43 Tahun Antonov An-124 Ruslan: ‘Raih’ Takhta Pesawat Angkut Berat Strategis Terbesar di Dunia

Hari ini, tepat pada tanggal 24 Desember, dunia penerbangan memperingati sebuah catatan sejarah besar. Empat puluh tiga tahun yang lalu, di tengah musim dingin tahun 1982, sebuah raksasa besi terbang untuk pertama kalinya dan mengubah peta logistik udara dunia selamanya.
Baca juga: Antonov An-225 Mriya Hancur di Bandara Gostomel, Kesedihan Mendalam Bagi Pecinta Aviasi
Pesawat itu adalah Antonov An-124 Ruslan, yang kini memegang takhta tunggal sebagai pesawat angkut berat strategis terbesar di dunia yang masih beroperasi, setelah hancurnya sang “kakak”, An-225 Mriya.
Momen bersejarah itu terjadi di Kyiv, Ukraina, yang saat itu masih menjadi bagian dari Uni Soviet. Pada siang hari tanggal 24 Desember 1982, prototipe pertama An-124 dengan nomor registrasi SSSR-680125 ditarik perlahan ke landasan pacu Bandara Svyatoshyn. Di bawah pengawasan ketat tim desainer Biro Desain Antonov, pesawat seberat ratusan ton itu bersiap melakukan pembuktian pertamanya di hadapan dunia.
Penerbangan perdana ini dipimpin oleh pilot uji legendaris, Vladimir Tersky, yang didampingi oleh kru ahli terbaik di masanya. Selama kurang lebih 3 jam, Ruslan membelah langit Kyiv untuk menguji karakteristik stabilitas dan kendali dasar. Penerbangan ini dinyatakan sukses besar, memberikan jawaban telak atas tantangan Amerika Serikat yang sebelumnya mendominasi kategori angkut berat melalui Lockheed C-5 Galaxy.
Pengembangan An-124 dimulai pada akhir 1970-an untuk menjawab kebutuhan militer akan pesawat yang mampu mengangkut rudal balistik antarbenua, tank berat, dan peralatan industri raksasa ke wilayah-wilayah terpencil yang sulit dijangkau. Biro Antonov melakukan ribuan jam pengujian di terowongan angin untuk menciptakan desain sayap yang efisien meski memiliki ukuran yang masif.

Nama “Ruslan” sendiri diambil dari tokoh pahlawan dalam cerita rakyat Slavia dan puisi klasik karya Alexander Pushkin yang berjudul “Ruslan and Ludmila”. Sosok Ruslan digambarkan sebagai ksatria perkasa yang memiliki kekuatan luar biasa dan keberanian yang tiada banding—sebuah metafora yang sangat pas untuk pesawat yang mampu mengangkat beban yang sebelumnya dianggap mustahil untuk bisa mengudara.
An-124 Ruslan adalah keajaiban rekayasa yang melampaui zamannya. Pesawat ini memiliki bentang sayap hampir 73 meter dan ditenagai oleh empat mesin turbofan Lotarev D-18T yang menghasilkan gaya dorong raksasa. Namun, keunggulan utamanya terletak pada fleksibilitas sistem pemuatan barangnya. Ruslan memiliki dua pintu kargo raksasa: satu di bagian hidung yang bisa diangkat ke atas (visor nose) dan satu lagi di bagian ekor yang dilengkapi dengan rampa pemuatan.
Antonov An-124, Tak Terlepaskan dari Eksistensi Armada Sukhoi Su-27/Su-30 TNI AU
Salah satu fitur paling ikonik adalah sistem roda pendaratan yang terdiri dari 24 roda. Pesawat ini memiliki kemampuan unik untuk “berlutut” (kneeling system), di mana bagian depan pesawat dapat diturunkan sehingga rampa hidung menyentuh tanah dengan sudut yang sangat landai. Hal ini memungkinkan kendaraan berat untuk langsung masuk ke perut pesawat tanpa bantuan alat pengangkat tambahan. Dengan kapasitas angkut mencapai 150 ton, ia tetap menjadi pilihan utama untuk logistik skala global.
Sejak mulai diproduksi secara massal, tercatat sekitar 55 unit An-124 telah diproduksi di fasilitas manufaktur di Kyiv dan Ulyanovsk. Meskipun Uni Soviet telah runtuh, Ruslan tetap menjadi primadona di pasar kargo internasional karena kemampuannya mengangkut muatan unik, mulai dari turbin pembangkit listrik, lokomotif, hingga helikopter tempur.
Saingi An-124 Ruslan: Cina Obsesi Kembangkan Pesawat Angkut Berat dengan Desain Blended Wing Body
Saat ini, operator utama pesawat ini terbagi dalam dua sektor. Angkatan Udara Rusia (VKS) mengoperasikan unit terbanyak untuk keperluan strategis. Sementara di sektor sipil, Antonov Airlines (Ukraina) dan Volga-Dnepr (Rusia) menjadi pemain utama yang menyewakan “jasa otot” Ruslan ke seluruh penjuru bumi, termasuk sering kali disewa oleh negara-negara NATO dan perusahaan minyak internasional untuk misi darurat.
Pasca hancurnya An-225 Mriya dalam pertempuran di Bandara Hostomel pada Februari 2022, tanggung jawab sebagai tulang punggung angkutan udara terberat di dunia kini sepenuhnya jatuh ke pundak An-124 Ruslan. Meskipun usianya sudah menginjak 43 tahun, belum ada satu pun pesawat modern yang mampu menandingi kombinasi antara kapasitas beban, kemudahan pemuatan, dan rekam jejak operasional yang dimiliki Ruslan.
Hingga hari ini, setiap kali raksasa berumur 43 tahun ini mendarat di bandara mana pun, dan selalu menjadi pusat perhatian. An-124 adalah bukti hidup bahwa visi tim Antonov di malam Natal tahun 1982 adalah sebuah mahakarya penerbangan yang tak lekang oleh waktu dan tetap tak tergantikan. (Gilang Perdana)
Tragis: An-22 Antei, Pesawat Angkut Turboprop Terbesar dan ‘Terakhir’ di Dunia Hancur di Udara


