Kembali Kekuatan Era Perang Dingin, Inggris Ingin Akuisisi Jet Tempur F-35A dengan Kemampuan Serang Nuklir

Inggris rupanya ingin mengikuti langkah Belanda, yakni mempersenjatai jet tempurnya dengan kemampuan serang nuklir. Sampai saat ini, Belanda menjadi satu-satunya operator jet tempur modern (F-35A) di Eropa yang punya kemampuan serang nuklir berdasarkan kesepakatan dalam NATO.

Baca juga: Demi “Siaga Nuklir”, Jerman Tambah Pesanan Jet Tempur Stealth F-35A Lightning II

Menurut The Sunday Times, kemampuan serang nuklir yang diluncurkan dari udara akan segera kembali di Angkatan Udara Inggris. Sebagai catatan, Angkatan Udara Inggris (Royal Air Force/RAF) pernah memiliki kemampuan serangan nuklir dari udara, terutama selama Perang Dingin, sebelum beralih sepenuhnya ke penangkal nuklir berbasis kapal selam.

Dengan eskalasi konflik di Eropa, Inggris saat ini sedang menjajaki kemungkinan kembalinya senjata nuklir yang diluncurkan dari udara, yang oleh para pejabat digambarkan sebagai respons terhadap “ancaman era baru” yang ditimbulkan oleh Rusia.

The Sunday Times menyebut, diskusi sedang berlangsung antara Inggris dan AS mengenai akuisisi F-35A Lightning II yang mampu membawa bom nuklir gravitasi taktis.

F-35A Tuntaskan Sertifikasi Desain dalam Misi Pelepasan Bom Nuklir

Proposal tersebut, yang dikatakan sebagai perubahan paling signifikan dalam postur nuklir Inggris sejak berakhirnya Perang Dingin—mendapat dukungan dari Menteri Pertahanan John Healey dan Kepala Staf Pertahanan Laksamana Sir Tony Radakin. Perdana Menteri Keir Starmer juga dipahami mendukung opsi tersebut, yang merupakan bagian dari Strategic Defence Review yang lebih luas.

Angkatan Udara Inggris saat ini belum mengoperasikan varian F-35A. Sebaliknya, Inggris fokus pada F-35B Lightning II, yaitu varian dengan kemampuan lepas landas pendek dan pendaratan vertikal (STOVL) yang cocok untuk operasi dari kapal induk dan pangkalan udara dengan landasan pendek. Sementara itu, baru varian F-35A yang didesain dan menedapat sertifikasi untuk mampu membawa bom nuklir taktis B61-12.

Respon Dinamika Global, AS Ciptakan B61-13 – Bom Gravitasi dengan Hulu Ledak Nuklir 360 Kiloton

Saat ini, penangkal nuklir Inggris hanya bergantung pada sistem rudal Trident di kapal selam Vanguard class. Memperkenalkan kemampuan peluncuran udara akan mendiversifikasi opsi pengiriman dan menyelaraskan Inggris lebih dekat dengan sekutu NATO seperti Amerika Serikat, yang memelihara platform nuklir berbasis darat, laut, dan udara.

Dapat dipahami bahwa pemerintah Inggris sedang mempertimbangkan manfaat senjata nuklir yang diluncurkan dari udara dengan hasil yang lebih rendah sebagai respons pencegahan yang potensial terhadap ancaman Rusia yang meningkat. Sistem nuklir taktis, secara teori, akan memberikan opsi yang fleksibel bagi NATO, menawarkan kemampuan untuk menanggapi serangan nuklir terbatas secara tegas tanpa eskalasi langsung ke pembalasan tingkat strategis.

Mulai 1 Juni 2024, Angkatan Udara Belanda dengan Jet Tempur F-35A Ambil Peran “Siaga Nuklir” di Eropa

F-35A punya kemampuan meluncurkan bom gravitasi nuklir B61-12 . Sekilas tentang bom nuklir B61-12, bom ini dikembangkan oleh Los Alamos National Laboratory pada tahun 1963, dimana senjata pamungkas ini diluncurkan sebagai jawaban kesiapsiagaan NATO dalam merespon ancaman perang nuklir dengan Uni Soviet/Pakta Warsawa.

Dari spesifikasi, B61 punya panjang 3,5 meter, diameter 33 centimeter dan bobot 320 kg. Bom ini mulai diproduksi secara massal pada tahun 1968 oleh Pantex Plant. Dengan harga per unit bom mencapai US$28 juta, diperkirakan bom nuklir ini telah dibuat sebanyak 3.156 unit dalam 12 varian.

[the_ad id=”77299″]

Kemampuan Serang Nuklir RAF di Era Perang Dingin
Pada periode 1950-an hingga 1969, Angkatan Udara Inggris mengembangkan tiga pesawat pembom strategis yang disebut “V-bombers” untuk mengantarkan senjata nuklir, yaitu Avro Vulcan, Handley Page Victor dan Vickers Valiant.

Saat itu digunakan, rudal nuklir udara ke darat berbasis pesawat bomber seperti Vulcan, dipakai untuk menjangkau target Soviet tanpa memasuki zona pertahanan udara langsung. Rudal ini punya jarak tembak ±240 km.

Setelah pensiunnya Blue Steel dan peran strategis bomber, Inggris mempertahankan bom nuklir taktis yang dibawa oleh jet tempur RAF Buccaneer dan Jaguar GR1/GR3, yang membawa bom nuklir WE.177. Kedua pesawat ditempatkan di RAF Germany (Jerman Barat) sebagai bagian dari kekuatan NATO.

Yang terakhir di era Tornado GR1, jet empur multiperan yang juga membawa bom nuklir WE.177 dan digunakan sampai Inggris menghapus semua bom nuklir dari inventaris di tahun 1998. (Gilang Perdana)

Menlu Rusia: “Pelibatan Jet Tempur F-16 Membawa Ancaman Nuklir” – Seperti Bom Nuklir B61