DCNS Tawarkan SUBTICS Combat Management System dalam Paket Overhaul KRI Cakra 401

Menyambung pemberitaan di Indomiliter pada 18 November 2015, disebutkan ada dua galangan kapal yang berkompetisi untuk meraih kontrak overhaul kapal selam TNI AL KRI Cakra 401. Dua galangan tersebut, Daewoo Shipbuilding dan Marine Engineering (DSME), Korea Selatan dan DCNS, galangan kapal asal Perancis, sama-sama menawarkan paket maintenance, repair dan overhaul (MRO). Dan hingga tulisan ini diturunkan, nyatanya belum ada pemenang dari kontrak yang nilainya mencapai US$40 juta.
Baca juga: DSME dan DCNS Berkompetisi Menangkan Proyek Overhaul KRI Cakra 401
Diatas kertas dan rekam jejak, DSME jelas diatas angin, pasalnya sejak lama sudah pernah beberapa kali menangani upgrade sistem senjata/navigasi dan overhaul, baik untuk KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402. Ditambah lagi DSME adalah galangan yang kini sedang menggarap kapal selam pesanan TNI AL Changbogo Class. Kerjasama dan proses ToT (Transfer of Technology) pun sudah lebih jelas dengan pihak DSME, pasalnya dalam proyek MRO KRI Cakra 401 juga mencakup pengaturan dan pembagian tugas yang dilakukan bersama mitra lokal, yakni PT PAL untuk skema ToT. Disebutkan proposal MRO bernilai US$40 juta untuk modernisasi KRI Cakra 401 agar dapat terus beroperasi maksimal hingga tahun 2024. Pada Januari 2014, pihak PT PAL memang pernah menyebut jika KRI Cakra 401 sudah dijadwalkan untuk menjalani MRO.
Baca juga: KRI Cakra – “Siluman Bawah Laut” TNI-AL

Meski tak mudah melawan kedigdayaan DSME, bukan berarti DCNS patah semangat. Galangan yang baru-baru ini juga menawarkan TNI AL kapal selam litoral Scorpene Class 1000, nyatanya punya jurus lain untuk memikat TNI AL. Mengutip sumber dari Janes.com (27/12/2015), DCNS menawarkan combat management system (CMS) SUBTICS (Submarine Tactical Integrated Combat System). SUBTICS bukan sembarang CMS, sistem ini selama ini telah digunakan pada armada kapal selam nuklir Perancis. Oleh DCNS, SUBTICS akan dimasukkan ke dalam proposal MRO untuk KRI Cakra 401.
Baca juga: Kongsberg MSI-90U Mk 2 – Canggihnya Combat Management System di Changbogo Class TNI AL
Lantas apa yang ditawarkan SUBTICS? Yang jelas combat management system ini menunjang kapabilitas multi misi seperti anti submarine, anti surface area, dan anti land warfare. SUBTICS juga mendukung proses upgrade karena menggunakan platform modular. Dari sisi kendali persenjataan, SUBTICS mendukung multi launching weapons, long range sensors, tactical data link dan advanced signals. (Haryo Adjie)



Embargo AS = 6 tahun
Embargo Uni Eropa = 5 bulan.
Embargo Soviet(rusia sama aja)=10 tahun.
Baik SUBTICS maupun KDA MSI-90U Mk.2 merupakan produk CMS yang sama canggihnya.
Keputusan TNI AL memilih CMS produk KDA sangatlah tepat.
Proposal DCNS menggunakan CMS SUBTICS juga sebuah solusi jitu bagi TNI AL, agar KDA dan DSME bisa memberikan yang terbaik bagi TNI AL.
Satu hal yang perlu diperhatikan ialah:
“SUBTICS lebih proven marketnya dibandingkan dengan KDA.
SUBTICS sudah terbukti bisa menembakkan dua jenis torpedo yaitu SUT dan Black Shark.”
Artinya, para engineer DCNS (sudah terbukti) lebih unggul dan lebih bertanggungjawab dibandingkan dengan para teknisi DSME.
Sebagai catatan, DCNS yang notabene Perancis adalah bukan negara NATO, sementara Korsel adalah NATO minded dan negara bentukan AS.
Perancis berteman dengan NATO, tetapi dia tidak perlu jadi anggota NATO.
Apa sebabnya..? Sebab Perancis adalah negara yang membantu kemerdekaan AS.
Kita lihat India, yang mengakomodasikan rumpun teknologi Barat (Perancis) dan Timur (Rusia). India jadi negara yang boleh dibilang sangat unggul di kawasan Asia Selatan, karena kebijakan teknologi tersebut.
Industri pertahanan Indonesia bisa mencontoh kehebatan industri pertahanan India tersebut.
Kerja sama Indonesia – Perancis diwadahi dalam forum Indo-Franco Defence Dialog (IFDD) yang sudah berjalan selama dua tahun terkahir ini.
Semoga menjadi pendorong kemajuan industri pertahanan kita.
Selamat Berjuang.
(Antar Setiabudi)
kalo keunggulan SUBTICS dibanding Kongsberg MS-90U Mk II yang kemungkinan ditawarkan oleh DSME apa bung admin??
Nah kebetulan detail informasi tentang SUBTICS kurang dipublikasikan oleh pihak pengembangnya.
Tampaknya setara..sebelumnya DCNS sdh 2 kali mengoverhaul KS u-209 milik chille dan ekuador, cms dan sensor/sonar bawaan kapal diganti dg produk thales. TNI AL mah udah bener loyal dg produk hdw+kongsberg, mau pake varian hdw yang manapun, cms-nya tetep pake kongsberg heeeee…. Kan memudahkan pelatihan, logistiknya dan gak perlu beli simulator yang berbeda.