Swedia Umumkan Pesanan Amunisi Artileri Terbesar Sejak Perang Dingin, Diduga Mencapai 60.000 Peluru Kaliber 155mm

Swedia membuat gebrakan penting pasca konflik Rusia dan Ukraina, bekas negara netral itu belum lama ini mengumumkan pengadaan amunisi artileri terbesar sejak perang dingin. Persisnya, Swedia telah memesan amunisi artileri 155 mm yang disebut terbesar sejak tahun 1980-an. Namun, volume pengiriman aktual mungkin jauh lebih kecil karena tingginya biaya amunisi saat ini.
Seperti dikutip dari media Swedia, Dagens Industri, Administrasi Materiel Pertahanan Swedia atau Swedish Defence Materiel Administration (FMV) menandatangani dua perjanjian multi-years dengan perusahaan Norwegia-Finlandia, Nammo, dan perusahaan Jerman-Afrika Selatan, Rheinmetall Denel Munition, untuk penyediaan amunisi 155 mm dan muatan propelannya.
Nilai total kedua kontrak mencapai hampir setengah miliar dolar (sekitar 5 miliar SEK), menjadikannya pesanan terbesar dari jenisnya sejak tahun 1980-an.
“Ini adalah pengadaan amunisi artileri terbesar dalam lebih dari 40 tahun,” ujar Menteri Pertahanan Swedia Pål Jonson, seraya mencatat bahwa perang Rusia-Ukraina telah menyoroti tingginya tingkat konsumsi amunisi artileri.
Pengiriman dari Rheinmetall Denel Munition, yang meliputi peluru artileri dan muatan propelan, akan dimulai tahun ini dan berlanjut hingga 2027. Sementara, pengiriman Nammo akan dimulai pada tahun 2028, dengan amunisi HE-FRAG 155 mm dengan jangkauan maksimum hingga 40 kilometer.
Mengenai biaya peluru, produksi amunisi yang dikontrak dari Nammo kemungkinan besar akan dilakukan di fasilitas perusahaan di Swedia di Karlskoga. Awal tahun lalu, pabrik tersebut beralih ke jadwal kerja 24/7 penuh untuk memenuhi peningkatan permintaan, termasuk memenuhi pesanan untuk Ukraina.
Rheinmetall Bangun Joint Venture di Ukraina, Produksi 100 Ribu Amunisi 155mm Per Tahun
Wakil Presiden Nammo, Björn Andersson, menjelaskan bahwa meskipun peluru diproduksi di Swedia, proses pembuatannya mencakup beberapa negara, seperti selongsong logam dibuat di Norwegia dan Finlandia, sementara beberapa jenis bahan peledak dipasok dari Polandia.
Sementara itu, FMV Swedia memperkirakan biaya amunisi 155 mm dengan muatan propelan dan (fuse) sekering sebesar $8.000 per unit. Perkiraan harga peluru tersebut terhadap total nilai kontrak yang diumumkan, dan diperkirakan jumlahnya mencapai 60.000 peluru (proyektil). Sebagai perbandingan, jumlah ini kira-kira setara dengan pengeluaran bulanan unit artileri Ukraina pada tahun 2024.
Dalam Konteks artileri, amunisi artileri mencakup satu set lengkap, yaitu proyektil/peluru (shell), propelan (biasanya bubuk mesiu dalam kartrid atau kantong), fuse (sekering waktu atau sentuh) dan kadang termasuk sabuk tembaga (untuk rifling).
Sementara peluru artileri (shell) adalah bagian dari amunisi, yakni proyektil yang melesat ke target, bisa berupa High Explosive (HE) – meledak saat mengenai sasaran, Armor Piercing (AP) – menembus pelindung, atau smoke, flare dan illumination. (Gilang Perdana)
Related Posts
-
[Video] Lagi Parkir di Apron, Sukhoi Su-25 Lepaskan Rudal di Pangkalan Udara
9 Comments | Apr 21, 2020 -
Drone Copter Airbus VSR700 AL Perancis Sukses Uji Coba Terbang di Atas Lautan
No Comments | Feb 4, 2023 -
Ada Teknologi Saab di Jet Tempur Tejas
36 Comments | Feb 22, 2017 -
Bukan 36, Indonesia Akhirnya Pesan 24 Unit Jet Tempur Boeing F-15EX (Masih Menanti Kontrak Efektif)
25 Comments | Aug 22, 2023



1 peluru $8000, berarti 1 x dung = 5 nmax turbo,
60.000 x dung = 300rb nmax turbo😁
min, ada berita ri kerjasama dengan brazil buat kalsel dan rudal akhir akhir ini, itu beneran apa borongan?