungan TI kami yang terdeteksi”, tegas perusahaan dalam sebuah pernyataan di unggahan media sosial pada 26 Juli 2025, “dan tidak ada dampak pada aktivitas kami”.

Naval Group menyatakan belum menemukan bukti pelanggaran sistem TI internal mereka. Mereka menyebut insiden ini sebagai “serangan reputasi” di tengah ketegangan internasional dan bisnis. Hingga saat ini, Naval Group belum menerima tuntutan tebusan dari pihak peretas. Naval Group juga menegaskan tidak akan berkomunikasi dengan peretas, sesuai dengan prosedur keamanan siber mereka.

Para peretas dikatakan telah mempublikasikan 30 gigabita informasi di forum daring yang mereka klaim terkait dengan sistem manajemen tempur (combat management system/CMS) kapal selam dan fregat, para peretas mengatakan mereka memiliki satu terabita data, menurut laporan dari Financial Times.

Naval Group menawarkan CMS SETIS untuk kapal permukaan untuk berbagai misi dan CMS SUBTICS untuk kapal selam, termasuk integrasi sistem penanganan dan peluncuran senjata.

Selain itu, Naval Group juga menawarkan kepada Angkatan Laut Uni Emirat Arab, sebuah sistem unik, yang dikenal sebagai National Combat Management System, yang memanfaatkan teknologi lokal dan dipimpin oleh Dewan Tawazun.

Naval Group adalah pemasok angkatan laut untuk negara-negara di seluruh dunia. Perusahaan ini merupakan produsen utama kapal selam serang bertenaga nuklir (SSN) Suffren class Prancis, kapal selam diesel-listrik (SSK) Scorpene, yang baru-baru ini mendapat pesanan dari Indonesia, dan fregat FREMM Perancis-Italia, di antara banyak platform dan sistem lainnya.

Bukan Hanya Decoy, Kapal Selam Juga Mampu Mengirimkan Sinyal ke Permukaan Lewat Perangkat Ini

Di saat perang informasi dan taktik destabilisasi berkembang pesat di ruang yang meragukan antara damai dan perang, yang sering disebut ‘zona abu-abu’, semakin sulit untuk melindungi keunggulan teknologi suatu negara dalam industri pertahanan.

Serangan siber dapat berkisar dari spionase dan pelanggaran data hingga sabotase dan misinformasi, yang masing-masing berpotensi membahayakan keamanan nasional dan mengganggu operasi militer. Kegagalan berinvestasi dalam keamanan siber memungkinkan aktor musuh untuk menguasai senjata destruktif atau melemahkan infrastruktur penting.

[the_ad id=”77299″]

Masa depan peperangan akan berfokus pada kemampuan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyebarluaskan informasi secara real-time untuk mendukung pengambilan keputusan. Hal ini bergantung pada koordinasi operasi militer melalui komando, kendali, komunikasi, komputer, intelijen, pengawasan, dan pengintaian.

Untuk penanggulangan serangan siber, Naval Group memiliki Computer Emergency Response Team (CERT) sejak tahun 2017. Tim ini bertugas untuk memahami, mengantisipasi, melacak, dan merespons ancaman siber secara efisien. CERT berperan penting dalam menjaga keamanan siber perusahaan, terutama dalam menghadapi insiden seperti ini.

Selain itu, Naval Group juga mengembangkan Cyber Management System (CyMS) yang berfungsi sebagai pusat deteksi serangan siber pada kapal. Sistem ini mengontrol pertukaran data digital antara peralatan di kapal dengan menganalisis lalu lintas jaringan secara real-time. (Gilang Perdana)

DCNS Tawarkan SUBTICS Combat Management System dalam Paket Overhaul KRI Cakra 401